• Dunia Pendidikan Fondasi Revolusi Industri 4.0

    Oleh : Dini02 Mei 2018 18:55
    INILAH, Bandung - Dunia pendidikan tinggi di Indonesia diharapkan menjadi fondasi ekosistem nasional dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Sesuai data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), sebanyak 57% jenis pekerjaan akan hilang, dan menumbuhkan peluang baru.

    Wakil Dekan III Fakultas Pendidikan Ekonomi Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia, Lili Adi Wibowo mengatakan, instititusi pendidikan dituntut lebih cepat menangkap berbagai perubahan di ranah industri. Di sisi lain pemerintah juga harus terus mendorong
    perguruan tinggi untuk memperluas akses terhadap Internet of Things (IoT) yang menjadi tulang punggung Revolusi Industri 4.0.

    "Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, dunia akademik harus mengikuti perubahan yang sangat cepat ini dengan berbagai terobosan. Salahsatu yang paling ditekankan, yakni mencetak lulusan yang memiliki mindset wirausaha, bukan pencari kerja," ujar Lili saat diwawancarai di Bandung, Rabu (2/5/2018).

    Ia menyebutkan, perubahan yang terjadi di industri perlahan akan menggerus berbagai bidang pekerjaan yang saat ini dikerjakan manusia. Untuk meminimalisir membludaknya angka pengangguran, pihaknya terus mendorong mahasiswa untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

    Dijelaskannya,pihaknya juga telah mengubah skema pembelajaran ke arah enterpreneurship sejak dari semester awal perkuliahan. Untuk membangun ekosistem ini, akademik juga harus lebih intensif mendekatkan mahasiswa dengan para pelaku usaha yang bergelut di dunia wirausaha.

    "Dunia pendidikan harus mampu mengantisipasi perubahan ini dengan terus mendekatkan mahasiswa dengan dunia wirausaha, bahkan mata kuliah wirausaha itu harus diberikan dari awal. Setidaknya 25% dari lulusan harus ditargetkan sebagai enterpreneur agar mereka tak miskin ide saat kehilangan kesempatan pekerjaan di masa mendatang," ungkap Lili.

    Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Ferry Sofwan Arief mengemukakan, peradaban perkembangan internt of things akan menciptakan 3.7 juta pekerjaan baru dalam 7 tahun mendatang. Dominasi dari model pekerjaan baru tersebut berada di sektor jasa. Bahkan ke depan, pergeseran terbesar akan terjadi di sektor manufaktur yang beralih sektor jasa.

    "Isu revolusi industri 4.0 ini menjadi tantangan tersendiri di ranah ketenagakerjaan. Namun ekonomi berbasis teknologi akan semakin meluas dan menjadi pilihan generasi milenial untuk mengembangkan skillnya secara online bahkan e-commerce," tutur Ferry.

    Disebutkannya, era ini identik dengan artificial intelligence, era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial. Dampak terbesarnya memang terjadi di sektor ekonomi, industri, pemerintahan dan politik.

    "Namun dapat dipastikan, teknologi digital tidak akan mematikan sektor konvensional karena keduanya akan saling melengkapi. ”Misalnya untuk pemenuhan pekerja di sektor manufaktur yang sistem kerjanya masih konvensional. Bahkan industri ini di Jabar 60% menjadi penopang nasional,” tandasnya.

    Ferry juga mengungkapkan, penetrasi internet di Indonesia cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan urutan 4 sebagai negara tertinggi dalam pemanfaatan teknologi IT dan sosial media. Dengan pemanfaatan platform digital yang kian masif, Disnakertrans akan terus mengawal masyarakat untuk memfungsikannya ke arah positif.

    ”Kesempatan kerja atau peluang usaha yang potensial di saat ini terkadang tak sesyaindengan latarbelakang pendidikan. Tak hanya bermodalkan ijazah, kini masyarakat juga dapat menggunakan Whatsapp, instragram, facebook dan sejenisnya untuk aktivitas yang bernilai ekonomi," tukasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT