• Headline

    Harga Beras Bergejolak, Bulog Gelar Operasi Pasar

    Oleh : Doni Ramdhani14 Januari 2018 20:03
    INILAH, Bandung - Sejak pergantian tahun, harga beras medium mengalami kenaikan. Tak hanya di Bandung, kenaikan harga itu pun terjadi di Indramayu yang notabene lumbung beras di Jabar.

    Jenal Hadian (38), pedagang beras di Desa Pabean Udik, Kecamatan/Kabupaten Indramayu mengaku kenaikan itu terjadi seusai perayaan Natal 2017 lalu. Dia pun terpaksa menaikkan harga beras sekitar Rp1.000-1.500/kg.

    "Saya di sini menjual beras medium yang dulunya Rp8.500-9.500/kg jadi Rp10.000-10.500/kg. Langganan saya juga awalnya protes, tapi ke sini-sini bisa nerima," kata Jenal kepada INILAH, Ahad (14/1).

    Dia menduga, kenaikan harga tersebut akibat permintaan konsumen melonjak. Saat itu, selain perayaan hari raya di penghujung tahun pun masyarakat kerap membeli lebih banyak dari biasanya.

    Sama halnya dengan itu, gejolak harga beras medium pun diakui Kepala Bagian Operasional Bulog Divre Jabar Sri Emilia. Menurutnya, kini harga beras medium di pasaran mengalami kenaikan 10-15%. Untuk meredam gejolak harga yang lebih tinggi lagi, Bulog Jabar menggelar operasi pasar di sejumlah titik.

    Dia mengatakan, pada Selasa (9/1) lalu pihaknya melakukan operasi pasar beras medium di lima pasar Kota Bandung. Yakni, Pasar Andir, Kosambi, Sederhana, Kiaracondong, dan Pasar Baru. Sri mengaku pihaknya siap melakukan operasi pasar kapan pun dibutuhkan. Paslanya, pasokan beras medium ini cadangan relatif mencukupi untuk 3-4 bulan ke depan.

    "Kenaikan beras medium sekitar 10-15% itu berlanjut hingga Januari. Ini karena masa panen yang terbilang belum serentak. Panen hanya terjadi di beberapa titik," tambahnya seraya menyebutkan operasi pasar serupa digelar di tujuh subdivre se-Jabar yakni Bandung, Cimahi, Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, dan Cianjur.

    Sementara, di wilayah Bandung Raya pada Januari ini Bulog Subdivre Bulog siap menggelontorkan 600 ton beras medium per pekan. Kepala Bulog Subdivre Bandung Rasiwan mengatakan, pasokan tersebut untuk tiga kabupaten dan dua kota yang berada di wilayahnya.

    "Sampai hari ini, kita sudah menggelontorkan sebanyak 120 ton. Targetnya, di Januari ini per minggunya akan kami gelontorkan sebanyak 600 ton," uajr Rasiwan.

    Menurutnya, beras medium ini akan didistribusikan ke sejumlah pasar. Kebutuhan pokok ini dibanderol Rp9.350/kg sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

    Digelontorkannya beras medium ini ditujukan memberikan rasa aman masyaakat terkait beras. Terlebih, pada Desember lalu harga beras medium cenderung naik. Operasi pasar ini diakuinya sebagai bentuk penetrasi beras medium ke masyarakat. Sebelumnya, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kabupaten/kota setempat.

    Operasi pasar ini tak lain bertujuan untuk menekan harga jual di atas HET. Kenaikan harga tersebut diakuinya karena pada Desember lalu terdapat perayaan hari raya dan tahun baru yang meningkatkan konsumsi masyarakat.

    Dia menegaskan, berapa pun permintaan operasi pasar beras medium ini pihaknya siap mendistribusikan. Artinya, permintaan tersebut tidak dibatasi kuantitasnya. Pada tahap pertama Januari 2018 ini, Bulog Divre Jabar akan menggelontorkan beras medium untuk operasi pasar sekitar 48 ribu ton.

    Dari informasi yang dihimpun, Kementerian Perdagangan rencananya akan mengimpor 500.000 ton beras khusus untuk memperkuat stok. Tujuannya, menekan harga beras di tingkat konsumen.

    "Beras itu dari berbagai negara, yaitu Vietnam dan Thailand," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam jumpa pers usai rapat bersama distributor dan asosiasi pedagangan ritel di Kementerian Perdagangan, Kamis (11/1) malam.

    Menurut Enggartiasto, impor akan dapat dilakukan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) dan mitra agar pemerintah bisa melakukan pengendalian.

    Dia juga memastikan akhir Januari pasokan beras impor akan mulai masuk sehingga dapat mengisi kekosongan hingga musim panen pada bulan Februari dan Maret mendatang.

    "Akhir bulan (Januari), masuk beras impornya. Kita siapkan pasokan beras impornya, kita isi sehingga Februari (harga) sudah bisa normal kembali," ujarnya.

    Menurut dia, sekarang ini harga beras medium sudah mulai terkendali karena tidak ada lagi lonjakan harga. Kendati demikian, harga beras di pasaran belum stabil sesuai dengan ketentuan harga eceran tertinggi.

    Adapun kategori beras khusus yang akan diimpor pemerintah, lanjut Enggar, adalah jenis beras khusus yang tidak ditanam di dalam negeri. Ia pun memastikan beras yang masuk kategori IR-64 bukanlah beras khusus yang akan diimpor.

    Pemerintah mengklaim akan membeli beras kategori khusus itu dengan harga berapa pun namun akan tetap dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) beras medium, yakni Rp9.450,00 per kilogram.

    "Jenis berasnya sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01 Tahun 2018, itu kategori beras khusus yang kami bisa masukkan langsung. Harganya kita enggak peduli berapa tetapi saya jual harga medium," katanya.

    Enggar menuturkan, masalah melonjaknya harga beras, terutama beras kualitas medium, sebaiknya tidak perlu dipertentangkan penyebabnya berada di hulu atau hilir. Menurut dia, saat ini yang terpenting bukanlah menggali penyebabnya, melainkan memenuhi kebutuhan beras untuk rakyat. [jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT