• Headline

    PLTN Jadi Opsi Terakhir

    Oleh : Selfie Miftahul Jannah28 Mei 2016 09:10
    ilustrasi
    INILAH, Bandung - Kebutuhan akan energi yang semakin meningkat seiring perkembangan teknologi di Indonesia saat ini masih didominasi sumber energi fosil yang semakin terbatas.

    Tuntutan akan adanya sumber energi terbarukan untuk menekan angka penggunaan sumber energi saat ini begitu gencar, terutama adanya opsi untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di tanah air.

    Namun, Anggota Dewan Energi Nasioal (DEN) dan Mantan Menteri Lingkungan Hidup Era Abdurahman Wahid Alexander Sony Keraf menjelaskan, pilihan pembangunan PLTN saat ini sudah menjadi pilihan terakhir bila sumber energi lain sudah dioptimalkan dan dikembangkan.

    "Nuklir susah diputuskan untuk menjadi pilihan terakhir setelah kita mengembangkan semua sumber energi yang kita miliki. Dan kalau memang ternyata kebutuhan kita belum tercukupi, dengan energi terbarukan yang ada, maka kita akan ke nuklir juga. Kita berada di kawasan Ring of fire, punya masalah terorisme, savety culture yang lemah belum siap, itu membahayakan," kata dia kepada wartawan di sela-sela Seminar Optmalisasi Pengebagan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Menuju Ketahanan Energi yang Berkelanjutan, di Kampus ITB, Jalan Ganesa Kota Bandung, Jumat (27/5).

    Sonny menjelaskan, energi filosil yang saat ini masih begitu mendominasi harus segera tergantikan dengan energi baru, seperti pengembangan geotermal, sollar cell, angin, arus laut, gelombang laut, bioenergi, air. "Kita punya potensi yang sangat banyak. Tapi sampai saat ini kita masih dininabobokan oleh sumber energi fosil yaitu migas," ujar dia.

    Saat ini, lanjutnya, DEN dan pemerintah tengah kita mendorong peningkatan penggunaan energi terbarukan termasuk juga mengenai tuntutan soal global warming dan mendorong kedaulatan perkembangan dan pengelolaan kedaulatan sumber energi di Indonesia.

    "Pasokan kebutuhan energi kita harus terpenuhi terutama untuk kawasan dalam negeri. Berdasarkan sumber sumber yang kita miliki. Karena itu sudah ada di kebijakan energi nasional, dari kondisi sekarang yang 5% hingga 6% dari total konsumsi nasional tahun 2025 atau 10 tahun yang akan datang, kita harus naik menjadi 23% baik untuk pembangkit bahan bakar maupun bahan baku," jelas dia. (jul)