Empat Siswa Keperawatan Tasikmalaya Dapat Beasiswa ke Jepang

Empat Siswa Keperawatan Tasikmalaya Dapat Beasiswa ke Jepang
INILAH, Bandung – Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya bersama Sentra Global Edukasi (SGE) Indonesia memberangkatkan 4 peserta program Work In Nippon (WIN) Angkatan 1 bidang keperawatan ke Jepang pada Selasa (9/4/2019) lalu.
 
CEO dan Founder SGE Indonesia Rudi Subiyanto mengatakan, WIN merupakan program beasiswa pendidikan khusus bidang keperawatan hasil kerja sama Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya, Sentra Global Edukasi (SGE) Indonesia, Okayama Institutes of Languages dan Kounan Gakuen, Jepang. Program ini diperuntukkan khusus bagi lulusan tenaga perawat di Kota Tasikmalaya.
 
“Program ditanggung oleh pihak institusi di Jepang. Program ini terobosan dalam mengirimkan perawat terampil. Soalnya di sana perawat harus mempunya skill bahasa, metal, dan manner yang baik,” kata Rudi kepada INILAH, Senin (15/4/2019).
 
Keempat peserta program WIN angkatan 1 adalah Jimi Adrian dan M Sopyan Darul Falah dari Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, serta Ade Rindi Nur Maya dan Fanzi Sukma Kurnia dari SMK Duta Pratama Indonesia.
 
Rudi mengatakan, program pendidikan careworker ke Jepang ini memiliki prospek sangat baik bagi putra putri daerah Kota Tasikmalaya serta kota-kota lainnya dalam  membentuk sikap dan karakter lebih disiplin, mandiri, serta menyerap para lulusan tenaga perawat menjadi tenaga terampil yang dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit lansia di Jepang. Melalui program WIN, pihaknya optimistis peserta akan menjadi calon tenaga keperawatan yang cerdas, mandiri dan siap bersaing di dunia  internasional.
 
“Angkatan pertama sudah di Jepang. Angkatan kedua akan diberangkatkan Oktober. Sudah lulus seleksi dan masuk tahap latihan bahasa di SGE ada 30 orang. Kita berharap partisipasi Pemprov Jabar dan Pemkot Tasikmalaya untuk memberikan perhatian lebih karena program ini solusi dalam pengiriman tenaga terampil ke Jepang,” jelasnya.
 
Rudi mengatakan, SGE sudah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan salah satu institusi pendidikan keperawatan di Okayama dan Kochi yang memiliki 71 rumah panti jompo terbesar. Saat ini kebutuhan perawat bisa mencapai 500 orang dengan jumlah tenaga terampil sangat terbatas.
 
“Ini bukan tenaga magang, tapi pendidikan dan pekerja professional,” kata Rudi.
 
Direktur SGE Rizka Sungkar mengatakan, 4 peserta yang berangkat telah melewati proses seleksi yang cukup ketat dan dilakukan tim SGE Indonesia dan pihak Jepang. Di sana mereka akan belajar selama 3 tahun, untuk mengembangkan diri dan meningkatkan tingkat pendidikan sebagai tenaga perawat profesional dimulai dari pendidikan bahasa Jepang, manners ,dan keahliannya sebelum di tempatkan di beberapa rumah sakit Lansia di Jepang sesuai standardisasi pemerintah Jepang.
 
“Selama di Jepang, selama setahun siswa belajar bahasa Jepang. Dua tahun melanjutkan sekolah keperawatan. Lalu ditempatkan di tempat panti jompo terkemuka di Kota Kochi, Jepang,” katanya.