• Geber Gerakan Citarum Bestari, Pemprov Panggil 5 Perusahaan

    Oleh : dea25 Januari 2017 18:43
    INILAH, Bandung -Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mendorong upaya normalisasi sungai Citarum melalui Gerakan Citarum Bersih, Hijau dan Lestari (Bestari) guna mengoptimalkan fungsi sungai sebagai peradaban masyarakat Jawa Barat.

    Dikatakan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sungai yang membentang di sepanjang Jawa Barat ini terus mengalami kerusakan kualitas air yang diakibatkan oleh sampah organik dan juga sampah non organik yang diakibatkan oleh aktifitas masyarakat dan juga aktifitas industri.

    Sehingga pihaknya mengambil langkah dengan memanggil lima anak perusahaan pembangkit listrik milik negara PLN untuk ikut berpartisipasi dalam upaya normalisasi sungai Citarum yang nantinya akan berpengaruh juga terhadap kualitas produksi listrik.

    "Kita panggil perusahaan-perusahaan yang berkaitan langsung pemanfaatan air sungai Citarum," ungkapnya usai melakukan Pengarahan pada rapat koordinasi dengan pimpinan Perusahaan Pemanfaatan Utama Sumber daya Air dalam rangka kemajuan gerakan Citarum Bestari, di Gedung Sate, Bandung, Rabu (25/1/2017).

    Ia menuturkan pertemuan ini merupakan langkah penarikan komitmen dari perusahaan dan OPD yang berkaitan dengan pemanfaatan air sungai Citarum, sebab kata dia jika permasalahan ini terus berlarut dan tidak ada tindak lanjut, akan berakibat kompleks. Bukan saja banjir, pencemaran limbah, hingga nanti berpengaruh pada hasil produksi listrik di waduk-waduk yang dialiri oleh air Citarum.

    "Supaya percepatan gerakan citarum Bestari semakin cepat, dengan komitmen pengusaha juga bukan hanya mengoptimalkan seoptimal mungkin, juga pemeliharaan agar tidak merugikan dirinya sendiri, ujarnya.

    Maka dengan dibentuknya Samsat Citarum Bestari, diharapkan akan mencapai keberhasilan seperti halnya yang dicapai pada saat penyelesaian permasalahan Waduk Jati Gede.

    Pertemuan kali ini kata dia, merupakan awal untuk perencanaan aksi multipihak, serta didukung oleh peran dari pengusaha yang memanfaatkan air dari Citarum, masyarakat juga akademisi. Sehingga penyelesaian permasalahan Citarum akan lebih cepat.

    "Ini hanya awal saja, selain itu baru penegakan hukum," jelasnya.

    Terlebih ia menilai Sungai Citarum merupakan sebagian wajah peradaban Jawa Barat, sebab Citarum mengaliri berbagai Kabupaten/Kota di Jabar, selain itu Citarum juga menghidupi jutaan masyarakat.

    Oleh karena itu, langkah ini sangat penting dilakukan agar Citarum lebih cepat normalisasinya. Sebelumnya kata Demiz, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi sampah kasat mata. Seperti halnya membentuk 190 komunitas Ecovilage, membangun desa dengan berbasis lingkungan, bersama TNI melakukan pembersihan sampah kasat mata.

    "Sampah dibersihkan selama 6 bulan, bekerja sama dengan TNI bersama masyarakat, dan itu signifikan mengurangi sampah, namun masih belum bisa mengubah perilaku masyarakat," imbuhnya.

    Ia mengakui dalam menyelesaikan permasalahan Sungai Citarum merupakan pekerjaan yang tidak mudah, sebab bukan hanya mengembalikan kondisi sungai Citarum, tapi juga memperbaiki pola pikir masyarakat. Terlebih kata dia pemerintah pusat sudah menaruh perhatian lebih terhadap permasalahan Citarum, itu terbukti dengan gelontoran anggaran untuk normalisasi Sungai Citarum dan Hulu Cimanuk.

    Sementara Kepala BPLHD Jawa Barat Anang Sudarna menyebut keinginan pihaknya agar perusahaan tidak menganggarkan dalam dana CSR, namun ia meminta perusahaan yang memanfaatkan air Citarum untuk menganggarkan normalisasi Citarum dalam anggaran operasionalnya.

    Hal itu lantaran demi optimalnya produksi listrik mereka. Ia membandingkan jika saja air Citarum sudah tidak bisa digunakan untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik maka untuk menggerakkan turbin di Waduk Saguling dibutuhkan 7500 Ton batu bara, sehingga jika di rupiahkan anggaran tersebut akan membengkak.

    Berbeda halnya dengan dialihkan kepada normalisasi sungai Citarum, dampaknya akan dirasakan secara signifikan, bukan saja produksi listrik yang meningkat juga terhadap masyarakat Jawa Barat yang dapat memanfaatkan air Citarum untuk kehidupan sehari-hari.

    "Itu yang harus dipikirkan oleh perusahaan," pungkasnya. [ito]