• Pemerintah KBB Berencana Bentuk RW Tanggap Bencana

    Oleh : Fuad Hisyamudin20 Maret 2017 16:35
    fotografer: Fuad Hisyamudin
    INILAH, Bandung - Pasca bencana longsor yang menimpa Kampung Jati Radio RT 02/12 Desa/Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat (KBB) Jumat (10/3/2017) lalu, pemerintah setempat mulai memikirkan untuk menyiapkan RW tanggap bencana.

    Sekretaris Camat Cililin Denni Kurniawan mengungkapkan, pihaknya bersama aparatur desa setempat dan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) KBB mulai memikirkan kemandirian bagi masyarakat setempat agar siap menghadapi resiko terburuk saat bencana datang.

    "Saat ini bantuan tanggap bencana terus masuk. Kita terima. Fungsi kita pemerintahan setempat hanya memfasilitasi," ungkapnya, saat ditemui INILAH di Pemda KBB di Ngamprah, Senin (20/3/2017).

    Menurutnya, keselamatan masyarakat adalah hal yang paling prioritas. Dan yang tidak kalah penting menyiapkan keselamatan mereka adalah membuat warga mandiri.

    Menyiapkan warga secara mandiri untuk menghadapi bencana adalah upaya penting untuk melakukan pertolongan pertama, dan kesiapan tanggap bencana ketiak terjadi sebelum bantuan datang.

    "Untuk itu kami mulai memikirkan membentuk RW tanggap bencana. Itu semacam kesiapan bagi masyarakat menghadapi bencana," ujarnya.

    Pihaknya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sangat merasakan, bagaimana kepanikan warga saat hujan besar melanda. Ditambah, kata dia, hujan yang turun itu berlangsung cukup lama.

    Tidak sedikit, kata dia, warga khawatir. Ketika ada air menggenang saja, jika mereka tidak tahu, tentu akan menjadi kepanikan yang sulit teredam.

    "Padahal mereka harus diberikan pemahaman. Pernah kemarin (di lokasi bencana) warga tidak tahu ketika ada air menggenang. Padahal ada yang membetulkan pipa. Hal semacam ini jan sangat perlu," katanya.

    Disaat bantuan terus masuk, pihaknya ingib pula membantu pemahaman masyarakat agar siap, faham dan tahu apa yang harus dilakukan ketika tanda-tanda bencana alam akan tiba.

    "Kita juga harus memandirikan warga. Mereka harus tahu tanda bahaya, zona merah dan lokasi evakuasi yang aman," tandasnya.

    Sebelumnya diberitakan, hujan derasa terjadi pada Jumat (10/3) sekitar pukul 20.30 WIB, menyebabkan beberapa mengalami rusak berat setelah tertimpa longsoran tanah dari ketinggian sekitar 10 meter di Kampung Jati Radio RT 02/12 Desa/Kecamatan Cililin KBB.

    Mengantisipasi longsor lanjutan, ratusan warga di Kampung tersebut dievakuasi. Data terkahir, jumlah pengungsi mencapai 69 kepala keluarga (KK) dan 235 jiwa. Sementara, warga terdampak akibat longsor tersebut mencapai 199 KK dan 703 jiwa.

    Tentang kesiapan menghadapi bencana bagi masyarakat ini, Dandim 0609 Kabupaten Bandung Letkol Arh A Andre Wira A K mengusulkan pembuatan prosedur tetap (Protap) penanganan bencana.

    "Curah hujan yang tinggi memang masih rawan bencana. Saat mengunjungi Cililin, saya sudah mengusulkan semacam protap atau SOP," beber Dandim.

    Diungkapkan, masyarakat di Cililin khususnya dan umumnya di wilayah KBB, sudah saatnya siap menghadapi bencana. Menyiapkan segala kemungkinan terburuk bagi keselamatan pribadi, keluarga dan masyarakat.

    Protap yang dia maksudkan itu, untuk mempermudah bagi petugas dam memberikan pertolongan ketiak terjadi bencana. Protap ini juga untuk mempermudah dalam upaya penyelamatan atau evakuasi warga dengan cepat sehingga keselamatan warga bisa teratasi dan dapat meminimalisir korban.

    Misalkan, dia menyebut, ketika ada hujan yang intensitasnya tinggi. Perlu ada standart tertentu bahwa hujan tersebut berpotensi banjir atau longsor.

    "Misalnya kalau hujan deras selama sejam terus menerus. Ini perlu disiapkan antisipasi dan kesiapan warga," katanya.

    Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB Maman S Sunjaya mengajak masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan mereka.

    Hal ini sangatlah penting, katanya, terlebih berdasarkan informasi dari BMKG, itensitas hujan akan terus terjadi hingga Mei 2017. Untuk itu, pihaknya mengeluarkan status siaga bencana mulai dari 4 November 2016 hingga 29 Mei 2017. [jek]