• Perajin Opak Sukamanah Kebanjiran Pesanan

    Oleh : Rd Dani Rahmat Nugraha19 Juni 2017 14:27
    INILAH,Soreang -Jelang lebaran Idul Fitri, panganan tradisional khas Jawa Barat opak, sasagon dan kolontong "marema" atau ramai pembeli. Perajin panganan berbahan dasar ketan di Kampung Sukamanah RT 5 RW 5 Desa Bojongkunci Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung kewalahan melayani pesanan.

    Ahyar suhada (57) salah seorang perajin opak yang juga pemilik kios oleh-oleh tradisional di Kampung Sukamanah mengatakan, sepanjang bulan puasa ini produksi opak, kolontong dan sasagon di tempatnya naik tiga kali lipat dibanding bulan biasa.

    Selama bulan puasa ini, tak kurang dari 1 ton beras ketan ditambah gula, kelapa dan bahan lainnya habis diproduksinya. Karena animo pembeli yang cukup tinggi, sekarang ini hanya menjual opak, kolontong dan sasagon titipan dari perajin lainnya di kampung itu.

    "Kalau produksi saya sudah tidak bisa dijual ke konsumen langsung. Karena sudah pesanan semuanya, itu pesanan konsumen dan ada juga yang dari toko. Memang kalau lebaran, opak, kolontong dan sasagon banyak diminati. Di tempat saya saja pesanan sudah ada yang sebelum bulan puasa, dari sekitar Kabupaten Bandung, sampai keluar Pulau Jawa. Saya perkirakan sebulan ini produksi saya sekitar 1 ton lebih, nah kalau hari biasa sebulan itu paling sekitar 4 kuintal,"kata Ahyar di kediamannya, Senin, (19/6/17).

    Jumlah 1 ton lebih ini, kata Ahyar, belum termasuk dengan opak, kolontong dan sasagon titipan dari para perajin lainnya di kampung itu. Kata dia, rata-rata, setiap perajin titip jual di kiosnya sebanyak 3 hingga 4 kuintal. Dengan turut menjualkan opak,kolontong dan sasagon milik perajin lainnya itu, Ahyar dapat tetap melayani pembeli sekaligus membantu sesama perajin.

    "Sebenarnya kalau dibanding lebaran tahun lalu, sekarang agak menurun. Tahun lalu saya bisa memproduksi sampai 1,5 ton ketan, tapi kan kalau sekarang tetap terbantu dengan barang dagangan titipan dari perajin lain,"ujarnya.

    Untuk harga jual, jelas Ahyar, meski sedang marema dan banyak diburu pembeli, ia tak lantas jor-joran memasang harga tinggi. Perkilogram opak, kolontong dan sasagon di tempatnya itu dijual Rp 65 ribu perkilogram.

    Sedangkan pada hari biasa, perkilogramnya dijual Rp 60 ribu. Kenaikan Rp 5 ribu ini hanya untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga bahan baku saja.

    Ahyar melanjutkan, di kampungnya itu sejak dulu dikenal sebagai sentra produksi panganan tradisional opak, kolontong dan sasagon. Menariknya, meskipun saat ini banyak dijual berbagai panganan modern yang dijual dengan kemasan lebih menarik dengan harga jual murah, namun tak mampu menggeser opak, kolontong dan sasagon di hati para penyukanya. Sehingga, Ahyar dan para perajin lainnya di kampung itu tetap eksis hingga saat ini.

    "Sebelum saya lahir juga warga di kampung ini sudah biasa membuat opak dan lainnya. Kalau saya mulai usaha ini sejak 2004 lalu, yah mengikuti orang tua kami dulu. Dan Alhamdulilah keberadaan opak, kolontong dan sasagon kue tradisional ini tetap eksis tidak tergeser oleh makanan modern, mungkin karena sudah punya segmen pembeli tersendiri,"katanya.

    Dalam upaya mempertahankan usaha pembuatan opak, kolontong dan sasagon ini, lanjut Ahyar, sebenarnya bukan tanpa kesulitan. Namun ia sekeluarga tetap bertahan demi meneruskan tradisi leluhurnya.

    Kesulitan yang paling terasa saat ini, kata dia, adalah susahnya mencari tenaga kerja. Karena kebanyakan orang zaman sekarang lebih memilih menjadi buruh pabrik dan bekerja lainnya, ketimbang bekerja di tempat perajin opak seperti Ahyar.

    "Susah cari tenaga kerjanya, saya saja ini semua dilakukan sekeluarga saja ada enam orang. Padahal idealnya sih ada 10 orang yang kerja, terutama untuk bagian sangrai dan menumbuk ketan. Orang sekarang lebih tertarik kerja di tempat lain, apalagi kalau produksi opak ini kan tidak setiap hari terus-terusan,"katanya.[ito]