• Indonesia Minim Dosen Bergelar Doktor

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar10 September 2017 15:11
    INILAH, Jakarta - Urgensi peningkatan jumlah Doktor di Indonesia menjadi sorotan pemerintah saat ini. Dari sekitar 250 ribu jumlah dosen di Indonesia yang mengajar di perguruan tinggi, hanya 14% yang menyandang gelar doktoral atau sekitar 34.223 pertahun 2017 berdasarkan data statistik yang dilansir Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.

    Tentu saja angka tersebut masih terbilang jauh dari target minimal 20% jumlah Doktor yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan nasional sumber daya manusia di Indonesia. Yang memilukan, tenaga dosen di perguruan tinggi justru dipenuhi oleh lulusan sarjana dengan jumlah kurang lebih sebanyak 180 ribu orang.

    Stah Ahli Direktur Kualifikasi Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), John Pariwono mengatakan, tugas utama pemerintah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia dapat dilakukan dengan mengatrol jumlah Doktor di kampus-kampus agar semakin banyak.

    "Caranya, yang lulusan sarjana kita hilangkan agar minimal bergelar S2. Kemudian yang sudah memiliki gelar S2 kita dorong agar menjadi Doktor. Kalau mau berkompetisi dengan perguruan tinggi lain (di luar negeri), ya rata-rata dosennya harus S2 atau S3," kata John kepada wartawan dalam diskusi peranan bersama Monash University di Jakarta, Minggu (10/9).

    Menurut John, semestinya pada tahun 2019 nanti Indonesia dapat memiliki penambahan dosen lulusan S3 sebanyak tujuh ribu orang lagi. Namun mengingat kondisi anggaran kas negara yang saat ini masih berfokus kepada pembangunan infrastruktur, maka dia mencoba realistis jika target tersebut tidak akan mungkin tercapai.

    Dia menjelaskan, kemustahilan tersebut karena anggaran pendidikan tinggi mengalami pemotongan yang cukup besar karena alokasi pembangunan yang sangat besar. Ke depan dia berharap penganggaran untuk pendidikan tinggi diperhatikan lebih baik lagi, karena pembangunan negara tidak selalu dilihat dari fisiknya saja.

    "Saat ini kami tengah mengupayakan alokasi dana bukan hanya dari anggaran di Kemenristekdikti, kami juga menjalin dengan pihak-pihak lain seperti universitas di luar negeri agar dapat memberikan beasiswa doktoral kepada dosen-dosen Indonesia," ujar John.


    Kementerian telah menjalin kerjasama beasiswa S3 dengan perguruan tinggi di luar negara untuk mendorong peningkatan jumlah dosen bergelar doktoral di kampus-kampus di dalam negeri. Salah satunya adalah Monash University yang terletak di negara bagian Melbourne, Australia.


    Wakil Rektor Monash University Zlatko Skrbsi mengatakan, pihaknya mendukung penuh program pemerintah Indonesia dalam peningkatan jumlah dosen doktoral di kampus-kampus. Caranya dengan memberikan beasiswa kepada dosen-dosen yang memenuhi kualifikasi dan berprestasi di bidang akademiknya masing-masing.

    "Kami setiap tahun mempunyai 70 Doktor dari Indonesia, sedangkan jumlah mahasiswa Indonesia keseluruhan ada 1.400 orang. Mari kita tingkatkan kerjasama yang baik ini," kata Zlatko.


    Menurut Zlatko, program beasiswa Doktor untuk dosen Indonesia harus didukung agar kapasitas sumber daya manusianya dapat ditingkatkan. Salah satu bentuk dumungannya dari segi akademiknya yakni pengembangan kapasitas profesional mereka.


    Selain itu, lanjut Zlatko, pihaknya juga mendukung penuh jika mahasiswa S3 asal Indonesia ingin lebih banyak menerbitkan jurnal internasional mereka. Perlu diketahui, publikasi jurnal internasional juga merupakan program utama lainnya Kemenristekdikti.


    "Kami pastikan, program doktoral Monash University sejalan dengan kebutuhan pemerintah Indonesia dan industri yang ada, di samping kebutuhan akademik yang utamanya," pungkas Zlatko. [jek]