Desa Puntang Percontohan Desa Digital

Desa Puntang Percontohan Desa Digital

Selasa, 11 Desember 2018 | 10:16 WIB
. Erika Lia Lestari
INILAH, Indramayu- Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, meluncurkan program Desa Digital di Desa Puntang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Senin (10/12). Total, 5.300 desa se-Jabar ditarget menjadi Desa Digital.

Desa digital merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa. Tak hanya pengembangannya, teknologi digital dan internet akan digunakan pula dalam pemasaran, percepatan akses, hingga pelayanan informasi di desa bersangkutan.

"Ini peristiwa bersejarah. Kita tunjukkan pada dunia, ada desa di Indramayu yang menjadi percontohan nasional tentang transformasi dari manual ke digital," beber kepala daerah yang akrab disapa Emil itu.

Desa digital memungkinkan seluruh pelayanan publik di desa tersebut bersifat digitalisasi, terkoneksi dengan jaringan nirkabel, dan memiliki command center. Desa bersangkutan pun akan memiliki akun media sosial untuk promosi dan berita, sistem e-commerce, serta aplikasi yang sesuai dengan karakter maupun potensi ekonominya.

Emil meyakinkan, visi digital inklusif dimulai demi mengurangi ketimpangan teknologi. Desa Puntang yang berekonomi utama di bidang perikanan menjadi pilot project program ini dengan penerapan aplikasi e-Fishery.

"E-Fishery itu metode pemberian pakan ikan lele yang diatur waktu dan jumlahnya secara ilmiah melalui smartphone," terang Emil.

Budidaya perikanan yang banyak dikembangkan para petambak di Desa Puntang berupa ikan lele. Panen ikan lele selama ini dilakukan petambak dengan budidaya manual hanya 3-4 kali/tahun.

Melalui e-Fishery, panen dijanjikan meningkat menjadi enam kali per tahun. Dengan begitu, lanjut Emil, perputaran penjualan ikan lele di Indramayu yang biasanya Rp1 triliun/tahun, bisa naik dua kali lipat menjadi Rp2 triliun/tahun.

Emil pun memastikan, perekonomian desa dan Jabar pada umumnya akan meningkat bila konsep digital diterapkan di seluruh bidang ekonomi desa. Dengan begitu, warga desa tak perlu datang ke kota dan cukup tinggal di desa.

Pemerintah Provinsi Jabar sendiri menggandeng banyak pihak dalam pelaksanaan program ini. Pihak-pihak yang kerjasama pemprov di antaranya PT Telkomsel untuk penyediaan infrastruktur dan jaringan, aplikasi dari e-Fishery, PT Japfa untuk penyediaan pakan, Bank BJB untuk bantuan modal, dan Telkom University yang akan memberikan pelatihan kepada warga.

"Kombinasi ini yang memastikan suatu hari mereka akan menjadi mandiri, mengerti, dan jadi desa percontohan. Kalau Desa puntang ini bisa belajar dalam waktu cepat, ini tanda seluruh desa di Jabar juga bisa," tegasnya.

Selain meluncurkan Desa Digital, Emil meresmikan pula penggunaan saung teknologi perikanan yang berfungsi sebagai etalase budidaya lele, learning center, dan peningkatan nilai produk.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Indramayu, Supendi menjelaskan, setidaknya terdapat tiga sentra petambak lele di Kabupaten Indramayu, masing-masing di Kecamatan Losarang, Kandanghaur, dan Sindang. Produksi ikan lele di Indramayu pada 2018 mencapai lebih dari 78 ribu ton, senilai sekitar Rp1 triliun atau sepertiga dari jumlah APBD Indramayu.

"Semoga para petambak bisa memanfaatkan teknologi ini," harap Supendi.

Sementara itu, CEO e-Fishery, Gibran menjelaskan, e-Fishery merupakan aplikasi untuk memberi pakan ikan secara otomatis yang dikontrol melalui smartphone. Hal itu bisa membantu pemberian pakan kepada ikan dengan lebih banyak dan lebih sering.

Aplikasi itu juga bisa digunakan untuk berbagai jenis ikan lain, seperti ikan patin, ikan mas, ikan nila, juga udang. E-Fishery dijaminnya dapat meningkatkan hasil panen ikan menjadi dua kali lipat per tahun.

"Melalui e-Fishery, bisa diatur berapa kali dan berapa banyak pemberian pakan kepada ikan," ujarnya.

Pengaturan itu membuat pakan akan keluar sendiri dari tempatnya. Aplikasi itu juga akan melaporkan ketika pemberian pakan kepada ikan telah selesai. Adapula sensor yang menghentikan pemberian pakan bila ikan sudah kenyang.

Aplikasi ini, sambungnya, membuat petambak tak perlu lagi datang ke tambak untuk memberi pakan kepada ikan-ikannya. Di mana pun keberadaannya, petambak bersangkutan cukup melakukan pekerjaan iti melalui smartphone.

Untuk menggunakan alat tersebut, petambak cukup menyewa seharga Rp10 ribu/hari. Petambak pun harus memiliki smartphone yang tersambung dengan internet.

Dia menyebutkan, sejauh ini ribuan alat itu sudah tersebar di 16 provinsi se-Indonesia sejak 2013. Hanya, yang kolaborasi satu desa secara intensif baru di Desa Puntang.

"Uji cobanya sudah dua tahun lalu. Dari awalnya 1-2 kolam, sekarang sudah ratusan kolam di Indramayu, bukan hanya di Kecamatan Losarang. Dalam waktu dua bulan ke depan, ada 250 petambak yang mau dilibatkan," tutur Gibran.

/ jek

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 16:13 WIB

    Inilah Program 100 Hari Kerja Emil-Uu

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 15:23 WIB

    Ngabret Kejar Target

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 14:35 WIB

    Manjakan Wisatawan di Jabar

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 14:27 WIB

    Kuatkan Pondasi Generasi Milenial

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 10:16 WIB

    Desa Puntang Percontohan Desa Digital