Pindad Bukukan Kontrak Rp3,04 Triliun

Pindad Bukukan Kontrak Rp3,04 Triliun
INILAH, Bandung - PT Pindad terus mengupayakan peningkatan kapabilitas dan kapasitas produksinya. Saat ini, Pindad menandatangani kontrak bersama dengan Kementerian Pertahanan untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan strategis (alutsista) senilai US$217 juta atau setara Rp3,04 triliun.
 
Direktur Bisnis Produk Hankam Pindad Widjajanto mengatakan, untuk kontrak tersebut pihaknya akan menyelesaikan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Dalam kontrak bersama itu, nilai terbesar yakni pengadaan produk tank medium Harimau dan 8x8 Kobra.
 
“Kemenhan dan Pindad membukukan kontrak bersama untuk beberapa produk. Paling besar untuk dua produk tank Harimau senilai US$135 juta dan 8x8 Kobra senilai US$82 juta. Totalnya US$217 juta,” kata Widjajanto usai penandatanganan kontrak pengadaan alutsista dan konstruksi Kementerian Pertahanan di Pindad, Jumat (12/4/2019).
 
Menurutnya, dengan nilai kontrak tersebut estimasi produk yang dibuat sekitar 18-20 unit. Namun, jumlah itu masih dalam penggodokan Kementerian Pertahanan. Sebab, semakin banyak fitur yang ingin disematkan di kendaraan tempur itu berdampak pada ongkos produksi. 
 
Untuk pembuatan produk kendaran tempur itu, melalui mekanisme penanaman modal nasional (PMN) Pindad mengalokasikan dukungan untuk membeli mesin gentry milling. Investasi mesin besar untuk membuat kubah tank itu untuk pengembangan mesin kendaraan tempur dan senjata. Saat ini, mesin tersebut dipergunakan untuk pembuatan turet Badak dan Harimau.
 
Dia menjelaskan, selain untuk memenuhi kebutuhan alutsista domestik pihaknya pun saat ini mengikuti proses tender untuk menyediakan tank Harimau di dua negara di benua Asia. Yakni, satu negara di ASEAN dan satu negara di kawasan Asia Selatan. 
 
“Untuk order luar negeri, kami sedang ikut tender tank Harimau di salah satu negara ASEAN  sebanyak 44 unit dan satu negara di Asia selatan sebanyak 120 unit,” sebutnya.
 
Selain menandatangi kontrak pengadaan alutsista, Pindad pun membukukan kontrak pengadaan konstruksi seniali US$1,4 miliar. Penandatanganan 22 kontrak untuk pengadaan alutsista dan konstruksi itu disaksikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Defense Acquisition Program Administration  Korea Selatan Wang Jong Hong. 
 
Sementara itu, Ryamizard menyebutkan kontrak tersebut merupakan wujud dari pemerintah untuk membangun kekuatan pertahanan yang tangguh dan kemandirian alutsista melalui partisipasi aktif industri pertahanan dalam negeri.
 
Menurutnya, partisipasi industri pertahanan dalam negeri itu untuk menguatkan persepsi. Saat ini, Indonesia diakuinya berada di peringkat sepuluh besar terkuat di dunia.
 
“Meningkatnya industri pertahanan dan kemandirian alutsista itu mampu mendorong perekonomian suatu negara. Kapabilitas daa kapasitas industri pertahanan itu sebagai ciri negara ekonomi maju,” tegasnya.
 
Ryamizard menyebutkan, hingga kini ancaman terhadap negara masih selalu ada. Selain bencana alam, maraknya aksi terorisme sebagai ancaman pun harus direspons dengan kekuatan personel dan ketersediaan alutsista.
 
Untuk itu, dia mengajak badan usaha milik negara Industri Strategis (BUMNIS) dan badan usaha milik swasta (BUMS) untuk terus melakukan inovasi untuk kemajuan negeri.
 
“Inovasi dan terobosa itu dibutuhkan untuk menghadapi tantangan global yang eksisting. Mereka harus mendukung kemandirian bangsa. Diharapkan, produsen alutsista kita dikenal luas pasar mancanegar,” ucapnya.