• Headline

    Elektabilitas Dipuncak, Dedi Mulyadi Akui Akan Kerja Lebih Keras

    Oleh : dea14 Maret 2018 20:15

    INILAH, Bandung - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meyebut, survei yang menempatkan dirinya bersama pasangannya Deddy Mizwar pasca Debat Publik di Posisi teratas mengungguli Pasangan Rindu, menjadi motivasi dirinya untuk terus bekerja kepada masyarakat.

    "Metodologi kampanye saya itu berbeda dengan orang pada umumnya, saya lebih cenderung memberikan pelayanan dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, apa yang bisa saya perbuat, saya perbuat ketika saya keliling," katanya saat ditemui, di Bandung, Rabu (14/3/2018).

    Untuk diketahui, pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi pertama kalinya menyalip pasangan Rindu setelah dari sejumlah survei selalu menempatkan Rindu pada posisi teratas.

    Berdasarkan data Litbang Kompas, pasca Debat Publik yang dilakukan pada Senin (12/3/2018) di Sabuga, Kota Bandung, pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi unggul 42,8 persen suara, disusul pasangan Ridwan Kamil (Emil)-Uu Ruzhanul Ulum (Uu) yang memperoleh 39,9 persen suara.

    Kemudian, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) meraih 7,8 persen dan pasangan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) menggaet 3,1 persen. Sedangkan 6,4 persen responden tidak menjawab atau rahasia.

    Menanggapi hal itu, Dedi menyebut pihaknya masih terlampau jauh untuk berpuas diri justru hal tersebut menjadi pemicu untuk semakin meningkatkan lagi dalam bekerja.

    "Saya masih merasa tertinggal, karena masih merasa tertinggal maka kita harus bekerja keras," katanya.

    Pihaknya akan terus melakukan komunikasinya dengan berbagai pihak, utamanya mengunjungi masyarakat setiap harinya dengan memberikan solusi terbaik untuk setiap masalah yang ditemui di masyarakat.

    "Saya mengunjungi masyarakat setiap hari, memberikan solusi yang terbaik untuk masyarakat saat ada masalah, satu masalah tiga ribu solusi, " katanya.

    Sementara itu, ia juga mengakui tidak membuat program kerja dengan penamaan istilah seperti calon lainnya. Pasalnya, pihaknya menilai seringkali saat membuat program dengan banyak istilah, maka akan semakin kosong program tersebut.

    "Kebiasaan kita dalam membuat program pembangunan kita buat istilah, istilah-istilah itu tidak substansial, saya sampai hari ini tidak mau banyak buat buat istilah, yang penting bekerja saja dirasakan oleh masyarakat, sehingga sering kali kita terlalu genit terhadap istilah, tapi targetnya tidak tercapai," katanya. [jek]



    TAG :


    Berita TERKAIT