Habis Lebaran, Sekolah Ibu Bergulir Kembali

Habis Lebaran, Sekolah Ibu Bergulir Kembali
Sekolah Ibu terbukti membawa manfaat. Angka perceraian di Kota Hujan kini berkurang.
INILAH, Bogor - Sekolah Ibu terbukti membawa manfaat. Angka perceraian di Kota Hujan kini berkurang.  Habis Lebaran, sekolah khusus perempuan itu bergulir lagi.
 
Memulai program Kota Bogor menuju kota ramah keluarga, Sekolah Ibu yang digadang-gadang berhasil mengurangi angka perceraian di Kota Bogor akan kembali digelar usai hari raya Idul Fitri 2019. Sekolah ini akan digelar di setiap kelurahan wilayah Kota Bogor. 
 
Saat ini berbagai persiapan juga telah dilakukan Tim Penggerak PKK Kota Bogor. Salah satunya dengan menggelar peningkatan kapasitas pengajar Sekolah Ibu.
 
Plh Wali Kota Bogor, Ade Syarif Hidayat mengatakan, program Sekolah Ibu sebagai upaya membangun generasi hebat Kota Bogor. Mengingat Kota Bogor mempunyai mimpi menjadi Kota Ramah Keluarga. 
 
“Meskipun Sekolah Ibu merupakan program sederhana. hasil dan maknanya luar biasa,” ungkapnya di Bogor, Minggu (14/4).
 
Ade sendiri percaya, masyarakat madani berasal dari keluarga yang baik dan keluarga baik diciptakan melalui peran seorang ibu.
 
“Ibu itu bisa jadi dokter, bisa jadi ahli gizi, bisa jadi bendahara, dan lainnya. Tanpa peran ibu, bisa dibayangkan bagaimana keluarga itu mungkin tidak akan baik. Maka dari itu penting kembali digelar Sekolah Ibu,” tambahnya.
 
Untuk meningkatkan kapasitas pengajar Sekolah Ibu, Pemkot Bogor menggelar peningkatan kapasitas pengajar Sekolah Ibu di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Sabtu (13/4). Puluhan pengajar Sekolah Ibu yang hadir dibimbing psikolog yang menjadi narasumber yaitu Adriana S. Ginanjar.
 
Inisiator Sekolah Ibu, Yane Ardian menuturkan, dirinya sengaja mengundang Adriana yang merupakan psikolog yang bagus, agar para pengajar di Sekolah Ibu semakin meningkat kapasitasnya.
 
“Karena kekuatan Sekolah Ibu ada pada para pengajarnya. Jika pengajarnya hebat, Sekolah Ibu juga akan hebat,” ungkap Yane yang juga Ketua TP PKK Kota Bogor.
 
Yane menjelaskan, mengajar di Sekolah Ibu bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, selain harus memberikan sekitar 30 materi di hadapan peserta juga menjadi tempat curhat peserta.
 
“Padahal bisa saja pengajar juga sedang dalam kondisi galau tetapi mereka harus berusaha untuk profesional, karena peserta menganggap pengajarlah yang paling tahu,” jelasnya.
 
Yane menambahkan, dalam kegiatan peningkatan kapasitas pengajar Sekolah Ibu dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk lebih mematangkan materi terkait keterampilan dasar konseling. 
 
Materi ini diberikan tidak terlepas dari kerasnya kehidupan rumah tangga bagi sebagian orang. Sehingga ilmu konseling ini sangat penting dimiliki para pengajar di Sekolah Ibu.
 
“Besar harapan saya jika pengajar dapat WhatsApp dari peserta yang ingin curhat bisa ditanggapi. Dan Semoga ibu-ibu semua selalu diberikan kekuatan,” pungkasnya.