• Headline

    Rabobank Fokus Pembiayaan Sektor Pangan dan Agribisnis

    Oleh : Doni Ramdhani22 Januari 2018 20:00
    INILAH, Bandung - Rabobank Indonesia fokus memberikan pembiayaan pada industri pangan dna agribisnis. Pada 2017 lalu, transaction banking yang dibukukan mencapai Rp11 triliun.

    "Di Indonesia, dari total aset Rp11 triliun itu 66% di antaranya untuk portofolio agro & food. Kita memang fokus ke uang bergerak. Pada 2018 ini, targetnya total kredit kita akan tumbuh mencapai Rp14 triliun," kata Direktur Utama Rabobank Indonesia Jos Luhukay saat peresmian kantor cabang Bandung RE Martadinata, Senin (22/1).

    Menurutnya, sektor ini menjadi andalan pihaknya karena Rabobank memiliki keahlian dan jaringan di sektor tersebut. Sektor pangan dan agribisnis diakuinya memberikan peluang yang relatif besar bagi pihaknya. Pihaknya siap bekontribusi untuk mengembangkan sektor pangan dan agribisnis dengan menyediakan akses dana, pengetahuan, dan jaringan Rabobank di 40 negara.

    "Potensi kredit sektor pangan dan agribisnis pada 2016 lalu sekitar Rp359 triliun. Dan tiap tahun, sektor ini terus tumbuh dan pesat. Ini pun seiring dengan program ketahanan pangan pemerintah sekarang yang tertuang dalam Nawacita," jelasnya.

    Dia mengklaim, Rabobank merupakan satu-satunya lembaga perbankan yang membiayai pusat riset sektor pangan dan agribisnis. Dalam waktu dekat, pihaknya memiliki gagasar baru untuk bisnis yakni konsep integrated farming. Ini akan dilakukan pada kuartal II 2018 mendatang.

    "Rabobank Indonesia dapat mendanai seluruh rantai pasok pangan dan agribisnis karena memiliki perbankan korporasi yang melayani perusahaan besar. Ada perbankan bisnis yang melayani perusahaan kecil dan menengah, dan memberikan akses dana kepada petani dan peternak yang menjadi anggota koperasi," tuturnya.

    Sejauh ini, pihaknya bisa menekan angka kresdit bermasalah (NPL) hingga di bawah 1%. Ini dilakukan dengan strategi mumpuni. Rabobank hanya memberikan kredit dengan basis community banking. Artinya, kredit tersebut disalurkan tidak ke individu. Strategi dengan pendekatan kluster ini mampu membuat kredit yang disalurkan tidak macet di tengah jalan.

    Dia mencontohkan, pada rantai pasok sapi pihaknya mampu menyediakan akses dana untuk produksi pakan sapi, bibit sapi, hingga penggemukan sapi. Pasar atau offtaker seperti pabrik daging sapi olahan hingga distributor yang memasok daging sapi ke pasar modern pun bisa dijangkau. Hal ini bisa dilakukan karena pihaknya memiliki akses untuk pengetahuan mengenai pangan dan agribisnis yang dihimpun selama 120 tahun oleh Rabobank Group.

    Sebagai lembaga perbankan, pihaknya pun memberikan layanan trade financing, cash management, dan internet banking yang memudahkan pemilik usaha. Layanan ini dibutuhkan untuk mengelola arus kas, membayar gaji karyawan, membayar supplier, hingga melakukan kegiatan ekspor impor yang berkaitan dengan usahanya.

    "Tahun ini, kita akan beklerja sama dengan salah satu e-commerce untuk digitalisasi pembayaran melalui digital banking," imbuhnya.

    Untuk ekspansi bisnis, Jos mengaku pihaknya akan bekerjasama dengan sejumlah bank perkreditan rakyat (BPR), bank pembangunan daerah (BPD), dan koperasi di daerah setempat. Dengan kata lain, pihaknya tidak akan membuka kantor cabang lagi di daerah lain. Pihaknya mempertahankan 34 kantor cabang yang tersebar di Indonesia.

    Pimpinan Wilayah Rabobank Indonesia Lie Chih Ing mengaku, Bandung dan Jabar menyimpan potensi bisnis yang relatif tinggi. Menurutnya, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan menempati urutan ketiga dalam kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) Jabar sebesar 8,9%. Industri pengolahan yang menyumbangkan 42,49% merupakan kontributor PDRB terbesar di mana industri pengolahan makanan merupakan salah satu bagian penting di dalamnya.

    "Dari total kredit yang disalurkan, Jabar yang terdiri dari Bandung, Karawang, dan Cirebon terhitung sebesar Rp750 miliar. Khusus untuk Bandung, angkanya sebesar Rp500 miliar," ucap Lie.

    Sementara itu, Kepala Kantor Regional 2 Jabar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarwono mengingatkan pada 2017 lalu kinerja industri keuangan relatif baik. Namun, hal yang menjadi pekerjaan rumah industri jasa keuangan yakni terkait pertumbuhan kredit yang relatif rendah.

    "Pada 2017, sebenarnya target pertumbuhan kredit yang ditentukan sebesar 10-11%. Namun, realisasinya hanya 8,35%," sebut Sarwono di tempat yang sama.

    Dia mengharapkan, dalam mengucurkan kreditnya Rabobank dimohon menggunakan pendekatan kluster yang tidak individual. Selain itu, dia pun menginginkan kredit yang disalurkan itu ke tangan debitur baru. Lembaga perbankan pun sebaiknya memikirkan pasar atau pembeli dari setiap produk yang dihasilkan para debitur.

    "Jangan sampai seperti KUR (kredit usaha rakyat) yang terealisasi 95% namun tidak tepat sasaran. Apalagi, KUR itu 50% di antaranya dinikmati debitur lama. Padahal, KUR itu untuk menyisir debitur baru," jelasnya.[jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT