• Pembiayaan Syariah Jabar Tumbuh 10,6%

    Oleh : Doni Ramdhani13 September 2017 16:20
    INILAH, Bandung - Pada triwulan II/2017 ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar memantau kondisi perkembangan keuangan syariah di Jabar meningkat. Ini ditopang pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah yang mengalami kenaikan.

    Kepala KPwBI Jabar Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, pertumbuhan pembiayaan syariah di Jabar terhitung sebesar 10,6%. Capaian ini meningkat dari triwulan I/2017 yang hanya tercatat sebesar 8,4%.

    "Pertumbuhan pembiayaan syariah sebesar 10,6% ini lebih tinggi dari capaian nasional yang hanya terhitung 8,6%," kata Wiwiek saat kick off Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2017 di Pusdai Jabar, Rabu (13/9).

    Meski demikian, dia menyoroti sisi demand pembiayaan ini. Pasalnya, sekitar 50% pembiayaan itu didorong kredit konsumsi. Sedangkan, kredit investasi hanya sebesar 20% dan sisanya untuk kredit modal kerja.

    Untuk itu, guna menggenjot peningkatan pembiayaan investasi ini pihaknya bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar financing syariah ini didorong untuk investasi. Sebab, invetasi inilah yang memberikan multiplier effect yang signifikan terhadap perekonomian yang lebih besar.

    Wiwiek pun menyebutkan, pertumbuhan total aset perbankan syariah di Jabar pun terhitung lebih tinggi dari capaian nasional. Angkanya mencapai 15,8% lebih tinggi dari pertumbuhan total aset syariah nasional yang hanya 10% saja. Khusus mengenai dana pihak ketiga (DPK), perbankan syariah di Jabar padaa triwulan II/2017 ini tercatat tumbuh stabil sebesar 14,2%. Pangsa DPK perbankan syariah Jabar terhadap total DPK perbankan syariah nasional sebesar 11,7%.

    Dia mengaku pihaknya melakukan berbagai upaya meningkatkan pangsa keuangan syariah di Jabar ini. Satunya diantaranya melalui kegiatan FESyar Regional Jawa 2017 yang berkolaborasi dengan Kantor Regional 2 OJK Jabar beserta berbagai lembaga keuangan syariah bank dan nonbank. Gelaran perdana bertema "Mewujudkan Jawa sebagai Poros Pemberdayaan Ekonomi Syariah Nasional" ini sebagai media edukasi dan sosialisasi produk-produk keuangan syariah bagi masyarakat. Kegiatan ini pun sebagai ajang mempromosikan dan mendekatkan produk dan jasa industri kreatif dan ketahanan pangan berbasis syariah kepada masyarakat.

    Sebagai informasi, Jabar memiliki peranan penting dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Dengan populasi terbanyak nasional mencapai 46,5 juta itu, 98% penduduknya beragama Islam. Sumber daya manusia itu sebagai faktor potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak utama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

    Secara umum, pengembangan ekonomi syariah di Indonesia ini mengacu pada tiga pilar utama. Yakni, Pilar Pemberdayaan Ekonomi Syariah yang menitikberatkan pada pengembangan sektoral usaha syariah, Pilar Pendalaman Pasar Keuangan Syariah yang merefleksikan upaya peningkatan manajemen likuiditas serta pembiayaan syariah, dan Pilar Penguatan Riset, Asesmen dan Edukasi termasuk sosialisasi dan komunikasi yang ditujukan sebagai landasan bagi tersedianya sumber daya insani yang andal, profesional, dan berdaya saing internasional.

    Jabar merupakan provinsi dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Agama, dari total pesantren sebanyak 28.961 pesantren itu 32%-nya atau 9.167 pesantren itu berlokasi di Jabar. Hasil riset BI bersama Center for Islamic Economic Studies (CIES) menunjukkan 51 pesantren di Jabar yang memiliki jumlah santri di atas 500 orang memiliki potensi sebagai lembaga ekonomi alternatif dalam pemberdayaan masyarakat pesantren berbasis ekonomi syariah.

    Sebelumnya, meski diperkenalkan sejak lama pangsa pasar keuangan syariah tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Bahkan, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan pertumbuhannya justru melambat.

    "Hingga Juni kemarin, performance keuangan syariah di Jabar ini share-nya hanya 4,97%. Dibandingkan dengan konvensional, performance ini sangat timpang," ucapnya.

    Menurutnya, capaian pangsa pasar ini sempat menyentuh angka 5,01%. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Situasi kurang menggembirakan tersebut membuatnya khawatir dan terus dikoordinasikan dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo). Dibandingkan dengan sistem keuangan konvensional, pertumbuhannya justru melambat.

    Secara umum, berdasarkan loan to financing ratio dia melihat angkanya diatas 101%. Namun, secara detil sistem keuangan syariah itu relatif masih banyak untuk kredit konsumsi. Sedangkan, pembiayaan kredit investasi dan modal kerja trennya negatif.

    Wiwiek menyebutkan, rekan-rekan di Asbisindo mengeluhkan perolehan dana-dana syariah relatif lebih mahal dari konvensional. Karenanya, mereka merilis ke nasabah relatif lebih mahal. Kendala lain dikarenakan sulitnya mendapatkan nasabah untuk investasi syariah. [jek]



meikarta.. the world of ours