• Headline

    Pertengahan Tahun, Pindad Lakukan Sertifikasi Medium Tank

    Oleh : Doni Ramdhani17 April 2018 22:20
    INILAH, Bandung - PT Pindad terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas untuk kemandirian alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia. Saat ini, perusahaan pelat merah ini mengembangkan produk medium tank.

    Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad Ade Bagdja mengatakan, pengembangan medium tank itu merupakan inovasi yang dilakukan pihaknya setiap saat.

    "Untuk produk medium tank ini, kita melanjutkan proses sertifikasi. Tahapan ini merupakan syarat utama sebelum diproduksi massal. Pertengahan tahun ini, sertifikasi ini akan dilakukan," kata Ade saat press gathering Peringatan HUT ke-35 Pindad, Selasa (16/4).

    Menurutnya, jika uji sertifikasi tersebut mulus maka diharapkan pada 2019 mendatang batch produksi pertama akan dikirim. Kemungkinan besar produk ini untuk memenuhi pesanan TNI. Ade menyebutkan, produk medium tank ini merupakan bentuk sinergi nasional dan internasional. Pasalnya, pengembangannya melibatkan Turki.

    Sejauh ini, dia menyebutkan produk ini belum ada pesanan. Namun, sejumlah negara melirik dan menaruh ketertarikan terhadap produk ini. Setidaknya, dia mengaku ada sepuluh negara yang melirik. Mereka merupakan negara Asean dan non-Asia. Tak seperti produk kebanyakan, tender kendaraan tempur dan senjata ini melalui proses yang tidak sebentar.

    "Untuk medium tank ini, pasar kebanyakan melihat sisi desain. Namun, performance kendaraan pun menjadi perhatian. Bebrapa waktu lalu, kita memperlihatkan performance di Cilegon," ujarnya seraya menyebutkan medium tank ini head-to-head dengan produk Korea Selatan dan negara di kawasan Eropa Barat.

    Pada akhir tahun lalu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan satu unit medium tank rampung dikerjakan Pindad. Untuk itu, kendaraan tempur menggunakan beroda rantai atau trackling ini siap dipamerkan pada parade HUT ke-72 TNI di Cilegon.

    "Untuk medium tank ini satu sudah beres. Nantinya akan diproduksi secara massal di sini (Pindad)," kata Ryamizard saat meninjau kesiapan turret medium tank di PT Pindad, beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, medium tank pertama buatan dalam negeri relatif cocok dengan medan di Tanah Air. Dengan bobot 37 ton, tank ini bisa melewati jembatan di Sumatera dan Jawa yang mayoritas hanya bisa menahan beban seberat 40 ton. Dia menyebutkan, tank Leopard relatif sulit dijalankan karena bobotnya mencapai 60 ton.

    Dia menyebutkan, dari kebutuhan sebanyak 500 unit itu pihaknya akan memesan sebanyak 100 unit. Untuk pendanaan, Ryamizard mengaku dana sebesar Rp100 triliun sudah dialokasikan pada APBN lima tahunan.

    "Kebutuhan kita sebenarnya banyak. Pokoknya, tank lama itu diganti semua. Tapi, untuk tahap awal kita memesan 100 unit dulu," ucapnya.

    Medium tank ini merupakan hasil pengembangan bersama FNSS Turki. Saat ini, kesiapan progress medium tank beserta turret 105 mm ini dilakukan bersama CMI Defense Belgia. Proyek medium tank merupakan program negara yang termasuk dalam tujuh pengembangan strategis Kementerian Pertahanan.

    Sementara itu, Dirut Pindad Abraham Mose menyebutkan pihaknya segera membuat prototipe kedua medium tank ini. Namun, itu dilakukan usai prototipe pertama menjalani blasting test. Pengujian ini dilakukan usai prototipe dipamerkan. Nantinya, medium tank ini akan diberi nama dalam bahasa Indonesia.

    Pada kontrak pembuatan prototipe medium tank ini tertera Rp300 miliar. Indonesia dan Turki masing-masing memiliki share sebesar Rp150 miliar. Artinya, ke depan jika medium tank ini diproduksi massal maka Turki tidak bisa mengklaim medium tank ini hanya buatannya.

    Abraham menyebutkan, pada 2018 mendatang pihaknya siap menjual produk medium tank ini ke pasaran. Namun, hingga saat ini belum ada banderol resmi berapa tank menengah ini dijual. Dia hanya memberi bocoran, harga jual medium tank ini lebih murah dibandingkan dengan harga tank buatan Korea.

    Meski belum ada kepastian jumlah tank yang akan dipesan TNI, dia mengaku kapasitas produksi PT Pindad untuk memproduksi medium tank ini antara 15-20 unit per tahun. Khusus untuk TNI, pihaknya akan melakukan penyesuaian spesifikasi sesuai kebutuhan TNI. Tank menengah ini diakuinya relatif cocok untuk batalyon infanteri dan kavaleri.

    Secara umum, spesifikasi teknis medium tank ini berbobot maksimal 35 ton dengan turet 105 mm. Tank ini dilengkapi dengan teknologi terbaru seperti battlefield management system, alat komunikasi modern, alat self awareness, dan proteksi terhadap ancaman level 5 NATO. Turret memiliki mekanisme autoloader dengan 12 butir peluru di turet dan 30 butir peluru cadangan di dalam pool.

    Medium tank ini mempunyai power 20 HP/ton, dengan kecepatan 70 km/jam. Kendaraan tempuir ini menampung tiga orang kru yang terdiri dari komandan, penembak, dan pengemudi. Tank ini juga memiliki kemampuan tangguh seperti antiranjau yang didesain sesuai permintaan dari user. Kehadiran medium tank pertama buatan dalam negeri ini menunjukan kemampuan PT Pindad yang terus meningkat dan mampu bersaing dengan industri pertahanan luar negeri.[jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT