'Matahari Kecil' di Bandung itu Mengubah Karang Taruna Jadi Sekolah

'Matahari Kecil' di Bandung itu Mengubah Karang Taruna Jadi Sekolah

Sabtu, 12 Januari 2019 | 13:59 WIB
Para pendiri komunitas Matahari Kecil saat mengunjungi Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana. Humas Pemkot Bandung

INILAH, Bandung - Komunitas pendidikan asal Kota Bandung bernama Matahari Kecil yang didirikan sejak 2015 berhasil mendirikan Sekolah Menengah Pertama Terbuka.

"Komunitas ini berawal dari Karang Taruna Kompleks Gading Regency Seokarno Hatta Kota Bandung," kata pendiri Matahari Kecil, Yasser Muhammad Syaiful (24), di Kota Bandung, Sabtu.

Saat ini, SMP terbuka yang didirikan Matahari Kecil memiliki 50 murid yang terdiri atas kelas VII sampai IX. Mereka yang menjalani pendidikan di sekolah itu tidak dipungut biaya.

Pembentukan SMP Terbuka Matahari Kecil, kata Yasser, sebagai wujud keprihatinan terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berkeliaran di jalan saat anak-anak lainnya sedang berada pada jam sekolah.

"Jadi waktu itu Karang Taruna Gading Regency menemukan tiga anak yang pendidikannya terhenti di SD. Awalnya mereka berniat menyalurkan ketiga anak tersebut ke SMP Terbuka Firdaus yang berlokasi di daerah Arcamanik, Bandung," katanya.

Akan tetapi, karena kuota murid di SD tersebut penuh, Yasser dan kawan-kawan Karang Taruna Gading Regencu membuka sekolah terbuka sendiri di Masjid Gading Regency.

Saat itu, tim pengajar sekitar 20 orang berasal dari anggota Karang Taruna dan para penghuni kompleks perumahan itu.

Seiring berjalannya waktu, Yasser memutuskan membuat struktur organisasi mandiri Matahari Kecil yang kemudian melahirkan tim terbagi menjadi enam divisi, yaitu "sociopreneur", "secretary", "creative project", "human resource", "public relations", dan "documentation".

Belum lama ini, Yasser memutuskan menambah divisi project management karena sekolah terbuka yang semakin luas jangkauannya dan perlu diperhatikan secara khusus.

Sebagai sekolah terbuka, kurikulum SMPT Matahari Kecil menginduk kepada SMPN 8 Bandung, sedangkan murid kelas IX pun mengikuti UASBN dan UNBK di tempat itu, namun seluruh pengajar berasal dari sukarelawan.

Pihak SMPN 8 hanya mengirimkan delegasi untuk memantau kegiatan belajar mengajar. Sebagian buku pelajaran pun didapat dari SMPN 8, sedangkan jumlah terbanyak didapat dari donatur.

"Ada (buku, red.) dari SMPN 8, tapi itu sedikit banget. Ada dari donasi. Ada beli sendiri pakai uang Matahari Kecil. Tapi dari donasi sih paling banyak," kata Yasser.

Kendala Menurut Yasser, tantangan terbesar dihadapi Matahari Kecil adalah membentuk karakter siswa-siswinya.

Ia mengemukakan keterbatasan ekonomi dan lingkungan yang kurang baik membuat para murid tidak mendapatkan pendidikan karakter yang cukup, namun peran pengajar dan sistem yang cukup dapat mengubah karakter para muridnya.

"Waktu awal 13 anak masuk ke SMP kita, itu kacau banget, udah kayak serabutan. Di kelas bajunya keluar, ngomognnya kasar. Tapi setelah enam bulan itu berubah," katanya.

Ia menyebut tahapan itu sebagai hal yang paling sulit. "Nah, sebenernya proses itu yang paling sulit. Pembentukan karakter itu, wah, berdarah-darah deh, kerasa banget," kata Yasser.

Kendala lainnya adalah kurang kooperatif beberapa orang tua murid. Meskipun tak sedikit orang tua mendukung penuh pendidikan anaknya, sebagian di antara mereka terkesan tak acuh terhadap pilihan anaknya untuk melanjutkan pendidikan.

Ia mengatakan pada 2016, tim Matahari Kecil untuk pertama kali mengadakan kunjungan rumah karena menurunnya prestasi belajar murid. Kunjungan itu untuk mencari tahu berbagai kendala yang dialami murid di rumahnya.

"Sebenernya 'based on problem' yang ada sih. Seperti kemarin kita mikir anak-anak merasa nilai turun, dan kita enggak tahu kita kenapa. perasaan pengajar sudah baik. Makanya ada sistem untuk kita coba cari tahu kenapa nih, makanya ada 'home visit', dan itu belum rutin sih," ujar Yasser.

Ia menceritakan salah satu kisah unik saat salah satu siswa bernama Rayhan mendapatkan kesempatan ke Jepang karena juara lomba pidato pada 2017.

Saat mendatangi rumah Rayhan untuk memberi tahu dan meminta izin, kata dia, orang tuanya malah meminta "mentahan". Namun setelah diberi penjelasan, akhirnya Rayhan ke Jepang.

Pimpinan Humas Komunitas Matahari Kecil Layalia Nurul Salma (20) menambahkan nama Matahari Kecil dipilih karena berharap dampak dari pusat tata surya tersebut yang menyinari dan memberikan manfaat besar bagi orang-orang di sekitarnya.

Kata "kecil" pun, katanya, dipilih karena mereka tidak ingin cepat puas dan ingin terus membesar.

"Kita ingin berharap, Matahari Kecil ini akan benar-benar seperti matahari. Mungkin orang-orang enggak bisa lihat, mungkin kita kecil, mungkin kita jauh, tapi semua orang bisa merasakan dampaknya," katanya.

Keinginan memperluas jangkauan Matahari Kecil pun telah dilakukan oleh Yasser.

Sejak 2016, Yasser membuka Matahari Kecil di wilayah Jakarta dan bersama lima orang lainnya memperbaharui Taman Kanak-Kanak yang terbengkalai. Hingga saat ini, sekitar 300 relawan pengajar di sekolah itu.


Antara / bsf

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Selasa, 26 Maret 2019 | 19:15 WIB

    Ayo, Laksanakan UN Itu Harus Jujur

  • Selasa, 26 Maret 2019 | 14:14 WIB

    BKKBN Jabar Komitmen Wujudkan KKBPK

  • Senin, 25 Maret 2019 | 19:15 WIB

    323.454 Siswa SMK Jawa Barat Ikuti UNBK 2019

  • Senin, 25 Maret 2019 | 17:45 WIB

    Hari Ini, Siswa SMK Laksanakan UNBK