• Headline

    Bisnis Kopi Tumbuh 6%

    Oleh : Doni Ramdhani14 Mei 2017 15:47
    INILAH, Bandung - Meminum kopi kini menjadi sebuah gaya hidup. Seiring dengan itu, kondisi bisnis biji berkafein ini tumbuh setiap tahunnya.

    Manager Marketing Taman Delta Indonesia Moeljono Soesilo mengatakan, pertumbuhan konsumsi kopi setiap tahun terhitung sebesar 1,5-2%. Lonjakan terbesar terjadi di negara berkembang dan negara penghasil kopi.

    "Kondisi bisnis kopi di Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan. Angkanya sekitar 5-6% per tahun atau 15 ribu ton dengan tingkat konsumsi kopi pada 2016 sekitar 5 juta karung atau 300 ribu ton," kata Moeljono saat Seminar Nasional dan Pameran Kopi Jawa Barat di Kancah Internasional, Sabtu (13/5).

    Menurutnya, pemerintah dan para pelaku usaha kopi didorong untuk mengambil kesempatan peningkatan pasar seiring dengan melesat konsumsi masyarakat dunia terhadap minuman kopi. Negara tradisional peminum kopi antara lain Amerika Serikat, Jepang, Skandinavia, dan Eropa Barat. Tingkat konsumsi di negara maju tersebut mencapai 40%.

    Kini, dia menyebtukan terdapat negara yang mulai minum kopi. Antara lain Korea, Tiongkok, Timur Tengah. Selama ini, Brazil, Indonesia, Vietnam, dan India merupakan sebagai produsen kopi dunia.

    Peningkatan konsumsi kopi di Indonesia ini dikarenakan banyaknya generasi muda yang selalu ingin mencoba yang baru dan western, kemakmuran yang meningkat, mayoritas penduduk muslim, perkembangan teknologi, dan pesatnya perkembangan bisnis hotel, restoran dan kafe. Potensi kopi robusta di dalam negeri terhitung mencapai 5-6 ribu ton dan Arabica 1.200-1.500 ton.

    "Namun, saat ini masalahnya berada di sektor produksi. Tingkat kenaikan produksi hanya 1-2% atau setara 6-12 ribu ton. Ini pun dengan jumlah keluarga petani kopi yang hanya 1 juta penduduk saja," ujarnya.

    Sementara itu, guna merebut pangsa pasar kopi dunia Dinas Perkebunan Jabar dalam lima tahun terakhir ini fokus mendorong agar mengembangkan budidaya petani kopi organik. Kepala Dinas Perkebunan Jabar Arief Santosa mengatakan, pihaknya memberikan 10 juta benih kopi kepada petani.

    Menurutnya, meningkatnya permintaan pasar baik dalam dan luar negeri terhadap kopi organik mendorongnya untuk membuat program pilot project kopi organik seluas 7 ha di lima kabupaten penghasil kopi di Jabar.

    Proses mengembangkan kopi organik diakuinya tidak semudah kopi konvensional. Pasalnya, dibutuhkan konsistensi petani yang telah mendapatkan pembinaan dan pelatihan tentang pengelolaan kebun kopi organik. Untuk itu, tugas penting lainnya yakni mendampingi dan mengawasi mereka agar bertahan di organik.

    Potensi ekspor kopi Jabar diakuinya masih relatif sangat besar. Diperkirakan, pada 2017 bisa menyerap sebesar 20% dan pada 2020 diperkirakan ada defisit sedikitnya 10 juta karung kopi ukuran 60 kg di seluruh dunia atau setara dengan 600 ribu volume kopi. Sementara, hingga 2020 permintaan kopi diprediksi mengalami peningkatan sebesar 2,5% setiap tahunnya. [jek]



meikarta.. the world of ours