Tahun Ini Pemprov Kerjakan DED Jalan Tambang

Tahun Ini Pemprov Kerjakan DED Jalan Tambang
INILAH, Bandung-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat sedang mengerjakan Detail Engineering Design (DED) terkait Jalan Tambang pada 2019 ini. Perencanaan fisik tersebut meliputi Parungpanjang, Bogor sampai ke batas Tangerang.
 
Asisten Daerah II Setda Provinsi Jabar Eddy Nasution menyampaikan, pihaknya berharap dengan adanya jalan khusus tersebut, permasalahan terkait tambang di Jabar dapat teratasi.
 
"Nah jalan tambang, Sekarang ini tahun ini kan kita sedang mengerjakan ded nya daripada jalan tambang. kira kira 5-7 kilometer yang Ded jadi di harapkan nanti jalan bagus," ujar Eddy, Jumat (22/3).
 
Dia katakan, pihaknya merasa perlu merumuskan konsep dari jalan tambang tersebut. Apakah berbentuk jalan tol atau harus dikelola oleh pengusaha tambang. Karena itu, mesti dikaji dan dikomunikasikan lebih dulu. 
 
"Yang penting kita siapkan dulu FS (Feasibility Study) dan Ded-nya, nanti kalau sudah ada itu kan tinggal kita jual. Mau dikelola oleh pusat dalam bentuk jalan tol silakan," katanya.
 
Eddy mengaku, pihaknya pun sudah mendiskusikan terkait jalan tambang ini dengan Pemda Tangerang. Hal itu untuk mencari kesepatan pihak mana yang akan membangun proyek jalan tambang di area tersebut.
 
"Nah kita kan sudah diskusikan dengan tangerang. Jadi kalau tangerang itu nanti apakah dibangun oleh Tagerang atau kita. Tapi kita menyiapkan dednya sampai batas Tangerang," jelasnya.
 
Pihaknya berharap, jalan tambang ini tidak terlalu banyak koneksi. Akan lebih baik bilaman menggunakan lagar, mengingat jalan khusus. "Karena kalau kembali jalan seperti biasa nanti kan antara jalan yang tambang dengan jalan yang biasa jadi mix bergabung, nah kecelakaan akan sering terjadi,"
 
Lebih lanjut, Eddy menilai, sebenarnya saat ini akses pertambangan di kawasan Parungpanjang sudah bagus. Terlebih pada tahun 2018 lalu pihaknya telah mengerjakan proyek pembangunan itu.
 
"Meskipun lebarnya tidak standar masih kecil. Tapi bahu bahunya agak diperlebar sedikit. Kecelakaan akan berkurang," ucapnya.
 
Hanya saja, lanjut dia, hal tersebut berbanding terbalik dengan yang terjadi di wilayah Banten. Menurut Eddy, saat ini kondisnya memang parah sehingga diberlakukan jam tayang untuk mengangkut hasil tambang.
 
"Kita mengikuti jam tayang yang ada di Tangerang. Cuma tiga jam kalau gak salah dikasih satu hari. Karena kondisinya parah sekali," ungkap dia.
 
Disinggung seperti apa tanggapan pemerintah pusat terkait jalan tambang, Eddy katakan, saat ini masih sekadar melihat-lihat. Karena itu, pihaknya perlu mendorong agar perencanaan ini dapat segera diwujudkan.
 
Menurut dia, kegiatan pertambangan memang tidak dapat dihentikan. Mengingat, segala proyek pembangunan pun membutuhkan hal tersebut. Namun perlu ada kekuatan besar untuk mendorongnya.
 
"Kemudian untuk daerah sendiri apa sih yang dijual dari dia. Masyarakat berpenghasilan dari mana. Kalau itu dimatikan, mati semua itu," imbuhnya.
 
Misalnya saja di Bogor, dia sampaikan, memang banyak masarkat yang menolak keberadaan pertambangan. Namun di sisi lain, banyak pula masyarakat yang menggantungkah hidupnya dari kegiatan tersebut. 
 
"Jadi jangan dikira hanya yang tidak setuju yang banyak. Yang setuju juga banyak," katanya.
 
Karena itu, dia berharap, masyarakat jangan hanya berpikir bahwa kegiatan pertambangan akan memberi dampak buruk kepada lingkungan. Namun, pihaknya hadir untuk berupaya mengendalikan hal tersebut. 
 
"Tapi kalau menghentikan itu agak sulit. Karena kita butuh pembangunan," pungkasnya.