Kalau Pakai Behel, Jangan Lupa Sikat Gigi

Kalau Pakai Behel, Jangan Lupa Sikat Gigi
Ilustrasi

INILAH, Bandung - Behel atau alat ortodonti cekat dalam perawatan gigi sudah bukan menjadi barang mewah lagi.

Dikutip dari Klinik Orthodonti Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Kota Bandung, drg Yuniwati Sp.Ort menerangkan, behel umumnya digandrungi remaja tidak sekadar untuk merapikan gigi yang karehol, tapi dimanfaatkan juga sebagai hiasan supaya tampil modis.

Sebenarnya, perawatan ortodonti ditujukan kepada mereka yang giginya berjejal (crowded) yang mengakibatkan terjadinya maloklusi atau mempunyai kontak gigi yang tidak normal dengan kata lain menyimpang dari kontak gigi normal.

Penyimpangan tersebut akibat dari berbagai hal antara lain: Besarnya gigi tidak sesuai, bisa lebih besar atau lebih kecil dari rahang tempat berpijaknya gigi tersebut;

Kemungkinan lain juga pertumbuhan rahang atas yang tidak sesuai dengan pertumbuhan rahang bawah yang bisa mengakibatkan cameuh.

Cameuh (bahasa Sunda) yaitu pertumbuhan rahang bawah lebih besar atau lebih maju atau sebaliknya yang biasa dikenal dengan gigi tongos atau bisa akibat lain, seperti fraktur (patah) rahang yang mengakibatkan pertumbuhan rahang terganggu.

Upaya-upaya untuk memperbaiki kelainan di atas, sudah tersedia berbagai alat dengan teknologi mutakhir yang membuat pasien lebih nyaman dan cepat teratasi.

Biasanya, 2 sampai 3 tahun lama perawatannya dan bergantung pada tingkat keparahan maloklusi serta rajin tidaknya kontrol behel setiap 3 minggu sekali.

Bahkan, karena behel terlihat indah sering digunakan sebagai aksesori gigi berbagai warna, sehingga terutama remaja, sering terlihat menggunakan behel supaya indah dan modis, walaupun giginya rapi, di mana keadaan ini sebaiknya tidak dianjurkan.

Namun jangan lupa bahwa pemakaian behel itu ada risiko, kalau kita tidak tahu atau melupakannya, bukan kesehatan yang kita peroleh malah sebaliknya, penyakit-penyakit lain akan timbul menyusul.

“Untuk itu, kalau Anda pasang behel jangan lupa bertanya dengan dokter gigi spesialis ortodonti yang memasangnya mengenai risiko-risiko yang terjadi,” terang drg Yuniwati.

Teknik menyikat gigi

Tempatkan sikat gigi membentuk sudut 45 derajat ke arah gusi. Lakukan gerakan penyikatan dari arah gusi ke gigi. Satu kali gerakan menyikat, hanya 2-3 gigi yang tersikat.

Bersihkan gigi dan gusi secara bersama-sama, menyikat gigi harus di lakukan sistematis sehingga tidak ada permukaan gigi yang terlewat, di mulai dari semua permukaan luar gigi (permukaan gigi yang menghadap pipi dan bibir).

Setelah semua permukaan luar gigi tersikat, sikat semua permukaan dalam gigi (permukaan gigi yang menghadap lidah dan langit-langit), untuk dataran pengunyahan sikat dengan gerakan maju mundur sampai semua gigi tersapu.

Lakukan rahang per rahang, misalnya rahang atas dulu baru rahang bawah, pada waktu menggosok gigi, rahang harus sedikit dibuka untuk mencegah kotoran terdesak ke arah gusi pada rahang yang berlawanan.

Contoh, ketika menggosok gigi atas dengan arah dari bawah ke atas dapat menyebabkan plak terdesak ke dalam saku gusi rahang atas. Gosoklah gigi dalam keadaan mulut terbuka, supaya plak tidak terdesak pada rahang yang berlawanan.

Cara lain adalah letakkan bulu sikat 45 derajat mengarah ke gusi lalu getarkan atau gerakkan maju mundur, tapi pendek-pendek untuk menyapu plak di saku gusi dan daerah sela-sela gigi.

Lakukan berurutan sampai semua gigi tersapu, lalu dilanjutkan dengan menggosoknya dari arah gusi ke gigi seperti cara pertama tadi, untuk mengeluarkan plak yang sudah tersapu.