• BI Jabar Klaim Uang Baru Sulit Dipalsukan

    Oleh : Doni Ramdhani09 Januari 2017 17:30
    fotografer: Syamsuddin Nasution
    INILAH, Bandung - Sepanjang 2016 lalu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar menemukan 18.007 lembar uang palsu.

    Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah KPwBI Jabar Mikael Budisatrio mengatakan, uang palsu itu tertinggi beredar di Kabupaten Indramayu.

    "Tahun 2016 lalu, kita menemukan 18.007 lembar uang palsu di Jabar. Lima tertinggi ada di Indramayu sebanyak 5.433 lembar, selanjutnya Sukabumi 3.159 lembar, Kota Bandung 1.874 lembar, Garut 1.926 lembar, dan Cianjur 1.598 lembar," kata Mikael saat jumpa wartawan, Senin (9/1/2017).

    Menurutnya, dari tahun ke tahun peredaran uang palsu ini terbilang menurun. Pada 2015, uang palsu yang ditemukan itu sebanyak 15 lembar per sejuta lembar. Pada 2016, angkanya hanya sebanyak 6 lembar per sejuta lembar.

    Mikael menyebutkan, dengan beredarnya uang rupiah tahun emisi (TE) 2016 beberapa waktu lalu tindak pidana pemalsuan itu diharapkan mampu ditekan. Pasalnya, uang baru ini diakuinya relatif tidak bisa ditiru.

    Dengan dilengkapi 9-12 unsur pengaman yang lebih canggih, kata dia, uang yang secara resmi diluncurkan pada 19 Desember 2016 itu relatif lebih sulit dipalsukan.

    Fitur keamanan tersebut antara lain tanda air/watermark, benang pengaman, mikroteks dan miniteks, gambar tersembunyi/latent image, tinta berubah warna pada logo BI, gambar saling isi/rectoverso, kode tunanetra/blind code, visible dan invisible ink, cetak efek pelangi/rainbow feature, cetak kasar apabila diraba/intaglio, serta nomor seri yang dibentuk asimetris.

    "Ciri keaslian uang rupiah ini sebenarnya dapat dikenali dengan mudah. Yakni dengan cara 3D (dilihat, diraba, diterawang). Selain itu, karena rupiah ini merupakan simbol NKRI, terhadap uang ini kita lakukan 3K (kudapat, kusayang, kusimpan)," ucapnya.

    Sedangkan, Kepala Grup KPwBI Jabar Siti Astiyah menyebutkan jika menemui uang palsu sebaiknya segera melapor ke kantor kepolisian atau kantor perwakilan BI terdekat. Sebab, jika menyimpan uang rupiah palsu itu sesuai dengan UU No 7/2011 akan dihukum pidana penjara maksimal 10 tahun atau denda Rp10 miliar.

    Terkait penerbitan uang TE 2016, dia mengaku pihaknya secara bertahap akan memenuhi permintaan masyarakat. Dia pun menegaskan, peredaran uang baru ini jumlahnya tidak menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Uang TE 2016 ini dicetak dan diedarkan untuk menggantikan uang tidak layak edar yang ditarik. Ini dilakukan agar tidak menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dengan siklus tersebut, jumlah uang yang beredar di masyarakat tetap terjaga sesuai kebutuhan.

    Dia menyebutkan, dengan proses monitoring yang ketat BI memastikan jumlah uang yang ditarik dan dimusnahkan dari waktu ke waktu tidak pernah lebih dari yang dicetak dan diedarkan ke masyarakat. Dengan demikian, tidak terdapat tambahan pencetakan dan pengedaran uang dari jumlah yang ditetapkan.

    Sesuai dengan UU No 7/2011, pencetakan rupiah dilakukan BI dengan menunjuk badan usaha milik negara (BUMN) yaitu Perum Peruri sebagai pelaksana pencetakan rupiah. BI menegaskan, pencetakan uang rupiah TE 2016 ini dilakukan seluruhnya oleh Perum Peruri.

    Secara periodik, pengelolaan uang dilaporkan setiap tiga bulan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Selain itu, untuk menjamin akuntabilitas pelaksanaan pencetakan, pengeluaran, dan pemusnahan Rupiah, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit secara berkala. Pelaksanaan audit yang terdiri dari audit umum dan audit terkait pengelolaan uang ini dilakukan dua kali dalam setahun.

    Seperti diketahui, pada Senin (19/12) lalu secara resmi dikeluarkan dan pengedaran sebelas pecahan uang rupiah TE 2016. Bertempat di gedung BI Jakarta, diterbitkan tujuh pecahan uang kertas dan dan empat pecahan uang logam. Uang rupiah kertas TE 2016 itu terdiri dari pecahan Rp100 ribu, Rp50 ribu, Rp20 ribu, Rp10 ribu, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000. Sedangkan, untuk uang logam terdiri dari pecahan Rp1.000, Rp500, Rp200, dan Rp100. [jek]