• Warga Cijagra Kesulitan Air Bersih

    Oleh : Rd Dani Rahmat Nugraha21 Maret 2017 20:34
    •  Share
    INILAH, Bandung - Kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari, sudah biasa dirasakan oleh ratusan Kepala Keluarga (KK) di Kampung Cijagra Desa Cilampeni Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung kesulitan air bersih.

    Menghilangnya air bersih dari sumber-sumber air milik warga ini terjadi sejak terus bermunculannya industri disekitar pemukiman mereka. Air Rata-rata air sumur milik mereka tak dapat dikonsumsi karena berwarna kuning dan tak layak konsumsi.

    Rosmawati (35) salah seorang warga RT 6 RW 11 mengatakan, sejak lama sumur milik mereka memang tak dapat digunakan untuk keperluan makan minum. Sehingga, mereka harus mengupah Rp 1000 per jerigen untuk mengambil air yang disediakan oleh salah satu pabrik disekitar pemukiman mereka. Dalam sehari, ia menghabiskan Rp 10.000. Jika dirata-ratakan berarti ia menghabiskan sebesar Rp 300 ribu perbulan.

    "Saya sudah empat tahun tinggal disini, sejak pertamakali pindah kesini juga yah sudah seperti ini. Kata penduduk asli disini yang memang seperti ini, air sumur tidak bisa dipakai untuk makan minum, mungkin pengaruh pabrik yang ada disekeliling kampung ini yah,"kata pengelola warung nasi di Kampung Cijagra, Selasa (21/3/2017).

    Dikatakan Rosmawati, jika musim kemarau, sumur yang memang tak dapat dikonsumsi pun airnya menyusut, bahkan hingga mengering. Sehingga, kebutuhan air sepenuhnya bertumpu pada air bersih yang disediakan oleh pabrik tersebut. Namun resikonya, karena hampir semua sumur milik warga disana sama-sama mengering, mereka terpaksa harus antre untuk mendapatkan giliran mengambil air dari sebuah keran yang dipasang dari balik benteng pabrik tersebut.

    "Kalau musim kemarau lebih parah lagi. Warga mengambil air dari pagi buta bisa sampai malam ada terus di keran itu,"ujarnya.

    Nani (35) salah seorang warga lainnya menambahkan, air sumur milik mereka sejak lama tak bisa lagi dipakai untuk makan dan minum. Mereka hanya memanfaatkanya untuk mencuci pakaian dan mandi saja. Karena airnya berwarna kekuningan serta berbau tak sedap. Mereka tak berani memanfaatkannya untuk keperluan makan minum.

    Kondisi ini semakin parah jika musim kemarau tiba, air sumur yang sudah tak layak diminum inipun mengering, hanya menyisakan lumpur hitam. Sehingga, ia dan ratusan warga lainnya di RW 11 dan RW 12, terpaksa harus mengantri air bersih di salah satu pabrik atau membeli air jerigen dan galon isi ulang.

    "Sumber air kami mulai tak bisa lagi dipakai untuk keperluan sehari-hari sekitar 20 tahunan. Yah sejak banyak berdiri pabrik disekitar desa ini saja," ujarnya.

    Nani melanjutkan, selain warga di RW 11 dan 12, sebagian besar warga di Kampung Cijagra yang terdiri dari 13 RW pun mengalami kondisi yang sama. Rata-rata untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga meminta kepada sejumlah pabrik yang banyak tersebar di daerah itu.

    "Rata-rata sumur milik warga di kampung ini dan beberapa kampung lainnya sudah tersedot sama sumur milik pabrik dan sumur jet pump milik segelintir orang warga," katanya.

    Untuk mengambil air bersih ini, kata Nani, tidak jarang warga harus berjalan hingga dua kilometer lebih. Lantaran, di dekat pemukiman mereka tidak pabrik yang mau berbagi air bersih miliknya dengan warga. Seperti yang dialami oleh ratusan warga RW 11, mereka terpaksa harus mengambil air bersih dari pabrik yang ada di RW 12.

    "Kalau pabriknya enggak mau berbagi air, terpaksa warga harus jalan kaki ke RW lain. Walaupun harus jalan kaki jauh juga enggak apa-apa asal dapat air bersih," ujarnya.

    Sulitnya air bersih ini terjadi karena semua pabrik di desa tersebut, rata-rata pabrik ini membuat sumur dengan memanfaatkan air bawah tanah. Selain itu, berbagai pabrik ini pun membuang limbah cair yang mencemari sumber air warga.

    "Dulu sebelum banyak pabrik, air sumur kami tak pernah kering. Kalau sekarang sudah semakin gersang saja," kata Nani.

    Disisi lain, Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi air secara bijak dalam perayaan Hari Air Dunia yang jatuh pada Selasa (22/3).

    "Harus bersama-sama peduli, bagaimana mengkonsumsi air secara bijak, tidak mencemari air, tanah, karena kami akan melakukan penanganan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat," kata Sekretaris Disperkimtan, Deddy Mulyadi di Komplek Pemkab Bandung, Soreang, Kabupaten Bandung.

    Deddy melanjutkan, bahwa saat ini akses masyarakat Kabupaten Bandung untuk mendapatkan air bersih baru sekitar 76,04 persen yang terdistribusi dari tiga bagian besar yakni, PDAM (11,69 persen, Non PDAM (13,44 persen) dan lain-lain (50,87persen).

    Deddy menjelaskan, bahwa angka tersebut bukan dalam bentuk pelayanan langsung, melainkan akses mendapatkan air dari tiga bagian besar akses air.

    "Dalam peringatan Hari Air 2017 ini kami berikan tema waste water atau air limbah. Kenapa kami ambil tema itu, karena 70-80 persen air yang dikonsumsi akan menjadi limbah,"katanya

    Untuk penanganan air limbah, Dispertakim merangkul Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang memiliki akses untuk penataan saluran air, kemudian Dinas Kesehatan mengetahui standar air minum yang disesuaikan dengan Permenkes maupun Permenpu.

    "Kami ada program MDGS 2019, program 100-0-100, 100 air minum, air kumuh dan 100 penanganan limbah,"ujarnya.


    Deddy melanjutkan, penyediaan air untuk warga di wilayah administrasinya bukan tanpa hambatan. Karena untuk pengelolaan air non-PDAM dan lain-lain (sumur atau irigasi warga) terkadang terhambat dengan dana ataupun tenaga terampil jika terjadi kerusakan.

    "Sebenarnya permasalahannya cukup kompleks. Bukan hanya soal sumber airnya saja tapi juga sarananya,"katanya.

    Kepala Seksi Pembangunan dan air bersih, Erpi Suwandi mengatakan bahwa di daerah Kabupaten Bandung masih ada kawasan yang rawan kekeringan seperti Pameungpeuk dan Ciparay.

    "PDAM belum tersedia, di daerah yang bawa, tapi untuk menangani air ini, kami juga sedang berkoordinasi denan SKPD terkait untuk mengawal tersalurnya air, itu progres yang kami lakukan di Kabupaten Bandung," katanya.

    Untuk penanganan limbah, secara teknis pihaknya tengah melakukan program percontohan dan stimulan dengan cara on site sanitation dan off site sanitation yang dilakukan terpusat.

    "Septic tank komunal dan perorangan juga kami perkenalkan, hingga jamban untuk keluarga," ujarnya. [jek]


-->