Sayati Hilir Dikukuhkan sebagai Kampung Boneka di Kabupaten Bandung

Sayati Hilir Dikukuhkan sebagai Kampung Boneka di Kabupaten Bandung

Senin, 10 Desember 2018 | 17:27 WIB
. Dani Rahmat Nugraha
INILAH, Bandung - Kampung Sayati Hilir Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung diresmikan sebagai Kampung Boneka.

Peresmian oleh Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan ini, semakin mengukuhkan kampung tersebut sebagai kampung perajin boneka terbesar di Kabupaten Bandung dan menjadi bagian dari program Bandung 1.000 Kampung yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Bandung.

Peresmian Kampung Sayati Hilir sebagai Kampung Boneka dilaksanakan oleh Gun Gun Gunawan bertepatan dengan perhelatan Sayati Festival yang digelar pada 16-18 November 2018. Pengukuhan ini dianggap perlu, karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sana perajin boneka. Tentunya, hal itu menjadi potensi yang harus bisa terus dikembangkan dan dipromosikan ke depannya.

"Ini jadi kepedulian dan perhatian juga dari Desa Sayati Hilir, dalam mengukung program Bandung 1.000 Kampung. Pada umumnya memang di salah satu RW di kampung ini, usaha di bidang kerajinan pembuatan boneka," kata Gun Gun didampingi Kepala Desa Sayati Sulaeman Iskandar di sela-sela acara Sayati Festival hari terakhir, Minggu (18/11).

Gun Gun menjelaskan, keberadaan para pengrajin boneka di Kampung Sayati Hilir ini memang telah ada sejak dulu. Namun harus diakui selama ini belum terkoordinir dengan baik oleh pemerintah. Padahal memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dan sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan kedepannya.

"Promosi harus dilakukan tidak hanya dilingkup lokal saja, tapi harus nasional bahkan kalau perlu ke luar negeri. Tentunya daya dukung ke depannya, baik dari Pemerintah Kecamatan maupun Kabupaten harus memberikan support" ujarnya.

Dikatakan Gun Gun, perhelatan Sayati Festival ini diharapkan bisa merangsang pertumbuhan ekonomi dengan mendatangkan para wisatawan yang berkunjung ke Kampung Boneka. Sehingga diharapkan, ada festival yang digelar secara berkala setiap tahunnya.

"Harus jadi kalender wisata, sehingga masyarakat akan tahu setiap bulan ini ada kegiatan ini. Dan yang disajikannya tidak hanya kerajinan boneka saja, tapi seni dan budayanya, kuliner, dan yang lainnya," katanya.

Disinggung terkait dukungan Pemerintah Daerah kepada para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), lanjut dia, hal tersebut sudah menjadi kesepakatan dan komitmen dari pihaknya. Bahkan tidak hanya tanggung jawab Pemerintah Kecamatan saja, tapi melibatkan semua Dinas.

"Semua harus terjun, baik dari pembinaannya, maupun infrastrukturnya juga. Apalagi ini kan tujuannya mendorong program Bandung 1.000 Kampung," ujarnya.

Gun Gun menambahkan, terkait bantuan permodolan kepada para pelaku UKM ini, pihaknya mengutamakan melakukan seleksi terhadap UKM yang selama ini sudah berjalan dengan baik. "Kalau yang baru mulai, lebih ke pendampingan atau pembinaan. 

Hasil dari evaluasi, yang baru bukan tidak diperhatikan, tapi mental atau jejaring usahanya harus lebih didampingi. Kalau sudah mapan baru kita suntik dengan modal," katanya.

Salah seorang perajin boneka di Kecamatan Margahayu Ikin Sumpena (43) mengaku gembira dengan pengukuhan daerahnya sebagai Kampung Boneka. Karena memang sebagaian besar mata pencaharian warga di tempat itu bergantung pada pembuatan beraneka macam boneka. Berbagai jenis boneka hasil kreasi mereka pun telah melanganglang ke seantero Nusantara. Selain membuat boneka untuk dijual umum, para perajin di kampungnya pun biasa mengerjakan boneka pesanan untuk maskot berbagai perhelatan baik ditingkat nasional maupun internasional. Seperti pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jabar 2016, PON Riau, Sea Games, BCA Open dan berbagai event lainnya.

"Kalau di kampung ini, khususnya RT 1 memang semuanya perajin boneka. Bermacam-macam boneka bisa kami buat di sini, tapi kalau saya sehari-hari juga lebih banyak mengerjakan boneka untuk maskot berbagai event. Alhamdulilah setiap hari selalu saja ada pesanan, dan ini memang pesanan yang banyak dan lumayan menguntungkan," ujarnya.

Ikin menuturkan, cikal bakal kampungnya menjadi sentra pembuatan boneka itu, dimulai sekitar tahun 90 an lalu. Orang yang pertama kali membuat dan mengajarkan warga lainnya adalah Elan. Elan yang masih kerabatnya itu, mengajarkan keterampilan membuat boneka kepada warga sekitar. Akhirnya, lambat laun Kampung Cedok menjelma menjadi sentra pembuatan boneka terbesar di Kabupaten Bandung.

"Awal mulanya yang buat boneka di sini bapak Elan. Saya juga sebelum buka usaha sendiri bekerja dan belajar sama beliau," katanya.

Dani Rahmat N. / jul

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 00:30 WIB

    Pemkab Bandung Sambut Baik Pembentukan Samsat KBU

  • Rabu, 23 Januari 2019 | 20:15 WIB

    Bandung Bebas Sampah 2020

  • Jumat, 18 Januari 2019 | 14:34 WIB

    Dadang Naser dan Anang Dapat Anugerah Green Leadership

  • Selasa, 8 Januari 2019 | 21:38 WIB

    Pemkab Bandung Fasilitasi Layanan Kesehatan Ilham

  • Rabu, 2 Januari 2019 | 11:06 WIB

    PLH Sekda Kabupaten Bandung Dilantik Bupati

  • Jumat, 21 Desember 2018 | 21:47 WIB

    Mall Pelayanan Publik Hadir di Kabupaten Bandung

  • Kamis, 20 Desember 2018 | 17:37 WIB

    Jelang Natal-Tahun Baru, Pemkab Bandung Lakukan OP