• Pariwisata Halal, Indonesia Sebaiknya Berguru ke Malaysia

    Oleh : Doni Ramdhani24 November 2016 18:16
    INILAH, Bandung - Armida Alisjahbana menyinggung terkait pariwisata halal yang kini relatif booming sebagai roda penggerak ekonomi. Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ini mengatakan, sebaiknya Indonesia belajar ke negeri jiran Malaysia.

    "Pariwisata halal ini bagus untuk dikembangkan. Apalagi Indonesia sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim," kata Armida usai Seminar Nasional Peningkatan Keutuhan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI di Universitas Padjadjaran (Unpad) kampus Dipati Ukur, Rabu (23/11/2016) petang.

    Menurutnya, dunia kepariwisataan halal di Indonesia relatif tertinggal dengan kemajuan Malaysia. Dia menuturkan, sebaiknya bangsa ini belajar ke Malaysia. Ini relatif ironis. Pasalnya, pada 70-80an Malaysia justru berguru ke Indonesia untuk membangun negerinya.

    "Kalau melihat sumber daya, kita jauh lebih bagus (daripada Malaysia). Masa kalah sama mereka. Destinasi kuliner dan budaya kita lebih menarik. Coba lihat Malaysia, bagaimana mereka bisa mengelola pariwisata halalnya," ucapnya.

    Sebelumnya, kendati Indonesia dikenal luas sebagai negara muslim terbesar ini hanya mampu mendatangkan 1,7 juta wisatawan saja. Kepala Unit Center for Tourism Destination Studies (CTDS) Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung Wisnu Rahtomo menyambut positif konsep halal tourism tersebut. Sejauh ini, pihaknya melakukan berbagai penelitian sesuai amanat tridarma perguruan tinggi.

    "Saat ini kita sedang melakukan penelitian terkait halal tourism. Ada tiga daerah yang sedang kita petakan. Yaitu Bandung, Borobudur, dan Malang," kata Wisnu.

    Menurutnya, khusus mengenai pariwisata halal ini merujuk hasil penelitian yang menunjukkan ada sekitar dua miliar penduduk dunia yang melakukan berbagai perjalanan. Contohnya, di kawasan Timur Tengah saja ada sekitar ratusan ribu bahkan jutaan orang yang melakukan perjalanan.

    Angka itu untuk satu bulan. Mayoritas turis muslim itu berkunjung ke Tanah Suci Mekah untuk wisata religi. Kebanyakan, para turis muslim itu berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Cina.

    "Hasil dari penelitian itu menunjukkan pada tahun 2015 ada sekitar 187 juta wisatawan muslim yang berkeliaran melalukan halal tourism di dunia. Indonesia hanya mampu mendapatkan 1,7 juta wisatawan," sebutnya.

    Wisnu mengaku, capaian industri pariwisata halal di Tanah Air itu jauh tertinggal dengan negara jiran. Pada tahun yang sama, Malaysia mampu meraih sebanyak 6 juta wisatawan, Singapura mendapat 4 juta, dan Thailand mencapai 5 juta.

    Berdasarkan hal itu, dia mengakui Indonesia ketinggalan jauh untuk mendapatkan lebih banyak wisatawan muslim. Pasalnya, produk yang menjadi hal utama di Indonesia relatif belum mampu.

    Padahal, sisi produk itu yang menjadi perhatian utama wisatawan muslim. Menurutnya, kalau ingin menjadi pemenang dalam kompetisi ini pelaku usaha industri halal tourism ini kudu mengikuti global standard. Patokan tersebut berisikan sejumlah indikator yang menunjukkan bagaimana sebuah destinasi bisa diminati.

    "Pariwisata halal di kita itu hanya tinggal perlu sertifikasi. Ini sebagai infrastruktur yang paling penting," tambahnya.

    Seperti diketahui, Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (PP2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Pusat Halal Salman ITB mendorong peningkatan kualitas layanan pariwisata halal yang dinilai masih minim.

    Kepala PP2Par ITB Budi Faisal mengemukakan potensi kunjungan wisatawan muslim yang membutuhkan layanan pariwisata halal cukup besar, karenanya dia mendorong agar kualitas layanan pariwisata halal terus ditingkatkan.

    "Semuanya bertahap, karena kita nggak lihat jumlah dari yang 19 juta itu ya. Sebelumnya sudah ada 2 juta pengunjung muslim, kita targetkan dua kali lipatnya sampai 4 juta di 2019," kata Budi.

    Dia menjelaskan, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia tentu memiliki potensi yang besar. Melihat peluang tersebut, industri di sektor kepariwisataan halal perlu diperhitungkan. [jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT