Bunga Matahari, Pokok Kemakmuran Spesies

Bunga Matahari, Pokok Kemakmuran Spesies

Senin, 18 Maret 2019 | 00:30 WIB
Bunga Matahari. Istimewa

INILAH, Bandung - Ketua Yayasan Odesa Indonesia Faiz Manshur menyampaikan bahwa bunga matahari itu senjata kemakmuran.

Dikutip dari laman Odesa Indonesia, Minggu (17/3/2019), Faiz mendapat dua sumber pokok kemakmuran spesies, tak terkecuali manusia. Pertama, dari Charles Darwin. Kedua, manual Food Agriculture Organization (FAO).

Dari Darwin sangat inspiratif karena pernah mengatakan, “Banyak tanaman anggrek kita benar-benar memerlukan kunjungan ngengat untuk memindahkan serbuk sari mereka agar terjadi penyerbukan.”

Dia juga mempunyai alasan untuk percaya bahwa lebah besar (humble-bee) sangat diperlukan untuk pembuahan dari bunga-bungaan karena lebah lain tidak mengunjungi bunga ini.

Dari percobaan yang dilakukan, Faiz menemukan bahwa kunjungan lebah, jika tidak sangat diperlukan, setidaknya sangat bermanfaat bagi pembuahan semanggi.

Ada banyak catatan berserakan dari Darwin dalam Buku Origin of Spesies terkait dengan penyerbukan. Darwin memandang bahwa penyerbukan merupakan elemen mendasar keanekaragaman hayati.

Bahkan, secara konkret berani Darwin mengatakan, “…Jadi begitu pentingnya kunjungan lebah ke bunga…,sehingga saya menemukan berdasarkan eksperimen, bahwa kesuburannya sangat berkurang jika kunjungan ini dicegah…”.

Dikatakannya juga, “…hampir tidak mungkin lebah untuk terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, yang saya percaya untuk kepentingan tanaman. Lebih bertindak menyentuh benang sari dari satu bunga dan kemudian menyentuh kepala putik dari bunga lain dengan bulu yang sama untuk memastikan pembuahan….”

Dalam buku Origin of Spesies itu Darwin melihat negara Inggris (kala itu) susah mengembangkan pertanian karena jarang tanaman-tanaman bunga.

Tapi karena pengaruh Darwin pula, Inggris justru paling agresif mengembangkan minuman teh dari bunga-bungaan. Sebab, kumbang bisa melangsungkan kehidupan lebih sehat karena serbuk sari.

Sampai-sampai, Ratu Elizabeth hobinya minum teh bunga telang dan secara serius mengampanyekan agar rakyatnya berkebun bunga untuk mendapatkan gizi.

Pada Peringatan Pertama Hari Lebah Sedunia, 20 Mei 2018 di Žirovnica, Republik Slovenia, FAO meluncurkan sebuah makalah “Pentingnya Lebah dan Lainnya Penyerbuk untuk Pangan dan Pertanian.”

Beberapa kata kunci penting yang perlu kita ketahui adalah, 1) penyerbukan sangat menentukan bagi dunia pertanian karena tiga dari empat tanaman di seluruh dunia menghasilkan buah atau biji.

2) Dunia pertanian membutuhkan kepadatan dan itu membutuhkan keanekaragaman penyerbukan untuk meningkatkan hasil panen. Dengan penyerbukan itu, 35% tanaman pangan akan lebih produktif.

3) Dampak dari tanaman pangan yang terserbuki tersebut sangat banyak berkontribusi pada penghasilan bahan pangan yang bergizi dan lebih menyehatkan.

4) Ketika penyerbukan terancam, keberlanjutan dari tanaman pertanian akan berisiko besar.

5) Lebah yang berada di bunga matahari sangat strategis untuk pelindung keamanan keanekaragaman hayati, sebagai penyerbuk liar bersama 20.000 spesies lebah lain.

Odesa Indonesia mempraktikkan pertanian dengan model keanekaragaman hayati. Salah satunya mengembangkan bunga matahari, dan ada sejumlah fakta penghasilan panen yang baik karena pengaruh bunga matahari.

Misalnya, buah tin yang di sekitarnya ada bunga matahari bijinya lebih besar. Tanaman sorgum juga lebih baik karena yang berdekatan dengan bunga matahari bisa menghasilkan antara 100-130 gram per batang. Sedangkan yang berjauhan dengan bunga matahari rata-rata hanya menghasilkan 80-110 gram per batang.

Sudah saatnya memang, otak kita berevolusi lebih maju, menjadikan tanaman hias sebagai tanaman pangan. Apalagi kita tahu bahwa fungsi tanaman bunga, seperti bunga matahari itu juga sangat penting untuk kelangsungan ekosistem, bukan hanya di lingkungan pertanian, melainkan di perkotaan.

Perumahan-perumahan juga harus menanam bunga matahari karena akan memberi kontribusi besar bagi keanekaragaman hayati. Radius manfaat bunga matahari ini bisa mencapai 2 kilometer. Begitu juga dengan kaktus yang selama ini dieksploitasi jadi tanaman kerdil mestinya diubah menjadi tanaman herbal.

Bunga matahari perlu menjadi minyak karena lebih bagus dari minyak jagung atau sawit (rendah kolesterol). Bunga matahari perlu dimakan sebagai kwaci, tapi yang organik, tidak usah disangrai dan dicampur garam sebagai cemilan enak tapi rendah gizi. Tetap makan fresh karena itu gizinya lebih hebat.

Inilah koran / sur

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 14:30 WIB

    Vivo Resmi Buka Pre-Order V15 Pro di JD.ID

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 10:30 WIB

    Uu Buang Peluang

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 07:50 WIB

    Ada-ada Saja, Nama Bayi Ini Terinspirasi Syahreino

  • Selasa, 19 Maret 2019 | 02:00 WIB

    Langgar Paten Qualcomm, Apple Didenda Rp442 Miliar

  • Senin, 18 Maret 2019 | 18:00 WIB

    Selandia Baru Akan Bahas Perubahan UU Senjata

  • Senin, 18 Maret 2019 | 17:30 WIB

    Gedung Putih Gundah Manifesto Penembak Masjid