• Cegah Tawuran Pelajar, Sekolah Diancam Penurunan Tingkat Akreditasi

    Oleh : Reza Zurifwan18 September 2018 11:27
    fotografer: Reza Zurifwan
    INILAH, Bogor - Trend tawuran antar pelajar di Kabupaten Bogor coba dihentikan dengan banyak cara, salah satunya dengan melibatkan organisasi massa (Ormas) dan memberikan sanksi penurunan tingkat akreditasi sekolah.

    "Untuk mencegah terjadinya lagi tawuran, jajarannya melibatkan ormas serta berkordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk memberikan sanksi berupa penurunan tingkat akreditasi kepada sekolah yang pelajarnya kerap terlibat tawuran," ujar Kepala Polres Bogor AKBP Andi Muhammad Dicky Pastika kepada wartawan di Polsek Gunung Putri, Selasa (18/9).

    Pria asli Sulawesi Selatan ini menerangkan langkah-langkah ini diambil karena dalam setahun terakhir tawuran pelajar sedikitnya telah menewaskan empat orang pelajar.

    "Trend tawuran ini masih terjadi padahal aparat kepolisian maupun Satgas pelajar kerap berpatroli. Bahkan beberapa peristiwa tawuran pelajarnya bersekolah di Kota Bogor seperti hari ini dimana 98 pelajar berasal dari SMK Mekanika, SMK Yatek, SMK YKTB dan SMK Yapiz," terangnya.

    Kapolsek Gunung Putri Kompol Yudi Kusyadi menjelaskan penangkapan 98 pelajar ini terjadi di dekat pintu Tol Gunung Putri. Domisili para pelajar itu diluar wilayah Gunung Putri, bahkan ada yang datang dari Kota Depok.

    "98 pelajar ini, 39 pelajar SMK YKTB, 21pelajar SMK Yapiz, 15 pelajar SMK Mekanika, 7 orang pelajar SMK Yatek, 4 pelajar SMK Tri Daya Cibinong dan 12 pelajar SMK Wijaya Kusuma Kota Depok. Mereka ini janjian tawuran dan dengan bantuan alumninya mereka menyewa dua bus dengan tarif Rp600 ribu," jelas Kompol Yudi.

    Pria yang pernah bertugas di Diskrimsus Polda Jawa Barat ini menuturkan para siswa ini akan dipulangkan setelah pihak sekolah dan orang tua membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi aksi serupa.

    "Pihak sekolah dan orang tua kami panggil untuk membuat surat pernyataan dan menjemput anaknya. Selain mendata 98 pelajar, kami juga sudah menghimpun alumni yang mengajak para pelajar tawuran di Gunung Putri," tuturnya.

    Andri Lomban Wulur paman korban siswa SMP PGRI I Cibinong AY yang meninggal dunia Jumat lalu karena mengalami luka bacok di dada sebelah kiri dan leher oleh pelajar SMP Al-Nur meminta ada sanksi tegas kepada sekolah yang pelajarnya terlibat tawuran.

    "Saya minta pihak sekolah diberikan sanksi tegas berupa penurunan tingkat akreditasi ataupun ditutup sekalian agar ini menjadi pembelajaran atau efek jera bagi sekolah dan pelajar lainnya," kata Yudhizar.

    Dia juga mengusulkan agar ada langkah konkret agar bisa memutus mata rantai perselisihan para pelajar yang sekolahnya kerap melakukan tawuran.

    "Memutus mata rantai perselisihan para pelajar itu bisa dilakukan dengan mediasi antar pelajar plus pihak sekolah. Selain itu kami minta lingkungan sekolah bersih dari peredaran minuman keras atau narkotika, karena kabar yang saya dapat para pelaku yang membunuh keponakan saya sebelum melakukan aksinya terlebihnya meminum minuman keras," pungkasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT