• “Pak Presiden, Saya Minta Uang PIP jadi Rp 10 juta”

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar19 November 2017 15:46
    fotografer: Daulat Fajar Yanuar
    INILAH, Bogor - Tidak semua anak dapat mengakses pendidikan dengan mudah. Tak sedikit pula dari mereka yang harus melalui jalan menanjak beronak duri.

    Sebagian dari mereka seringkali harus turut banting tulang membantu orangtuanya agar dapat membiayai pendidikannya sendiri. Namun pantang menyerah dengan keadaan sebelum cita-cita tercapai.

    Salah satunya adalah Muhammad Ismail yang duduk di kelas VIII SMPN 6 Kota Bogor itu setiap harinya berjalan kaki dari rumahnya di daerah Sindang Barang Jero, Kota Bogor, ke sekolahnya yang menempuh jarak sekitar 10 km pulang pergi. Baginya, tidak masalah berlelah-lelah menempuh peluh selama dia masih bisa mengenyam pendidikan, demi kebaikan dirinya dan keluarganya di masa depan.

    “Iya, saya setiap hari ke sekolah jalan kaki. Udah biasa. Kalau naik angkutan umum ongkosnya lumayan,” kata Mail saat berbincang-bincang di sekolahnya, Bogor, Sabtu (18/11).

    Jangankan jalan kaki ke sekolah, membantu kedua orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun Mail tidak berkeberatan. Di benaknya, kesulitan yang sedang dihadapi keluarganya harus ditanggung bersama. Syukur-syukur dengan begitu dapat membantu meringankan beban biaya pendidikan sekaligus membuat dapur ibunya terus ngebul.

    Sepulang sekolah, setiap Sabtu, Mail biasa menyibukkan dirinya dengan menjadi kuli bangunan. Jangan membayangkan bayarannya besar, hanya Rp30 ribu. Namun, baginya tidak masalah karena yang penting waktu senggangnya digunakan untuk hal-hal yang berfaedah.

    Bukan hanya itu, jikapun pada hari biasa setiap Senin sampai Jumat urusannya di sekolah sudah kelar, Mail tidak segan melepaskan seragamnya untuk kemudian menjadi kenek angkutan umum. Trayeknya tidak perlu jauh-jauh, yang terpenting dirinya bisa menjaga kesehatan agar esok bisa kembali bersekolah. “Kalau hari Minggu, saya biasanya membantu orangtua berjualan jajanan cilok dan sayuran,” katanya.

    Memang untuk anak seumuran Mail yang berusia sekitar 15 tahun, dia memiliki tubuh yang tegap dengan punggung kaki yang menghitam pertanda dirinya turut bekerja keras membantu kedua orangtuanya.

    Meski demikian, Mail tidak lupa dengan kewajibannya sebagai siswa dan berusaha meraih impiannya setinggi mungkin. Dengan segala ujian kehidupan yang harus dijalaninya, dia sangat bersyukur bebannya agak sedikit ringan setelah mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

    Uang sebesar Rp750 ribu yang diterimanya dia simpan sebagai tabungan masa depan. Belum sepeserpun dia ambil uang tersebut. Memiliki tabungan sebesar itu bagi Mail adalah anugerah yang tidak ternilai dan cukup membuat hatinya sangat bersyukur.

    “Saya belum pernah punya kartu ATM dan buku rekening,” ujar pemuda bersenyum manis yang pernah mendapatkan juara dua lomba renang tingkat Provinsi Jawa Barat itu.

    Harapan Mail ke depan, Kemendikbud dapat meningkatkan jumlah uang Program Indonesia Pintar (PIP) yang diberikan kepada siswa setiap tahunnya. Tidak mau bermuluk-muluk, dia berharap uang PIP untuk siswa jenjang SMP ditambah menjadi Rp900 ribu setiap tahunnya. Alasannya sederhana, agar kebutuhan siswa untuk sekolah dapat lebih dipenuhi lagi.

    “Enggak usah banyak-banyak, ditambah Rp 150 ribu juga sudah cukup bagi saya,” kata Mail dengan polosnya.

    Di salah satu pojok Kota Bogor lainnya, salah satu siswa SDN Polisi 1 Kota Bogor, Muhammad Damar, juga memiliki harapan yang sama dengan Mail. Uang PIP sebesar Rp 450 ribu setiap tahunnya yang mereka dirasa sangat ngepas untuk kebutuhan sekolahnya.

    Jika anggarannya ditambah, kata Damar, maka ibunya tidak perlu terlalu membanting tulangnya di Pasar Anyar untuk tambahan uang sekolah bocah yang bercita-cita ingin menjadi arsitek itu. Kebutuhan sekolahnya pun akan semakin terpenuhi.

    “Mau, dong, kalau ditambah. Pak Presiden, saya minta uang PIP jadi Rp 10 juta,” kata Damar. (jul)