70 Persen Produk UMKM Purwakarta Belum Kantongi Sertifikat BPOM

70 Persen Produk UMKM Purwakarta Belum Kantongi Sertifikat BPOM

Rabu, 9 Januari 2019 | 16:10 WIB
INILAH, Purwakarta – Geliat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Purwakarta menunjukan tren positif. Hal tersebut terlihat dari penambahan pelaku UMKM baru setiap tahun.

Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta mencatat, sampai saat ini ada 8.000 pelaku UMKM tersebar di 17 kecamatan. Mayoritas UMKM ini bergerak di sektor makanan dan minuman.

Sayangnya, hanya 30 persen pelaku UMKM mengantongi sertifikat BPOM. Kondisi ini terjadi akibat pelaku UMKM belum siap melakukan sertifikasi produk ke badan pengawasan tersebut.

Kepala Dinas UKM Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta Entis Sutisna tak menampik jika masih banyak produk UMKM yang belum bersertifikat BPOM.

"Mungkin para pelaku UMKM masih belum siap menyertifikatkan produknya," ujar Entis kepada INILAH, Rabu (9/1/2019).

Entis mengatakan, instansinya maupun provinsi terus berupaya menggenjot pelaku UMKM segera menyertifikatkan produknya ke lembaga pengawasan obat dan makanan.

"Sebenarnya, kita di daerah serta provinsi siap memfasilitasinya. Tapi hal itu tergantung pada kesiapan pelaku UMKM," kata dia. 

Entis menjelaskan, mayoritas pelaku UMKM merupakan produk makanan. Salah satu unggulannya adalah camilan Simping. Selain makanan, ada juga produk hasil kerajinan kriya, seperti gerabah dan keramik khas Plered.

Saat ini produk UMKM jenis makakanan sudah sangat bervariasi. Salah satu yang terbaru, yaitu produk kerajinan cake. Dari sisi kualitas maupun kuantitas produk UMKM ini harus terus ditingkatkan. Dari sisi kualitas, salah satu yang harus diperhatikan yakni mengenai keamanan dari produk itu sendiri. 

Salah satu syaratnya, yaitu harus melampirkan tanggal kedaluarsa dan PIRT yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan. Untuk masa expired, masih banyak produk yang tidak bisa tahan lama. Maksimal produk makanan itu bisa bertahan dalam kurun waktu sebulan.

"Kondisi ini harus diperbaiki. Selain harus mencari formula yang ramah lingkungan dan alami, pelaku UMKM juga harus memperhatikan produknya supaya bisa bertahan dalam kurun waktu, minimalnya dua bulan atau lebih," tambah dia.

Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Mengingat saat ini produk UMKM yang dihasilkan oleh pelaku usaha itu sudah merambah galeri ataupun outlet oleh-oleh. Para pelaku UMKM ini bisa memperhatikan produknya dari sisi kualitas maupun kuantitas. 

Pihaknya akan berupaya untuk terus mendorong dan mengedukasi para pelaku UMKM ini. Ada tiga syarat utama yang harus diperhatikan perajin ini, yaiut kualitas produk, kuantitas produksi, dan kemasan. 

Dari kualitas produk ini, yang harus diperhatikan tentu soal keamanan produk itu. Hal itu, biasanya terlihat dari PIRT, komposisi, label halal serta label BPOM. Dengan begitu, sisi kualitas ini sangatlah penting. Karena itu, sudah seharusnya pelaku UMKM meningkatkan kesadaran akan pentingnya sertifikasi tersebut.

"Tahun kemarin saja, ada 20 pelaku UMKM yang mendapatkan sertifikat dari BPOM. Jadi, jangan takut dan khawatir. Karena kita siap membantu," pungkasnya.

Asep Mulyana / dey

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Sabtu, 23 Maret 2019 | 21:30 WIB

    Duh, Kabupaten Sukabumi Kekurangan 12 Ribu Guru

  • Sabtu, 23 Maret 2019 | 20:30 WIB

    Guru dan Disdik Didorong Kerja Lebih Giat

  • Sabtu, 23 Maret 2019 | 17:30 WIB

    Sip, Jalur Utama Cianjur Selatan Sudah Bisa Dilalui

  • Sabtu, 23 Maret 2019 | 05:00 WIB

    KPU Garut Tetapkan 158 Lokasi Kampanye Terbuka