• Headline

    Bio Farma Dahulukan Vaksin Difteri untuk Dalam Negeri

    Oleh : Doni Ramdhani13 Januari 2018 06:09
    SAAT ini, Bio Farma mendahulukan suplai vaksin difteri untuk negeri sendiri. Pasalnya, pemerintah kini serius menangani kasus difteri yang menjadi kejadian luar biasa (KLB).

    "Untuk sekarang, jika memang di dalam negeri lebih membutuhkan kita tidak mendahulukan ekspor vaksin. Seperti saat ini dimana Pemerintah serius menangani KLB terkait penyakit difteri," kata Dirut Bio Farma Juliman di Forum Merdeka Barat 9 bertajuk 'Imunisasi, Difteri, dan Gerakan Antivaksin' di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jumat (12/1).

    Menurutnya, prioritas tersebut mengakibatkan pihaknya saat ini tidak mendahulukan ekspor. Bio Farma menunda ekspor ke UNICEF dan kerja sama bilateral untuk menyediakan vaksin ke dalam negeri. Bahkan, kini pihaknya menambah hari kerja. Lantaran kebutuhan dalam negeri meningkat, pihaknya kini bekerja selama tujuh hari kerja dari semula hanya lima hari.

    Juliman mengaku, langkah ini dilakukan karena di dalam negeri hanya Bio Farma satu-satunya produsen vaksin. Produk vaksin yang dihasilkan mendapatkan pengakuan World Health Organization (WHO). Untuk itu, setiap produk yang dihasilkan akan diuji dan tersertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

    Dia menambahkan, saat ini vaksin buatan Bio Farma diekspor ke 136 negara. Termasuk 50 di antaranya merupakan negara Islam.

    Sementara itu, memasuki awal 2018 ini Kementerian Kesehatan belum menerima laporan kasus difteri. Meski demikian, Menkes Nila F Moeloek memastikan kegiatan imunisasi diteruskan. "Imunisasi terus dilakukan untuk memastikan kita imun," tegas Nila.

    Menurutnya, outbreak response immunization (ORI) difteri merupakan langkah yang ditempuh pemerintah untuk menyergap kuman. Terkait ORI difteri, Nila menerangkan pada Januari 2018 ini pihaknya menargetkan hingga 90% capaian. Saat ini, capaian tersebut baru mencapai 65,12%.

    Sebelumnya, dengan memaksimalkan kapasitas yang dimiliki, Bio Farma akan menggenjot produksi vaksi difteri. Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, vaksin dengan kandungan difteri yang terdiri dari DT, Td dan DTP-HB-Hib pada 2018 mendatang akan diproduksi sebanyak 19,5 juta vial.

    "Jumlah tersebut, sudah termasuk untuk kebutuhan imunisasi nasional dan untuk kebutuhan ORI," kata Bambang.

    Menurutnya, dengan jumlah tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pemerintah. Kebutuhan itu termasuk untuk program imunisasi rutin dan pencegahan KLB difteri.

    Direktur Pemasaran Bio Farma M Rahman Rustan menyebutkan untuk pengadaan Anti Difteri Serum (ADS) hasil produksi Bio Farma, saat ini masih dalam tahap pengembangan dan optimalisasi. Untuk itu, guna memenuhi kebutuhan ADS pasien difteri masih melalui impor dari salah satu mitra.

    "Kami masih melakukan pengembangan dan optimalisasi produksi ADS. Selain itu, dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membuat ADS. Namun, saat KLB diperlukan penanganan yang cepat, sehingga pengadaan ADS dilakukan melalui mekanisme impor," sebutnya.

    Rahman menambahkan, dengan ketersediaan ADS yang terbatas itu distribusi dilakukan melalui kordinasi Kementerian Kesehatan dan rumah sakit pemerintah.

    "Saat ini kapasitas produksi Bio Farma, kami prioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Permintaan ekspor baik via UNICEF, PAHO dan bilateral telah kami nego untuk dijadwal ulang, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi," tuturnya. (jul)



    TAG :


    Berita TERKAIT