Cariu ‘Menjual’ Sawah dan Curug

Cariu ‘Menjual’ Sawah dan Curug

Kamis, 14 Maret 2019 | 13:45 WIB
. Foto: INILAH/Reza Zurifwan
INILAH, Bogor – Bahkan hanya dengan hamparan sawah saja, Cariu bisa jadi objek wisata menawan. Kenapa ini tidak dimanfaatkan maksimal?

Cariu itu wilayah istimewa. Potensinya besar. Curugnya indah. Bentangan sawahnya layak jadi destinasi wisata menawan. Daerah ini juga memiliki potensi galian tambang. Tapi, jika harus memilih, Ade Yasin lebih senang Cariu menjadikan wisata sebagai trademark-nya.

Itu sebabnya, Bupati Bogor Ade Yasin mendorong 10 kepala desa di Kecamatan Cariu mengeksplorasi potensi wisata alam itu. Dia sarangkan agar desa-desa tersebut membentuk Badan Udaha Milik Desa (BUMDes) wisata.

“Ketimbang usaha tambang yang tak jelas dan merusak ekosistem alam, saya lebih setuju jika Kabupaten Bogor, termasuk 10 desa di Kecamatan Cariu , mengeksporasi objek wisata dengan membentuk BUMDes wisata,” ujar Ade Yasin kepada wartawan, Rabu (13/3).

Politisi PPP ini meminta air terjun (curug) dan sawah yang banyak terbentang di Kecamaran Cariu dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan desa.

“Pemerintah desa harus kreatif dalam mengelola objek wisata. Mereka saya minta tak hanya fokus di curug, tetapi juga  pemandangan sawah. Kalau kita tata pemandangan sawah, masyarakat kota pasti senang  berselfie di sawah,” pintanya.

Ade menuturkan dengan dimanfaatkannya sawah menjadi objek wisata, pemerintah desa juga ikut membantu Pemkab Bogor dalam hal penyediaan lahan pertanian (sawah)  abadi.

“Tadi waktu saya berjalan dari Cileungsi arah Cariu, ada pemandangan miris karena ada perumahan berada di pertengahan sawah. Saya mau sawah tidak beralih fungsi. Salah satu caranya dengan menjadikan sawah sebagai objek wisata. Dengan langkah itu petani bisa mendapatkan tambahan pendapatan, tinggal atur saja dari foto selfie di sawah petani dapat berapa,” tutur Ade.

Terpisah, Ketua Asosiasi Desa Wisata Kabupaten Bogor Deni Amar menjelaskan permasalahan pengembangan  desa wisata di Bumi Tegar Beriman adalah insfrastruktur yang buruk atau kurang baik.

“Bukan saja insfrastuktur yang buruk atau kurang baik, kendala lainnya adalah birokrasi pemerintah desa setempat yang banyak belum melek akan manfaat BUMDes wisata,” jelas Deni.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor Rahmad Sudjana mengakui insfrastruktur jalan menuju desa wisata masih kurang baik.

“Kami akui walaupun sumbangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar dari sektor wisata, jalan menuju desa wisata masih kurang mendapat perhatian. Saya optimis dan yakin dengan bergairahnya pelaku industri serta Bupati Bogor Ade Yasin, ke depan hal itu menjadi perhatian serius,” tukas Rahmad.

Reza Zurifwan / dey

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Rabu, 20 Maret 2019 | 13:05 WIB

    Ade Yasin: 2021 Tidak Ada Lagi Sekolah Rusak

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 18:30 WIB

    Setelah Bogor Bisa, Lalu Apa Bima Arya?

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 18:00 WIB

    28 Persen ABPD Pemkab Bogor untuk Pendidikan

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 14:30 WIB

    Ade Yasin Ajak Orang Tua Mulai Periksa HP Anak