• Headline

    Merasa Kasusnya Direkayasa, Korban Tipu Gelap Lapor Propam Polri

    Oleh : Ahmad Sayuti11 Januari 2017 09:05
    INILAH, Bandung- Berbagai langkah dilakukan Aditya Rachman untuk mencari keadilan bagi kliennya dalam dugaaan rekayasa kasus dan keberpihakan Sat Reskrim Polrestabes Bandung. Salah satunya dengan melaporkan ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri bagian pelayanan dan Pengaduan.

    Seperti diketahui, klien Aditya Rachman jadi korban penipuan dan penggelapan yang dilakukan Tomy Teja Saputra alias Ko Wawan dan istrinya Hilda Suliman. Akibat penipuan dan penggelapan tersebut, kliennya merugi hingga Rp 1,2 miliar.

    Laporan pengaduan tersebut tertuang dalam surat penerimaan surat pengaduan Propam Nomor SPSP2/3974/XII/2016/Bagyanduan. Dengan rincian pengaduan atas dugaan adanya rekayasa dan keberpihakan oknum Polri terhadap tersangka Tomy Teja Saputra dengan nomor LP B/95/I/2016/Jabar yang dilakukan oleh beberapa oknum polisi di Polrestabes Bandung.

    Aditya Rachman mengungkapkan, setelah pihaknya menilai ada kejanggalan dalam proses hukum kasus ini, langsung melaporkan ke Divpropam Polri dengan jenis pengadaan dugaan rekayasa dan keberpihakan oknum Polri.

    "Kita laporkan pada 9 Desember 2016, soal adanya keberpihakan oknum Polri di Polrestabes Bandung," katanya kepada wartawan, Rabu (11/1/2017).

    Selain membuat laporan aduan, Aditya juga melampirkan beberapa photo copy pendukung penguat laporan penipuan dan penggelapan yang dilakukan Tomy Teja Saputra alias Ko Wawan dan kejanggalan selama proses dirinya dan kliennya mencari keadilan.

    Menurutnya, saat pertama kali melaporkan kasus ini ke Polda Jabar dan dilimpahkan ke Polrestabes Bandung proses hukum berjalan dengan mulus, bahkan Tomy alias Ko Wawan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Walaupun istrinya Hilda yang juga berperan ikut andil dalam penipuan dan penggelapan ini sama sekali tidak tersentuh.

    Namun, lanjutnya, setelah ditetapkan tersangka dan dilimpahkan ke kejaksaan berkas dikembalikan lagi dengan alasan pihak kejaksaan meminta saksi-saksi dilengkapi. Tidak lama setelah berkas dikembalikan, Sat Reskrim Polrestabes Bandung mengeluarkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) yang menyebutkan jika kasusnya tidak masuk ranah pidana melainkan perdata.

    "Padahal sudah jelas dia (Tomy) ditetapkan tersangka. Diperkuat surat dari Itwasda Polda Jabar jika Tomy memenuhi unsur penipuan dan penggelapan dan ditetapkan sebagai tersangka," ujarnya.

    Tidak berhenti disitu, dirinya kemudian mendatangi jaksa yang menangani kasus tersebut dan mempertanyakan soal dikembalikannya berkas tersebut. Pihak kejaksaan menyebutkan hanya perlu dilengkapi saksi-saksi, dan mereka tidak menyebutkan jika kasus tersebut masuk hubungan perdata sebagaimana yang diungkapkan pihak kepolisian.

    Menurutnya, seluruh bukti dan saksi-saksi pendukung sudah diberikannya kepada penyidik. Tapi, justru ada dugaan rekayasa dalam pemeriksaan saksi. Seperti saat Yayan sopir ekspedisi yang mengakut jersey Korea milik kliennya oleh tersangka Tomy.

    "Jelas-jelas dia sopir ekspedisi. Tapi dalam surat panggilan disebutkan karyawan Grandtex. Anehnya, surat panggilan dibuat setelah Yayan diperiksa," katanya.

    Aditya pun meminta profesinal dan kredibilitas Polri dalam hal ini Sat Reskrim Polrestabes Bandung dalam menyelesaikan sebuah kasus dan memberikan keadilan kepada para pencari hukum.

    "Sebagaimana program Kapolri, yakni Penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan," tegasnya. [jek]