• Kendaraan Gunakan BBG Masih Sedikit

    Oleh : Doni Ramdhani14 November 2017 19:59
    fotografer: Doni Ramdhani
    INILAH, Bandung - Bahan bakar gas (BBG) sebagai sumber energi belum begitu diminati warga Kota Bandung. Dari sekian banyak kendaraan, hanya segelintir yang memanfaatkannya.

    Leader Autogas Converter Muhammad Rizal Fauzi mengatakan, padahal program peralihan dari bahan bakar minyak (BBM) ke BBG ini merupakan program subsidi pemerintah.

    Sejauh ini, sejumlah kendaraan yang sudah memanfaatkan BBG, di antaranya empat unit kendaraan dinas Pemkot Bandung yang memasang converter kit compressed natural gas (CNG). Ditambah, 40 unit angkot jurusan Antapani-Ciroyom, 2 unit angkot jurusan Dipatiukur-Panghegar.

    "Paling banyak taksi Blue Bird. Ada 99 unit yang memasang converter unit," kata Rizal saat ditemui di lokasi mobile refuelling unit (MRU) milik Perusahaan Gas Negara (PGN) di Terminal Antapani Bandung, Selasa (14/11).

    Sebagai vendor pemasangan converter kit, dia menyebutkan pemasangannya relatif mudah. Tabung gas bisa dipasang di bagasi atau bagian bawah belakang angkot. Terlebih, pemasangannya tak perlu merusak atau membuang saluran BBM yang sudah ada.

    Mengenai harga converter kit, Rizal menyebutkan di pasaran mencapai Rp30 juta/unit. Melalui program subsidi, 100% biaya yang harus dikeluarkan itu ditanggung pemerintah. Selain itu, pemerintah pun memberikan cuma-cuma hingga pengisian awal.

    "Selanjutnya, pemilik kendaraan harus membayar sendiri BBG. Harga BBG-nya cuma Rp4.500/lsp (liter setara premium)," tambahnya seraya menyebutkan kendaraan dinas Pemprov Jabar sejauh ini belum ada satu pun yang memasang.

    Tak seperti LPG yang berbentuk cair, CNG ini berupa gas yang dimasukkan ke tangki penampung dengan kompresi udara. Dengan oktan 120, BBG ini diakuinya lebih ramah lingkungan. Plus, tidak mengakibatkan kerak pada mesin seperti halnya BBM konvensional. Harga pun relatif lebih ekonomis. "Satu tangki itu bisa menampung sebanyak 16 lsp CNG," ujarnya.

    Guna menyuplai BBG ini, PGN sebagai induk perusahaan menunjuk anak perusahaannya untuk memasarkan. Operator MRU PT Gagas Energi Indonesia Fudholi menyebutkan, di Kota Bandung ini baru satu unit MRU yang beroperasi.

    Berbeda halnya dengan kondisi di Jakarta yang sudah terdapat banyak stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Dia menyebutkan, kondisi tersebut karena animo masyarakat Jakarta lebih tinggi.

    "Kalau di Jakarta, SPBG ini sudah seperti SPBU aja, banyak. Di Bandung ya cuma satu ini di Antapani," akunya seraya menyebutkan setiap harinya MRU Antapani ini beroperasi pada pukul 06.00-23.00 WIB.

    Se-Jabar, kondisinya tak jauh berbeda. Keberadaan MRU ini hanya ada di Subang, Purwakarta, Bogor, Indramayu, dan Cirebon. Masing-masing kota/kabupaten itu hanya terdapat satu unit SPBG. Khusus di Purwakarta, itu melayani 33 unit kendaraan dinas Pemkab Purwakarta.

    Fudholi menyebutkan, satu unit MRU ini hadir di Terminal Antapani sejak dua tahun lalu. Unit tersebut melayani pengisian BBG kendaraan dinas, angkot, dan taksi.

    Selain itu, pihaknya pun menyediakan kendaraan gas transfer mobile (GTM). Kendaraan ini untuk mengirim BBG ke sejumlah industri. Di antaranya 4 dari 9 gerai McDonald di Bandung. Keempat outlet restoran cepat saji itu berada di Kopo, Soekarno-Hatta, Pasirkaliki, dan Cimahi. Plus, pabrik tahu di Lembang dan satu perusahaan konveksi di Jalan Soekarno-Hatta.

    Sementara itu, sopir taksi Blue Bird Erwin mengaku penggunaan BBG ini relatif irit dan hemat. Dengan mengisi penuh tabung berisi 16 lsp, kendaraannya bisa menempuh jarak sejauh 200 km.

    "Pemakaian BBG ini juga bisa secara otomatis dari BBM. Gampang sekali, cukup dengan memencet indikator peralihan yang dipasang di bawah setir," ujarnya.

    Dia mengaku, sejumlah sopir taksi lainnya mengharapkan penempatan MRU ini bisa dipindahkan ke lokasi yang lebih dekat. Sebab, kawasan Antapani ini relatif jauh dan kerap terjadi kemacetan. (jul)