• Cimahi Waspada Endemis DBD

    Oleh : Fuad Hisyamudin20 Maret 2017 20:24
    •  Share
    INILAH, Cimahi-Pemerintah Kota Cimahi saat ini sedang ketar-ketir dengan penyebaran virus dengue, sebuah virus yang menjadi penyebab seseorang terkena demam berdarah. Apalagi, selama tiga tahun berturut-turut kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Cimahi ini terus meningkat.

    Seketaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi Fitriani Manan mengungkapkan, hampir setiap tahun kasus ini terus meningkat. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk aedes aegypti ini sungguh berbahaya dan wajib diwaspadai.

    "Kami mewaspadai kasus DBD ditahun 2017 ini. karena tren yang terjadi di Kota Cimahi ini melampui trend nasional. Jika trend target nasional harusnya jumlah kasus per100 ribu penduduk itu dibawah 55 kasus, nah untuk Cimahi itu bisa di atas 100 kasus," ungkapnya, saat ditemui di Komplek Pemkot Cimahi, Senin (20/3/2017).

    Ia lantas membeberkan data. Melihat kasus ini ditahun 2015, terjadi 797 kasus dengan kematian 5 orang, sehingga bila dibandingkan dengan jumlah penduduk maka insiden red-nya sekitar 132 kasus. Dan pada tahun 2016 terjadi kenaikan dengan jumlah 1.036 kasus dengan angka kematian 6 orang.

    Inilah yang ia takutkan pada tahun 2017 ini. Kasus DBD meningkat melebihi tahun-tahun yang lalu. Apalagi jika tiga tahun berturut-turut terjadinya kasus DBD disuatu daerah, maka daerah tersebut masuk endemis atau alias rawan DBD.

    "Untuk Kota Cimahi sendiri lanjutnya, hampir setiap tahun terjadi peningkatan. Kami khawatir tahun 2017 ini. Pada bulan Januari saja sudah terlaporkan ada 40 kasus," katanya.

    Meskipun belum ada laporan kematian, tapi tetap saja pihaknya kahwatir. Terlebih jika ia melihat lembaran data lama, bahwa setiap tahun di kelurahan yang ada di Cimahi ini, ada saja kasus DBD. "Jadi kalau endemis itu tiga tahun berturut-turut kasus DBD, tapi kita dari 2005 setiap tahun ada," ujarnya.

    Apakah ada pengaruh musim penghujan? Menurutnya, saat ini penyakit DBD bisa menyerang kapan saja karena sudah lagi tidak melihat musim. Mau musim penghujan ataupun kemarau, ancaman DBD tetap ada.

    Sebagai langkah menekan angka penyebaran DBD, pihaknya telah melakukan sejumlah program. Diantaranya, dengan meluncurkan program gerakan satu rumah satu jumantik yang artinya pada setiap rumah ada satu anggota keluarga yang ditugaskan memeriksa jentik.

    "Nantinya kader-kader hanya akan bertugas memonitor tidak memantau lagi. Sedangkan untuk memantau, ada anggota kelauarga yang jadi kader jumantik," katanya.

    Tidak hanya itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi Program Gertak alias "Gerakan serentak" rumah kami bebas jentik. Dimana Masing-masing kader akan bertugas memantau di RW dan Kelurahan yang berbeda bukan di tempat dirinya tinggal. Nantinya, akan dilakukan kroscek atau cek silang, dimana pemeriksaan akan dilakukan oleh kelurahan lain.

    Dari kroscek tersebut, ungkapnya, akan diperoleh data valid tentang kondisi Kota Cimahi menghadapi DBD. Apakah angkanya bebas DBD, ada berapa banyak jentiknya dan apakah sesuai antara data yang satu dengan yang lainnya.

    "Nah untuk RW-nya pun nanti kita (pihak Dinkes) yang memilih. Tidak ada mereka yang milih. Itu dilakukan untuk memotivasi semua RW dan kelurahan dalam melaksanakan tugas sehingga ketika dilakukan cross cek tidak akan malu, dan disitu kita memotivasi benar-benar rumah kami bebas jentik supaya tingkat DBD nya menurun," jelasnya.

    Lebih jauh ia menambahkan, kepada masyarakat Cimahi khususnya agar selalu waspada. Meski DBD tidak mengenal musim, namun potensi saat hujan seperti saat ini cukup tinggi.

    "Ketika hujan turun dipastikan banyak menimbulkan genangan air. Biasanya, air yang tergenang itu, lama-kelamaan bakal menjadi sarang perkembangbiakan jentik nyamuk dan menyebarkan penyakit. Ini juga harus waspada masyarakat," imbuhnya.

    Dia menerangkan, saat ini orang yang terjangkit DBD tidak hanya bisa dilihat dari timbulnya bintik-bintik merah pada kulit, tapi bisa dirasakan jika panas dalam tubuh tidak teratur.

    "Kalau seseorang mengalami demam tinggi dan lebih dari tiga hari, maka lebih baik diperiksakan ke dokter dan lakukan cek darah agar penyakitnya terdeteksi dan bisa ditangani sedini mungkin. Selalu waspada atas gejala-gelaja demam dan senantiasa menjaga kebersihan," beber Fitriani. [jek]


-->