• Saatnya Sastra Kembali ke Sekolah

    Oleh : ule11 September 2017 23:01
    INILAH, Jakarta - Sudah saatnya sastra kembali membersamai keseharian siswa di sekolah. Dengan sastra, literasi siswa akan semakin meningkat dan juga kekayaan lokal akan terjaga.

    Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dadang Sunendar mengatakan, kondisi dunia sekolah saat ini sangat miskin kesusatraan. Siswa-siswa sudah semakin meninggalkannya seiring dengan kemajuan zaman.

    Untuk itu, dia pun berharap ada perubahan yang lebih modern yang menyesuaikan dengan kondisi teknologi saat ini dari Balai Pustaka sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dahulu menjadi pelopor dalam mempopulerkan karya-karya sastrawan Indonesia.

    "Sekarang kan sudah zamannya teknologi, Balai Pustaka diharapkan mampu mereproduksi karya-karya sastra yang populer dalam bentuk digital misalnya," kata Dadang ditemui di sela-sela Majelis Sastra Asia Tenggara di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (11/9).

    Pertemuan itu, kata Dadang, mempertemukan para sastrawan kenamaan dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tujuannya untuk saling memperkenalkan kekayaan sastra lokal masing-masing negara dan memberikan masukan bagi kemajuan sastra.

    Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kemajuan sastra di kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, tentunya hal itu harus dibarengi dengan regenerasi agar karya-karya sastra Nusantara digandrungi oleh masyarakatnya sendiri terlebih dahulu.

    "Reproduksi sastra bisa lewat penerbitan ulang atau anak muda yang berkarya. Harapannya, karya-karya sastra dari Indonesia dan juga negara lainnya dapat mempersatukan kawasan Asia Tenggara," ujar Dadang.

    Lantas bagaimana agar sastra dapat dibibitkan di sekolah-sekolah? Dadang mengatakan, hal itu sudah dilakukan pemerintah melalui program sastrawan masuk sekolah. Siswa dilatih dan dididik untuk melahirkan karya sastra, sehingga mereka benar-benar mencintainya.

    Sastra masuk sekolah ini nantinya akan menyesuaikan dengan jenjang dan usia siswa. Sebagai awalan, karya sastra yang diperkenalkan pertama kali bisa dimulai dari buku cerita rakyat yang sesuai dengan daerah masing-masing sampai karya sastra dalam bentuk puisi atau prosa.

    "Awalnya mereka harus tertarik dahulu, supaya membaca karya sastra itu," ujar Dadang. [jek]

    Sebagai bentuk dukungan kepada Balai Pustaka agar mampu bertahan di tengah perkembangan teknologi, pemerintah saat ini tengah gencar melakukan digitalisasi karya-karya sastra dahulu dan kontemporer.

    Tujuannya, agar anak-anak muda usia sekolah dan kuliah dapat mengakses inspirasi sastra dengan mudah, sesuai dengan habitat mereka saat ini, melalui perangkat gadget.

    "Tahun lalu kami melakukan digitalisasi sebanyak 165 karya sastra dan tahun ini rencananya sebanyak 150 karya. Sedangkan total yang telah kami digitalkan sudah ribuan karya sastra," pungkasnya.