• Headline

    Listrik di Stadion Si Jalak Harupat Sudah Kembali Nyala

    Oleh : Rd Dani Rahmat Nugraha17 Juli 2017 00:52
    INILAH, Soreang-Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bandung, sebagai pengelola Stadion Si Jalak Harupat, mengakui jika aliran listrik di komplek olahraga tersebut sempat terhenti. Namun, setelah dilakukan koordinasi dengan pihak PT. PLN Area Majalaya listrik di komplek olahraga tersebut kembali menyala.

    Kadispora Akhmad Djohara mengakui jika aliran listrik di komplek Stadion Si Jalak Harupat padam karena pemutusan oleh PLN. Sehingga, beberapa aktivitas terganggu, salah satunya yakni kegiatan Pelatnas angkat besi dan pemeliharaan rutin oleh Dispora. Namun, setelah dilakukan koordinasi yang baik dengan PLN, aliran listrik sudah kembali menyala.

    "Kami mengakui memang aliran listrik di sana sempat dimatikan sepihak oleh PLN. Namun sekarang sudah menyala kembali, kami juga mohon maaf kepada para peserta pelatnas Cabang Olahraga angkat besi, karena listrik padam aktivitasnya sempat terganggu, namun kegiatan tetap berjalan. Pada Sabtu 15 Juli ini kegiatan pelatnas angkat besi di Gyimnasium sudah kembali normal,"kata Akhmad, Minggu (16/7/17).

    Akhmad mengakui merebaknya isu soal kebersihan kolam renang di komplek olahraga tersebut yang tak terpelihara. Diakuinya, hal itu akibat pemadaman aliran listrik, pemeliharaan kolam renang yang pernah digunakan untuk pertandingan polo air pada saat PON ke IX 2016 itu menjadi kurang maksimal.

    "Karena aliran listrik terhenti, sirkulasi air jadi tidak berfungsi. Sekarang listrik sudah ada lagi, kami sudah siapkan empat orang tenaga ahli dan juga obat anti lumut. Tidak hanya itu saja, kami juga sudah siapkan vacum dan pompa pembersih, sehingga kolam renang tanding dan kolam relaksasi dalam waktu seminggu ke depan jernih kembali, dan siap digunakan,"ujarnya.

    Akhmad melanjutkan, untuk kegiatan pemeliharaan rutin lainnya di luar Gymnasium dan kolam renang hingga saat ini masih tetap berjalan seperti biasanya. Seperti kegiatan pembersihan sampah di jalan lintasan penghubung antar venue, toilet, mushola maupun fasilitas lainnya.

    "Kalau kegiatan pemeliharaan rutin yah tetap berjalan. Itu dilakukan oleh 59 orang tenaga harian dan ini memang harus terus berjalan, karena komplek olahraga Stadion Si Jalak Harupat selalu dipadati masyarakat yang berolahraga, terutama pada hari Minggu,"katanya.

    Disinggung mengenai penggunaan anggaran listrik dan air di Stadion Si Jalak Harupat, Akhamd menjelaskan, penggunaan listrik pada 2017 ini, yakni Rp 300 juta.

    Sedangkan pada 2016 lalu, untuk belanja listrik dan air ini Dispora mengantongi anggaran sebesar Rp 800 juta. Jadi memang untuk penggunaan yang sama ini terdapat penurunan anggaran sebesar Rp 500 juta. Kata dia, penurunan ini terjadi karena adanya penetapan Satuan Organisasi Tata Kerja (SOTK) awal 2017 lalu.

    "Kenapa turun anggarannya, karena dinasnya jadi dua. Pada SOTK 2017 itu Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) menjadi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), kemudian ada Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud). Di mana kedua dinas ini memiliki beban listrik yang besar, yakni Dispora mengelola Stadion Si Jalak Harupat dan Disparbud mengelola Gedung Budaya Sabilulungan. Jadi soal nunggak bayar listrik ini bukan karena penyelewengan, tapi karena kekurangan anggaran karena dinasnya jadi dua,"ujarnya.

    Mengenai kekurangan anggaran ini, lanjut, Akhmad, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), berjanji akan menambah kekurangan anggaran untuk biaya listrik dan air. Penambahan anggaran akan dimasukan pada perubahan anggaran 2017.

    Mengenai biaya pemeliharaan Stadion Si Jalak Harupat yang mencapai Rp 1,6 miliar pertahun, jelas Akhmad, dari jumlah tersebut sebesar Rp 1,2 miliar dipergunakan untuk membayar gaji pegawai dan biaya pemeliharaan selama satu tahun.

    Di mana biaya pemeliharaan nilainya hanya Rp 400 juta, sehingga habis hanya untuk biaya kolam renang dan kebersihan saja. Kata dia, tenaga kebersihan di Stadion Si Jalak Harupat dikerjakan oleh pihak ketiga.

    "Memang anggaran pemeliharaan kita kecil, bandingkan saja dengan Stadion Jaka Baring di Palembang, di sana biaya pemeliharaannya Rp 2 miliar perbulan. Sedangkan kita hanya Rp 400 juta pertahun," ujarnya.

    Dikatakan Ahmad, jika ingin pemeliharaan komplek olahraga Stadion Si Jalak Harupat bisa lebih baik, sebaiknya para pihak terkait juga memperhatikan komposisi anggarannya. Bisa seimbang dengan kebutuhannya atau paling tidak minimal sesuai dengan usulan dari dinas pengelola. Hal ini sangat penting, mengingat stadion ini aset Pemkab Bandung yang harus terpelihara dan terjaga keasriannya. Apalagi sebentar lagi Jalan tol Soroja akan selesai dan beroparasi, sehingga Stadion Si Jalak Harupat akan jadi tempat persinggahan para wisatawan.

    "Maka ke depannya harus berhati-hati juga dengan pemangkasan anggaran OPD itu. Pemaangkasan atau penambahan anggaran itu harus terukur dan dapat dipertanggungjawabkan,"katanya.

    Diberitakan sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Hen Hen Asep Suhendar mempertanyakan anggaran operasional dan pemeliharaan Komplek olahraga Stadion Si Jalak Harupat di Kecamatan Kutawaringin.

    Komplek olahraga berstandar internasional tersebut, aliran listriknya diputus oleh PT. PLN sejak sebulan lebih karena pengelola tak mampu membayar kewajibannya.

    "Dua hari lalu kami dari DPRD melakukan kunjungan ke komplek olahraga Stadion Si Jalak Harupat. Kondisinya sangat memprihatinkan, saya lihat kolam renang yang standar internasional itu airnya hijau berlumut, kemudian saya tanya ke pengelolanya. Katanya air jadi hijau karena alat sirkulasinya enggak jalan soalnya listrik diputus sama PLN sudah sebulan lebih. Semua fasilitas di tempat itu termasuk lampu penerangan kalau malam yah gelap. Ini kan sangat mengecewakan,"kata Hen Hen, Jumat (14/7/17).

    Selain air kolam renang yang hijau berlumut, kata Hen Hen, akibat pemutusan aliran listrik juga berdampak terhadap peralatan lainnya yang menggunakan tenaga listrik di semua fasilitas komplek olahraga tersebut.

    Salah satunya adalah, pekerjaan menyiram rumput stadion sepak bola yang semula menggunakan peralatan listrik, kini berganti dengan air yang dikucurkan dari mobil tangki. Dengan menggunakan mobil tangki, tentu saja biayanya lebih mahal ketimbang memakai peralatan listrik yang ada di stadion tersebut. [ito]