• Bekraf Angkat Ekonomi Kreatif ke Jenjang Lebih Tinggi

    Oleh : Doni Ramdhani07 Desember 2017 22:54
    fotografer: Syamsuddin Nasution
    INILAH, Bandung - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus menggenjot kontribusi industri ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional.

    Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan, kini saatnya ekosistem industri ekonomi kreatif di negeri ini dibenahi. Pasalnya, sejauh ini ekosistem perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia ini relatif tertinggal dari negara lain.

    "Saat ini ekonomi kreatif telah menjadi salah satu pilar penting perekonomian Indonesia. Untuk itu, kita ingin ekonomi kreatif lebih massif lagi," kata Triawan saat jumla wartawan terkaot Word Conference Creative Economy (WCCE) 2018, Kamis (7/12).

    Menurutnya, pada 2015 lalu industri ekonomi kreatif ini berkontribusi hingga 7,3% dari pendapatan domestik bruto (PDB) negara. Angkanya mencapai Rp852 triliun. Jumlah ini meningkat dari 2014 yang hanya mencapai Rp756 triliun.

    "Dengan rata-rata kenaikan tersebut, kita optimistis pada 2017 ini angkanya bisa lebih dari Rp1.000 triliun," tambahnya.

    Triawan menjelaskan, dari 16 subsektor ekonomi kreatif tersebut terdapat tiga unggulan yang harus menjadi fokus perhatian. Ketiga subsektor itu yakni fesyen, kriya, dan kuliner. Industri kreatif diakui telah menunjukkan keunggulannya karena terus berkembang bahkan selama krisis keuangan dan ekonomi global baru-baru ini.

    Dengan pertumbuhan teknologi dan peningkatan pendapatan dari negara berkembang, jelas ekonomi kreatif akan menjadi masa depan ekonomi global. Berdasarkan penelitian, ekonomi kreatif menghasilkan pendapatan paling sedikit USD2.250 miliar, dan memiliki mempekerjakan 29,5 juta pekerjaan. Jumlah ini setara dengan 3% dari PDB Dunia dan 1% populasi aktif dunia.

    Khusus Indonesia, dia menuturkan ekonomi kreatif ini mampu menyerap 15,9 juta pekerja atau berkontribusi sebesae 13,90%. Industri ini pun memiliki nilai ekspor sebesar USD19,4 miliar.

    Lebih jauh, Triawan menegaskan Indonesia berencana mengadakan Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif (WCCE) pada Mei 2018 mendatang di Bali. Sebagai tahap awal, pihaknya mengadakan Pertemuan Persiapan Konferensi Ekonomi Kreatif Sedunia pada 4-7 Desember 2017 di Bandung.

    Pertemuan persiapan WCCE ini menghasilkan rumusan dari lima panel yang nantinya akan dibawa saat konferensi berlangsung. Triawan menjelaskan pertemuan tersebut melibatkan lebih dari 100 perwakilan dari pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, para ahli, akademisi, hingga organisasi internasional.

    Topik "Inklusif Kreatif" mencerminkan perubahan terkini yang dibawa ekonomi kreatif ke dalam ekonomi dunia sebagai penggerak peluang inklusif dan setara. Pada masa transisi lingkungan, sosial, demografis dan perkotaan, ekonomi kreatif bertindak sebagai jembatan untuk komunikasi dan pemahaman antar negara dan budaya. Ini menghubungkan ekosistem perkotaan, metropolitan, dan pedesaan. Dengan berkembangnya teknologi yang memberikan peningkatan aliran pendapatan dari negara berkembang, ekonomi kreatif termasuk dalam masa depan ekonomi global.

    Panel pertama membahas bagaimana ekonomi kreatif dapat memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, bagaimana pertukaran lintas budaya dalam kolaborasi ekonomi kreatif memperkuat kohesi sosial yang menyatukan orang, dan bagaimana the internet of things (IoT) di antara perubahan digital kontemporer dapat membantu menghilangkan kendala untuk kewiraswastaan.

    Panel kedua berfokus pada kerangka peraturan yang didedikasikan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi ekonomi kreatif, perlindungan dan promosi kekayaan intelektual dan dukungan sistem pembiayaan.

    Panel ketiga membahas potensi pasar yang belum dimanfaatkan dan strategi pemasaran yang efektif.

    "Dengan membentuk platform kemitraan internasional yang menghubungkan pengusaha dalam ekonomi kreatif antar negara sehingga akan merangsang lebih banyak kreativitas dan talenta," urainya.

    Panel keempat membahas peran usaha kecil dan menengah, termasuk para pemula dalam pengembangan ekonomi kreatif. Diantaranya, mengidentifikasi nilai-nilai, hambatan dan kebutuhan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung melalui kota-kota kreatif dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk bakat melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas.

    Pada panel kelima merumuskan ekonomi kreatif telah membawa era baru bisnis inklusif yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua pemangku kepentingan. Dalam hal ini juga menjembatani komunikasi dan pemahaman antar negara dan budaya. Dengan pertumbuhan teknologi dan peningkatan pendapatan dari negara berkembang, nampak bahwa ekonomi kreatif akan menjadi masa depan ekonomi global. [jek]