• Sosok Kreatif, Sosial, dan Mandiri

    Oleh : Okky Adiana11 Maret 2016 05:25
    KREATIF, berjiwa sosial, dan mandiri. Begitulah Agus Nugroho. Sang guru kini masuk salah satu nominasi Een Sukaesih Award.

    Lahir dari keluarga sederhana, Agus, anak kedua dari tiga bersaudara ini, saat masih duduk di bangku SDN 2 Galanggang 2 Batujajar Kota Cimahi, memang termasuk salah satu siswa yang cukup bersinar di bidang akademik. Dia selalu saja masuk dalam lima besar siswa terbaik di sekolahnya itu.

    Sama halnya ketika dia melanjutkan ke jenjang SMP. Nilai akademik Agus selalu saja di atas rata-rata. Artinya, siswa yang cukup berprestasi ini banyak menghabiskan waktunya untuk belajar. Saat itu, Agus berstatus sebagi siswa SMPN 1 Batujajar Cimahi.

    Selepas menuntaskan studinya di tingkat SMP, Agus memiliki cita-cita untuk masuk ke STM Pembangunan. Namun takdir berkata lain. Hanya berbeda selisih nilai sedikit saja, akhirnya dia harus rela menunda mimpinya untuk masuk di sekolah yang dia inginkan itu. Pada akhirnya, dia melanjutkan di SMA Negeri 1 Cimahi.

    Selama masa SMA, dia juga banyak aktif di berbagai organisasi yang ada di sekolahnya itu. Didikan yang penuh dengan tingkat kedisiplinan dan juga kehangatan dari pihak keluarga, mengantarkan Agus lolos dan masuk di jurusan Teknik Elektro Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

    Kemandirian ketika kuliah sudah mulai terbentuk di tengah keterbatasan ekonomi. Semua saudara, baik adik maupun kakak Agus, mendorongnya agar dapat kreatif dalam mencari uang tambahan untuk biaya kuliah.

    "Semasa kuliah, saya mulai dari berjualan buku, majalah, membuka jasa rental komputer dan jasa penulisan hingga mengajar les private," kata Agus kepada INILAH, saat di temui di SMKN 1 Cimahi, Kamis (10/3).

    Tak hanya sampai di situ, aktivitas kemahasiswaan di kampusnya pun menjadi salah satu pembentuk jiwa kepemimpinan serta kemandirian. Selain aktif di himpunan mahasiswa, dia juga pernah menempati posisi puncak sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya itu.

    "Karena saya orangnya senang berinteraksi dengan banyak orang. Dari situ saya banyak dapat pelajaran karena jadi ketua itu pasti banyak intrik-intrik dengan teman, harus debat dengan orang, debat dengan rektorat. Dari situ menjadi modal ketika masuk di dunia kerja," papar pria yang pernah menjabat sebagai ketua pers jurnalistik UPI ini.

    Merasa belum puas dengan aktivitas yang dia kerjakan, tepatnya pada 2000 lalu, pria yang kini usianya menginjak 37 tahun ini, mencoba untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris bernama Bee Club bersama rekan-rekannya itu.

    Selang dua tahun memasuki 2002, Agus mulai mengaplikasikan ilmu yang dia miliki dan mengajar menjadi guru honorer di SMKN 1 Cimahi. "Ya, saya mulai mengajar di sekolah itu," singkat dia.

    Memasuki 2003, aktivitas sosial dan kepemimpinan saat menjadi mahasiswa, kembali ia wujudkan dengan mendirikan sebuah lembaga sosial kemanusiaan di KBB. Dia aktif di kegiatan sosial dengan nama jaring pengaman umat dan kini resmi mendirikan Yayasan Bina Insan, yaitu sebuah lembaga sosial kemanusiaan yang fokus terhadap pemberian bantuan sosial dan pendidikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa.

    "Sekarang sudah ada tiga panti asuhan yang dikelola. Rumah Yatim dan Dhuafa (RYD) dan Rumah Peduli Umat (RPU) lokasinya di KBB. Alasan saya mendirikan ini atas dasar keprihatinan dan melihat masyarakat sekitar di KBB. Saya menggerakannya sama teman-teman satu kampus," ujarnya.

    Setelah menuntaskan studinya di S1 UPI, tepatnya pada 2005, pria yang kini menjabat sebagai ketua jurusan rekayasa perangkat lunak SMKN 1 Cimahi ini melanjutkan studinya di S2 Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mengambil jurusan Teknik Elektro.

    Usai menuntaskan studi S2, dia diangkat menjadi guru PNS dan langsung menjabat sebagai ketua kompetensi keahlian rekayasa SMKN 1 Cimahi. "Selama S2 saya nggak banyak aktivitas karena waktunya singkat dan saya lulus 2007," ucapnya.

    Selain aktivitasnya sebagai guru, diakui Agus, dia mulai aktif untuk mensosialisasikan konsep teknopreneurship, yaitu kewirausahaan bagi siswa didiknya sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Teknopreneurship, kata Agus, sebagai salah satu upaya untuk mencetak kemandirian di kalangan alumni SMK yang biasa selalu bekerja, ditanamkan untuk berwirausaha.

    Dengan segudang aktivitas yang dimilikinya, dia berharap bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. "Semoga bisa berkontribusi besar. Menurut saya Een Sukaesih Award ini sangat baik dan bisa memotivasi saya semakin giat lagi dalam melakukan aktivitas lainnya," pungkas Agus. (ing)


    TAG :


    Berita TERKAIT