• Indigo Terus Bangun Ekosistem Start Up Tanah Air

    Oleh : Sirojul Muttaqien13 Mei 2018 19:31
    fotografer: Ist
    INILAH, Bandung - Managing Director Indigo.id Ery Punta Hendraswara mengatakan, pihaknya saat ini telah membina 102 start up dari mulai berdiri sejak 2009 hingga sekarang dan akan terus membangun ekosistem tersebut.

    "Indigo perlu hadir mendukung ekosistem di Indonesia guna terciptanya digital-digital startup yang baru. Di Asia Tenggara, dari sekian banyak unicorn , ternyata unicorn terbanyak itu adanya dari Indonesia," katanya, belum lama ini.

    Menurut dia, target itu sangat mungkin tercapai. Sebab, Indigo.id sebagai bagian Telkom Grup, memiliki akses pasar yang sangat-sangat besar namun belum maksimal digunakan. Antara lain Telkom memiliki 3 juta pelanggan Indihome, 100 juta lebih untuk pelanggan seluler, serta pasar operasi hingga 10 negara.

    "Jadi kita harapkan nanti temen-temen selain mendapatkan value dari produknya, juga dapat value dari market. Kita harapkan nanti ke depan semua yang sudah dapat pendanaan diikuti yang lain, dan seterusnya bisa melakukan IPO," tuturnya.

    Sementara itu, startup digital di tanah air seharusnya fokus kepada kustomer dan pelayanan, bukan semata mengejar pendanaan, sehingga akan terus tercipta banyak unicorn (startup dengan valuasi pasar 1 miliar dollar) di tanah air.

    Demikian dikemukakan CEO Bukalapak Achmad Zaky saat diskusi dengan para alumni inkubator Indigo.id bertajuk "Indigo Startup Gathering: The Next Unicorn" di Jakarta, belum lama ini.

    "Funding itu penting tapi bukan yang terpenting. Paling penting adalah fokus ke kustomer, bagaimana melayani mereka sebaik mungkin sekaligus menciptakan kepercayaan stakeholder utama kita ke startup kita," katanya.

    Dia mencontohkan kegalauan yang pernah dialami Bukalapak pada 2012 lalu, ketika mendengar ada pelaku ecommerce asal Jerman akan masuk ke Indonesia dengan membawa dana sekitar Rp3 triliun. Informasi yang disiarkan banyak media massa kala itu cukup membuat gentar Zaky dan kawan-kawan, karena persepsi terbangun selalu yang punya duit berlebih akan memenangkan persaingan.

    "Saya sebagai leader coba alihkan perhatian agar tim tak demotivasi, salah satunya mengajak mereka lebih giat bekerja. Lebih sering ke bawah temui merchant UKM, karena merchant juga ternyata senang sekali kita datangi," sambungnya.

    Di sisi lain, karyawan pun terus diberikan gambaran tentang misi dan visi perusahaan, termasuk di dalamnya memberikan pendelegasian proses bisnis, sehingga mental tim pulih kembali.

    Zaky menyebutkan, dirinya telah membiasakan diri jika keputusan tak lagi tersentralisasi. Saat masih puluhan karyawan, semua sendiri namun berubah setelah karyawan lebih dari 50 orang dan akhirnya kini 2000 orang.

    "Sekarang keputusan saya distribusikan. Lalu kalau dari keputusan yang ada, delapan gagal dan dua berhasil, itu bagus. Justru setelah dengan cara ini, maka pertumbuhan Bukalapak benar-benar bagus," sambungnya. (jul)

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT