• Masyarakat Belum Paham Mengenai Pariwisata Halal

    Oleh : Doni Ramdhani11 November 2016 17:25
    fotografer: Syamsuddin Nasoetion
    •  Share
    INILAH, Bandung - Beberapa bulan ke belakang, istilah pariwisata halal digadang-gadang sebagai roda penggerak ekonomi baru.

    Menanggapi hal ini, anggota Komisi X DPR RI Popong Otje Djundjunan menyebutkan istilah baru ini belum ada kesamaan pandangan di tataran masyarakat.

    "Di rakernya (rapar kerja) dengan Komisi X (DPRI RI) saja itu belum ada kebulatan (pemahaman). Tunggu saja," kata Popong usai Seminar Kebangsaan di Universitas Sangga Buana (USB) YPKP, Jumat (11/11/2016).

    Menurutnya, masyarakat luas belum memahami dan mendapat pengertian yang sama mengenai konsep pariwisata halal ini. Pemahaman ini diakuinya relatif penting.

    Dengan kata lain, kata dia, selain pemerintah sebagai pemegang kekuasaan, namun kesamaan visi ini kudu dipahami bersama para pemangku kepentingan di industri pariwisata termasuk warga.

    Seperti diketahui, Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (PP2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Pusat Halal Salman ITB mendorong peningkatan kualitas layanan pariwisata halal yang dinilai masih minim.

    Kepala PP2Par ITB Budi Faisal mengemukakan potensi kunjungan wisatawan muslim yang membutuhkan layanan pariwisata halal cukup besar, karenanya dia mendorong agar kualitas layanan pariwisata halal terus ditingkatkan.

    "Semuanya bertahap, karena kita nggak lihat jumlah dari yang 19 juta itu ya. Sebelumnya sudah ada 2 juta pengunjung muslim, kita targetkan dua kali lipatnya sampai 4 juta di 2019," kata Budi.

    Dia menjelaskan, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia tentu memiliki potensi yang besar. Melihat peluang tersebut, industri di sektor kepariwisataan halal perlu diperhitungkan.

    Meski besarnya potensi pariwisata halal telah terbukti, pengetahuan dan wawasan akan konsep maupun prinsip pariwisata ini belum begitu menggaung di Tanah Air. Hal tersebut dapat terlihat, salah satunya dari fasilitas akomodasi di sejumlah destinasi pariwisata di Indonesia yang belum mendukung kebutuhan wisatawan Muslim dalam beribadah.

    "Dari hal yang kecil saja, seperti tidak ada penanda arah kiblat dan belum tersedianya keran untuk berwudhu di tiap kamar, maupun musalah yang tidak terawat," ujarnya.

    Konsep pariwisata halal ini diakuinya berarti segala sesuatu yang tidak membahayakan manusia dan lingkungan, serta sesuai dengan koridor aturan Islam. Selama bagian-bagiannya tidak bertentangan dengan prinsip Islam, maka suatu hal sudah dapat dikatakan halal. Dengan kata lain, konsep halal sejatinya adalah konsep yang universal.

    Budi menjelaskan, inilah yang membuat kebaikan prinsip halal begitu menarik bagi para wisatawan. Pertama, makanan yang disajikan terbukti sehat dan bersih. Kedua, daya tarik wisata maupun fasilitas rumah makan yang tidak menyediakan makanan dan minuman beralkohol, otomatis meniadakan suasana tidak nyaman karena kehadiran orang-orang yang sedang mabuk.

    Angka kunjungan wisatawan muslim di Indonesia ini terbanyak dibandingkan wisatawan lainnya. Mereka memiliki skala jumlah pengeluaran yang cukup besar. Saat berwisata, mereka otomatis mengharapkan fasilitas dan layanan yang tidak melanggar prinsip Islam. Budi berharap, konsep halal dapat diterapkan ke segala lini dalam destinasi pariwisata di Indonesia. [jek]


-->