• Ribuan Hektar Sawah di Kab Bandung Terancam Gagal Panen

    Oleh : Rd Dani Rahmat Nugraha13 September 2017 18:14
    INILAH, Soreang- Ribuan hektar sawah di Kabupaten Bandung terancam kekeringan dan gagal panen. Untuk mengurangi dampak kekeringan ini, Dinas Pertanian Kabupaten Bandung menurunkan para penyuluh pertanian untuk mensosialisasikan kepada para petani agar tidak dulu menanam padi dan beralih pada komoditas yang tak begitu banyak membutuhkan air.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran, menyebut musim kemarau tahun ini pihaknya mencatat sekitar 1880 hektar sawah di wilayahnya yang terancam kekeringan dan terancam gagal panen.

    "Laporan yang masuk pada kami soal kekeringan dan gagal panen ini tersebar di Kecamatan Nagreg, Cicalengka, Ciparay dan Ciwidey,"kata Tisna, Rabu(13/9/17).

    Tisna mengatakan, luas lahan yang terancam gagal panen ada sekitar 1880 hektar tersebar di Kabupaten Bandung. Dengan kondisi ringan 25 hektar, sedang 15 hektar, berat 30 hektar dan puso delapan hektar. Sawah yang puso ini terdapat di Ciwidey.

    Kata dia kejadian tersebut, bukan suatu bencana. Kekeringan rutin terjadi di musim kemarau. Begitu di musim hujan kerap terjadi banjir.

    "Sudah dari jauh hari kami melakukan penyuluhan agar menjelang musim kemarau petani untuk alih komoditi dari sawah ke palawija atau sayuran seperti di Banjaran, Cangkuang sudah ditanami sosin, kangkung dan lainnya," ujarnya.

    Alih komoditi ini, kata Tisna harus dilakukan petani untuk meminimalisir kerugian. Karena meskipun musim kemarau terjadi setiap tahun, namun tetap saja ada petani yang coba coba menanam padi. Sehingga, mereka selalu mengalami kerugian.

    Di saat musim kemarau, Tisna berharap petani lebih baik menanam palawija atau sayuran. Ia juga berharap kepada para petani untuk berinovasi karena kekeringan dapat diprediksikan.

    Tisna melanjutkan, bagi petani di Kabupaten Bandung yang belum pernah mendapatkan bantuan bibit, pupuk dan alat pertanian harus tergabung ke dalam kelompok tani dan mengajukan kebutuhan yang diperlukan.

    Salah seorang petani di Kecamatan Arjasari, Jeje (60) mengaku merugi akibat lahan sawah miliknya seluas dua hektar terancam gagal tanam karena dilanda kekeringan. Uang sekitar Rp 6 juta sudah dikeluarkan untuk biaya membajak sawah, membeli benih dan pupuk amblas karena sawah miliknya kekekekeringan.

    "Yah saya rugi Rp 6 juta, kirain tidak akan kemarau panjang. Karena baru tahun ini sawah milik saya dilanda kekeringan," kata Jeje.

    Karena pasokan air yang terus menyusut, bisa dipastikan Jeje akan mengalami kerugian karena gagal panen jika lahan sawahnya yang sudah retak retak itu tak segera dialiri air.

    Ia mengaku hingga saat ini ia belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah untuk menyelamatkan tanaman padi miliknya agar dapat teraliri air kembali.[ito]



meikarta.. the world of ours