• Headline

    Mekanisme Berubah, Penyaluran Dana BOS ke Sekolah Terlambat

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar19 April 2017 11:35
    INILAH, Bandung - Perubahan mekanisme penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari bentuk hibah ke belanja anggaran membuat penyelenggara pendidikan harus melewati masa transisi karena ada beberapa hal yang harus disesuaikan.

    Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Ahmad Hadadi mengatakan perubahan mekanisme inilah yang membuat penyaluran dana BOS dari provinsi ke rekening masing-masing sekolah juga menjadi terlambat.

    "Masalahnya sekolah tidak biasa. Itu harus menjadi perhatian bersama bahwa dalam pengelolaan keuangan pendidikan ini tidak bisa disamakan dengan belanja kantor," kata Hadadi kepada wartawan ditemui di Bandung, Rabu (19/4/2017).

    Karena pendidikan ini bentuknya memberikan pelayanan, lanjut Hadadi, maka tidak boleh tidak ada anggaran dalam operasionalnya. Setiap bulan harus dipastikan anggaran ada dana untuk hal tersebut karena sistem akademik di Indonesia yang dimulai pada pertengahan tahun pun turut berpengaruh.

    Maka dari itu, perlu ada perbaikan regulasi dari pemerintah pusat terkait penyaluran dana BOS agar pelayanan pendidikan tidak terhambat atau minimal tidak membuat sekolah berutang kepada pihak ketiga agar penyelenggaraannya terjamin.

    "Kami juga memberikan kesempatan kepada sekolah untuk membuka peluang kepada alumni, perusahaan, dan masyarakat yang mau berpartisipasi dalam pelaksanaan operasionalnya," kata Hadadi.

    Ditemui terpisah Kepala SMAN 10 Bandung Ade Suryaman mengatakan, pihaknya telah lama melibatkan peranan alumni, masyarakat, dan orangtua siswa dalam penyelenggaraan operasional sekolah melalui dana sumbangan pendidikan (DSP).

    "Kami jelaskan kepada mereka apa yang menjadi kebutuhan kami. Alhamdulillah banyak orangtua yang mengerti. Saya katakan kepada mereka mungkin ada rejeki yang masuk untuk kepentingan sekolah, InsyaAllah jadi berkah," ujar Ade.

    Sementara Ketua Pertemuan Alumni Akbar SMAN 10 Bandung Muhammad Ikbal mengatakan, pada alumni merasa bertanggungjawab untuk membantu keberlangsungan kegiatan belajar mengajar sekolah dan penyediaan sarana-prasarana yang layak untuk siswa.

    Menurutnya, alumni harus peduli dengan almamaternya dahulu karena keterlibatan alumni akan berpengaruh terhadap penilaian akreditas dari Badan Akreditasi Nasional (BAN).

    "Kami berharap alumni tidak berperan pada saat Reuni Akbar pada Minggu (23/4) saja. Ke depan diharapkan semakin gencar. Ini payung hukumnya sudah jelas, bukan pungli. Tapi ini bentuk donasi," ujar Ikbal.[jek]