• 2018 Raksasa E-Commerce China Kian Merajai Pasar Indonesia

    Oleh : Dini17 Januari 2018 19:15
    INILAH, Bandung - Pada tahun ini, medan pertempuran bisnis e-commerce di tanah air diramalkan semakin sengit. Bahkan dalam 2 tahun ke depan, persaingan usaha berplatform digital akan didominasi raksasa investor asal China, Grup Alibaba dan Tencet yang menggelontorkan dana hingga miliaran dollar Amerika.

    "Peta lanskap bisnis e commerce di Indonesia pada akhirnya akan menjadi rebutan investor raksasa dari China. Mereka akan menjadi pemain besar yang mendanai beberapa situs belanja ternama. Sementara pemain lokal, diperkirakan akan mengikuti dari urutan bawah," ujar Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, Dudi Sudrajat Abdurachim, dalam
    Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) Jabar, di Menara Bank BJB Bandung, Rabu (17/1/2018).

    Melihat perkembangan yang begitu cepat, Dudi juga mengajak para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Jawa Barat untuk segera bertransformasi bisnis ke ranah digital. Menurutnya, serbuan imvestor asing ini akan bergerak semakin masif sehingga para pebisnis lokal harus mencari celah tepat agar tak tergerus kompetitor besar.

    Dijelaskannya, saat ini saham Alibaba yang dimiliki China, mengusai 90 % saham lazada dan sebagian kecil tokopedia. Sementara e commerce lokal seperti shoppe dan blibli menempati uritan setelahnya. Dengan adanya dominasi ini, Dudi mengajak pars pelaku UKM untuk lebih serius menggarap pasar digital.

    "Raksasa e-commerce China menjadi unicorn di tanah air. Para pelaku UKM lokal sebagai tuan rumah, jangan hanya menjadi penonton dari pertempuran investor asing ini. Kita semua harus memulai strategi go online," tegas Dudi.

    Ia mengemukakan, 2017 menjadi titik tolak melesatnya misi bisnis Alibaba dan Tencent di Indonesia. Seiring waktu, gross market value (GMV) kedunya terus meroket dengan semakin tersohornyanya startup Tokopedia, Gojek serta Traveloka. Bahkan, saat ini Gojek menjadi kuda hitam dari usaha digital di dalam negeri dengan pertumbuhan mencapai 80 % di tahun lalu.

    Lebih lanjut Dudi mengungkapkan, sulitnya melawan pesaing China karena mereka sudah lebih advance dari berbagai aspek pendukung. Tak hanya suntikan finansial yang bernilai fantastis, secara teknologi, jaringan serta pengolahan bigdata juga jauh lebih mutakhir.

    Di tempat yang sama, Ketua Ipemi Jabar, Diah Ivoniarty menambahkan, pelaku UKM lokal sudah terdesak untuk memperkuat bisnis ke platform online. Digitalisasi ini juga sedianya diikuti dengan diferensiasi produk untuk menarik minat pasar.

    "Perubahan zaman tidak bisa ditawar lagi. Para pelaku UKM lokal harus mengejar ketertinggalan dengan beradaptasi di jalur online. Kita harus go online untuk menjaga kesinambungan usaha dan menjawab persaingan," ungkap Diah.

    Seperti yang diprediksi banyak pihak, Diah juga merasakan pertumbuhan transaksi digital volumenya semakin melesat. Meski begitu, ia juga tak memungkiri bisnis konvensional nilainya masih tinggi di Jabar.

    "Meski yang konvensional masih besar, kita harus segera go online. Peralihan ke sektor digital ini juga wajib dibarengi dengan peningkatan kualitas produk," katanya

    Menurut catatan, e-commerce di Indonesia mengalami pertumbuhan hingga 39,6% per tahun. Pada 2018, nilai transaksi diprediksi akan mencapai Rp 561,8 triliun. Bahkan pada 2020, jumlahnya menggurita hingga Rp 1.500 triliun. [jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT