Trauma "May" jadi Korban Perkosaan

Trauma "May" jadi Korban Perkosaan

Jumat, 15 Februari 2019 | 00:29 WIB
. Ilustrasi/Net
BAGAIMANA Rasanya menjadi korban perkosaan?. Trauma berkepanjangan serta sikap masyarakat termasuk pemerintah yang belum sepenuhnya memberikan perhatian lebih adalah tantangan besar yang harus dialami Raihaanun.

Menghilang cukup lama dari dunia hingar-bingar, artis cantik Raihaanun tiba-tiba muncul dengan segala tekanan. Trauma berkepanjangan akibat nasib yang menimpanya ternyata sangatlah berat. karena menyandang status sebagai korban perkosaan.

Namun, hal itu tentu bukan dialami artis kelahiran 7 Juni 1988 dalam kehidupan nyata. Tetapi dalam film terbarunya berjudul 27 Steps of May. Ya, film baru peraih Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik ini memang memberikan warna baru bagi Raihaanun. Pasalnya, dalam film terbarunya bintang film Salwaku ini memerankan sebagai sosok yang menjadi korban perkosaan.

Film besutan sutradara Ravi Bharwan mengambil latar cerita dalam persitiwa Mei 1998. 27 Steps of May mengangkat bagaimana seorang gadis berusia 14 tahun May menjadi korban perkosaan empat lelaki tidak dikenal.

Film yang tidak hanya menggambarkan bagaimana beratnya perjuangan Raihaanun dalam menghadapi kenyataan, tetapi juga bapak tercintanya yang diperankan secara apik oleh aktor kawakan Lukman Sardi.  Dalam ceritanya, 27 Steps of May menggambarkan bagaimana trauma yang dialami May pada akhirnya memaksa May keluar dari hingar-bingar dunia luar.

Alur cerita serta pesan moral yang begitu kuat ingin disampaikan dalam film tersebut itu juga yang kemudian menjadikan Raihaanun begitu antusias menjalaninya. Menurutnya, salah satu tantangan besar dalam peran tersebut adalah bagaimana dirinya benar-benar harus menggunakan ekspresi dan gerak tubuh secara detail untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.

"Yang paling susah akting tanpa dialog itu kita tidak punya media untuk bicara, mengeluarkan isi hati, jadi lebih ke details mimik muka, gerak tubuh yang harus saya deliver dengan baik. Kalau enggak, takutnya akan salah tangkap jadi itu hal paling sulit," ungkap Raihaanun saat berbincang dalam pembukaan Plaza Indonesia Film Festival 2019 di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Dikatakan Raihaanun, isunya juga sensitif banget karena berkaitan dengan pemerkosaan. "Saya enggak bisa observasi terlalu banyak karena isunya itu, enggak mungkin saya ngobrol sama orang yang diperkosa," tegasnya.

Dia menambahkan, sebagai pemain dirinya sangat merasa tertantang. Terlebih isu yang diangkatnya sangatlah bagus dan menjadi bagian dari aksi menyuarakan korban perkosaan yang masih dipandang sebelah mata. (*)

Ghiok Riswoto / ghi

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 15:35 WIB

    Generasi Berencana Menuju Indonesia Emas 2045

  • Sabtu, 16 Maret 2019 | 16:45 WIB

    Legislator Terus Dorong Generasi Berencana Berkualitas

  • Jumat, 15 Maret 2019 | 15:36 WIB

    Nikah Muda, Ujung-ujungnya Cerai Cepat

  • Kamis, 14 Maret 2019 | 16:11 WIB

    Remaja di Indonesia Perlu Direncanakan Masa Depannya

  • Rabu, 13 Maret 2019 | 18:45 WIB

    Hati-hati buat Ibu Hamil, Rentan Kena Penyakit Ginjal