• Wisata ke Jabar, Turis Diarahkan Pakai KA

    Oleh : Doni Ramdhani08 Januari 2017 15:20
    •  Share
    INILAH, Bandung - Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jabar mengaku serius dengan rencana perluasan moda tranportasi para wisatawan mancanegara. Untuk itu, medio Januari ini promotor pariwisata tersebut akan menyambangi Daerah Operasi (Daop) 2 PT Kereta Api Indonesia.

    Wakil Ketua BPPD Jabar Maktal Hadiyat mengaku, selama ini para wisman yang mengunjungi Jabar kebanyakan turun di Bandara Soekarno-Hatta. Untuk mempercepat waktu kedatangangan ke Tatar Priangan, moda transportasi kereta bisa menjadi andalan. Keberadaan mode transportasi massal ini strategis bagi dunia pariwisata Jabar.

    "Ya, kita serius akan menggarap kerjasama dengan PT KAI ini. Turis yang turun di (Bandara) Soekarno-Hatta akan diarahkan menggunakan kereta menuju Bandung," kata Maktal kepada INILAH, Minggu (8/1/2017).

    Menurutnya, penggunaan moda transportasi kereta ini memberikan kepastian waktu yang relatif lebih cepat. Terlebih, saat ini jembatan Cisomang jalan tol Cipularang tidak bisa dilewati kendaraan bertonase besar. Ujungnya, perjalanan darat sedikit memutar dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan lama.

    "Solusinya, ya, kereta api," tambahnya seraya menyebutkan pihaknya siap melakukan reservasi jika mengharuskan penggunaan passport.

    Sebenarnya, Maktal menyebutkan para bule yang akan melanjutkan wisata ke daerah lain sudah menggunakan kereta. Sebut saja KA jurusan Bandung-Yogyakarta dan Bandung-Kutoarjo. Para wisman sebagai tamu pun mengaku nyaman menggunakannya.

    Namun, dia mengusulkan agar PT KAI melakukan updating terkait makanan di restorasi kereta. Setidaknya, mereka menyediakan makanan-minuman yang familiar dengan lidah para bule.

    "Saat ini persoalannya, penerbangan direct flight ke Bandung yang membawa wisman itu semakin berkurang. Perjalanan darat melalui jalan raya kini kerap terjadi kemacetan di berbagai daerah," ujarnya.

    Kereta api diakuinya merupakan solusi terbaik bagi para wisatawan yang berniat mengunjungi Jabar. Terlebih, daerah ini tersebar luas stasiun pemberhentian kereta api. Dia menyebutkan, untuk wisatawan yang turun di Bandara Soekarno-Hatta kini mulai beralih menggunakan kereta api dibandingkan bus pariwisata. Ini dilakukan karena kemacetan parah kerap terjadi di daerah ibukota tersebut.

    "Meski ada penambahan biaya, penggunaan kereta api mampu menghindarkan wisatawan dari rasa lelah akibat kemacetan dan mereka enjoy mengunjungi wilayah ini. Itu yang terpenting," sebut Maktal.

    Sementara itu, Daop 2 merespons positif rencana BPPD Jabar terkait penggunaan layanan jasa transportasi massal. Manajer Humas Daop 2 Ilud Siregar mengatakan, selama ini pihak manajemen pusat memiliki kereta wisata komersial (kawis). Rangkaian kereta ini digunakan untuk keperluan khusus yakni pariwisata.

    "Kalau ada rencana untuk itu (layanan jasa transportasi pariwisata), kita menyambut baik. Tapi, selama ini mereka (BPPD Jabar) belum menemui kita untuk mendiskusikannya," kata Ilud.

    Menurutnya, kawis ini biasanya digunakan rombongan. Konsumen biasanya harus memesan terlebih dahulu. Dia mengaku, pemesanan ini bisa dilakukan kepada pihaknya. Nantinya, pesanan ini dikoordinasikan kepada unit komersial.

    "Untuk pemakaian kawis ini, masyarakat hanya tinggal pesan mau pake tanggal berapa. Rangkaiannya bisa disambungkan ke kereta wisata atau kereta reguler sesuai tujuan yang diinginkan," ujar Ilud seraya menyebutkan ini untuk kepastian waktu yang notabene untuk keperluan pariwisata.

    Dari informasi yang dihimpun, saat ini PT KA Pariwisata mengoperasikan tujuh unit kawis. Yakni, Nusantara, Bali, Toraja, Sumatera, Jawa, Imperial, dan Priority. Masing-masing interior kereta tersebut dihiasi dengan ornamen khas daerah.

    Khusus kawis Imperial, rangkaian ini terbaru milik PT KAI yang didesain hanya untuk 21 penumpang dengan formasi 2-1 sebanyak tujuh baris. Kursi dapat diputar 45 derajat menghadap jendela sehingga dapat melihat pemandangan selama perjalanan. Sedangkan, kawis Priority merupakan kereta pertama di Indonesia yang memiliki kualitas audio-video on demand (AVOD) seperti pesawat terbang. [jek]


-->