Warga Pangalengan Gotong Royong Cegah Banjir Susulan

Warga Pangalengan Gotong Royong Cegah Banjir Susulan
Warga Rancamanyar, Pangalengan, gotong royong mencegah banjir bandang
INILAH,Bandung- Tak mau banjir menerjang kembali kampungnya, ratusan warga RW 10, 12 dan 13 Kampung Rancamanyar Desa Margamukti Kecamatan Pangalengan, melakukan penanaman di lahan perkebunan PTPN VIII.
 
Seperti diketahui, lahan tersebut  kini kritis akibat dirambah para petani ilegal. Dampak perambahan lahan perkebunan oleh para oknum petani itu, mengakibatkan erosi hingga menyebabkan banjir bandang di tiga RW di Desa Rancamanyar pada Jumat (1/3/2019) lalu.
 
Ade Rukman (57) salah seorang warga RT 2 RW 12 Kampung Rancamanyar mengatakan, ia dan warga di RW 13,12 dan 10 yang beberapa waktu lalu menjadi korban banjir bandang tidak ingin kejadian serupa menimpa mereka kembali. 
 
Sehingga mereka bersama sama para pegiat lingkungan, pihak perkebunan PTPPN VIII dan lainnya melakukan aksi penanaman kembali lahan perkebunan yang saat ini kritis akibat ditanami sayuran oleh para oknum para petani. 
 
Luas lahan perkebunan yang kritis akibat dirambah oleh petani sayuran ini pun tak tanggung tanggung, yakni mencapai 582 hektar. Maka tak heran ketika hujan deras tiba, air daru hulu meluncur deras masuk ke pemukiman warga.
 
"Perambahan lahan perkebunan oleh para petani pemilik modal besar merambah perkebunan. Dulunya itu perkebunan kina dan teh, tapi pada 2009 lalu tanaman kina itu dibongkar oleh pihak perkebunan, tapi setelah dibongkar dibiarkan begitu saja oleh pihak perkebunan, kemudian masuklah para perambah ini. Mereka menanami lahan bekas kina itu dengan sayuran, bahkan kebun teh juga banyak yang babat oleh mereka dan diganti sama tanaman sayuran," kata Ade disela aksi penanaman pohon di Perkebunan PTPN VIII Kertamanah, Rabu (20/3/2019).
 
Ade mengatakan, kejadian banjir pada awal Maret lalu itu, dampak dari gundulnya lahan perkebunan yang sebelumnya ditanami kina dan teh, berubah menjadi tanaman holtikultura.  Menurut Ade, para petani di perkebunan itu merupakan buruh tani. 
 
Karena sebenarnya, para pemilik usaha pertanian sayuran tersebut adalah para pemilik modal besar bernilai miliaran rupiah.  Adapun upaya penanaman tanaman keras berupa pohon kopi yang dilakukan oleh pihak perkebunan, sebagian besar dirusak dan cabuti oleh para petani perambah kebun tersebut. Padahal, tanaman kopi yang telah ditanam itu, selain memiliki nilai ekonomi sekaligus sebagai tanaman konservasi penahan erosi dan resapan air.
 
"Ini dampak yang kami rasakan. Saat kejadian banjir, rumah saya terendam sekitar 1,5 meter. Semua perabotan rumah tangga, pakaian, elektronik berbagai dokumen rusak semuanya. Mereka yang punya ulah merambah perkebunan, kami disini yang kena dampaknya.
 
Sehingga, hari ini kami berikhtiar mencegah kejadian serupa, dengan menanami kebun yang sudah rusak itu dengan tanaman kopi, ekaliptus dan sulibra," ujarnya kata Ade yang juga ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Dano Aul Pangalengan.
 
Ade melanjutkan,  dalam aksi penanaman lahan perkebunan tersebut, disiapkan sebanyak 160 ribu bibit kopi, 60 ribu bibit ekaliptus dan 40 ribu bibit tanaman sulibra. Bibit pohon tersebut, akan ditanam di lahan perkebunan yang masih ditanami oleh tanaman holtikultura.
Harapannya, bisa mengembalikan kondisi lahan yang telah kritis kembali hijau. 
 
"Semula memang kegiatan ini banyak ditentang oleh para petani itu. Tapi yah bagaimana lagi, kami juga tidak mau banjir bandang kejadian lagi, sekarang yah antara tanaman sayuran harus ditanaman keras berupa kopi, ekaliptus dan sulibra," kata Ade.