• UNBK Selesai, Banyak Kendala Harus Diperbaiki

    Oleh : Okky Adiana14 April 2017 19:49
    INILAH, Bandung - Sejak diberlakukannya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) beberapa tahun ke belakang, memang menjadi tantangan tersendiri bagi setiap sekolah yang melaksanakannya.

    Setiap sekolah yang melaksanakn UNBK, tentu saja mereka harus memiliki sarana dan prasana yang mendukung. Mulai dari komputer (PC), atau laptop. Server yang memadai dan dilengkapi dengan UPS, jaringan lokal dengan media kabel, koneksi internet dengan kecepatan yang memadai, asupan listrik yang memadai dan juga ruangan ujian yang memadai.

    Hal ini dilakukan, untuk memberikan kenyamanan kepada peserta didik saat mereka melaksanakan ujian tersebut. Sehingga tak ada kendala saat pelaksanaan berlangsung.

    Namun, pada kenyataannya dilapangan, selama UNBK berlangsung, ada beberapa sekolah khususnya di Jabar yang mengalami kendala teknis. Sebut saja masalah pasokan listrik yang bermasalah. Utamanya di daerah-daerah tertentu. Mulai di daerah Baleendah, Ciwidey, dan Kota Sukabumi.

    Sistem ujian ini diklaim telah dapat menghemat anggaran karena biaya pencetakan naskah soal, lembar jawaban, serta pendistribusiannya berkurang drastis. UNBK seakan menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem pendidikan.

    Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Bandung, Dheka Dwi Agustiningsih menilai,
    berbagai kendala terkait penyelenggaraan UNBK masih banyak dijumpai.

    Ujian yang menggunakan sistem semidaring (semi-online) ini kata dia, banyak terbentur kendala dari sisi infrastruktur sekolah. Mulai dari ketersediaan komputer, baik pengadaan komputer oleh sekolah tersebut, peminjaman dari sekolah lain atau orangtua siswa, kelaikan pakai, listrik yang padam, ketersediaan genset, dan lainnya.

    Dalam hal ini, lanjut dia, tentu saja tidak boleh sekadar menakar sekolah di kota-kota besar. Akan tetapi, sekolah-sekolah di perdesaan yang jauh dari kota dan sinyal internet yang baik, di wilayah pedalaman, di perbatasan negara, atau bahkan di wilayah perbatasan kota tetapi para siswa dan gurunya masih asing terhadap teknologi komputer.

    "Selain itu, tantangan bagi penyelenggaraan UNBK juga terkait dengan siswa disabilitas. Kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya dapat dimanfaatkan bagi mereka yang nondisbilitas," ujarnya.

    Berbagai sistem dan program yang mendukung dan membantu para siswa disabilitas perlu dibangun dan digunakan misalnya program pembaca layar bagi tunanetra yang sangat mengandalkan indera pendengarannya atau program dengan bahasa isyarat bagi siswa tunarungu-wicara.

    Tidak hanya itu, ruangan atau setting kelas ujian bagi siswa tunanetra dan tunarungu-wicara perlu diatur sedemikian rupa agar dapat memfasilitasi kebutuhan mereka dalam pelaksanaan ujian.

    Ini dimaksudkan untuk memperoleh hasil pencapaian belajar yang sedekat mungkin dengan kemampuan yang dimiliki oleh para siswa.

    "Hal lain yang perlu menjadi fokus kita bersama adalah bahwa komputer tidak sekadar digunakan pada pelaksanaan ujian atau pada saat simulasi/latihan ujian. Sebelum dijadikan basis ujian komputer selayaknya sudah digunakan dalam proses pembelajaran," pungkasnya. [jek]