• Headline

    BI Dinilai Lamban Tangani Gejolak Rupiah

    Oleh : Dini13 Mei 2018 21:40
    INILAH, Bandung - Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan 7 Day Reverse Repo Rate untuk kestabilan makroekonomi, dianggap sejumlah pihak sebagai keputusan terlambat. Pasalnya, kini Dolar AS sudah telanjur menembus ke angka Rp14.000, akibat dari adanya net capital outlow.

    Di sisi lain, Rupiah juga kian terdepresiasi dengan rencana bank sentral AS yang akan menaikan suku bunga sebanyak 4 kali di 2018. Tak pelak, kebijakan ini mendorong dana asing terus keluar dan sulit dibendung.

    "Saya kira BI sudah terlambat menetapkan 7 day reverse revo rate karena momentnya sudah lewat. Seharuanya pemerintah memanfaatkan momentum 2 tahun terakhir untuk lebih gencar menurunkan tingkat bunga agar sektor riil bisa tumbuh positif," ujar pakar ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi saat diwawancarai di Bandung, Minggu (13/5/2018).

    Menurutnya, banyak faktor yang membuat Rupiah kian tergerus. Selain tekanan dari tingkat global, faktor internal juga memberikan andil buruk bagi nilai mata uang di dalam negeri. Salah satunya neraca transaksi berjalan Indonesia yang masih defisit.

    Selama ini, elemen neraca transaksi berjalan nyaris tak pernah dibahas risikonya oleh pemerintah. Ironisnya, imbas dari transaksi berjalan yang defisit m berpotensi melemahkan rupiah.

    Sesuai dengan data BI, defisit transaksi berjalan terus naik jumlahnya pada 2017. Defisit transaksi berjalan kuartal I/2017 tercatat 2,4 miliar dolar AS atau 0,98% dari PDB. Pada kuartal II, terus naik menjadi 5 miliar dolar AS atau setara 1,96% dari PDB.

    "Saat ini kondisi sudah seperti buah simalakama. Saya melihat suku bunga di dalam negeri juga tetap tinggi dan sektor riil kurang berkembang karena perekonomian tersandra karena relatif tingginya dominasi asing di pasar modal dan kepemilikan surat utang kita," tambahnya.

    Ia melanjutkan, BI dinilai lambat membuat keputusan karena saat ini surat utang di dalam negeri tidak diminati. Tak hanya itu saja, fluktuasi harga minyak dunia juga akan semakin menekan kondisi ekonomi di tanah air.

    "Idealnya menurunkan suku bunga ketika dulu harga minyak stabil, kurs relatif stabil dan surat utang pemerintah masih diminati. Saat ini aliran dana asing terus keluar. Net sales di Bursa Efek Indonesia sejak januari 2018 sudah di atas Rp40 triliun," ungkap Acu.

    Menurut Acu, ada beberapa sektor yang perlahan terpukul dengan tertekannya Rupiah. Di antaranya bidang energi dan listrik yang sebagian besar masih mengandalkan impor. Demikian juga dengan pembangkit listrik yang masih menggunakan BBM.

    "Untuk persoalan energi dan listrik, saya kira langkah efisiensi PLN dan Pertamina harus, dari berbagai hal termasuk mengembangkan sumber- sumber pasokan baru, alternatif dan tentunya dengan biaya yangs lebih murah;" ucapnya.

    Tak kalah berat, terang Acuviarta sektor yang beban impornya cukup tinggi juga akan memberikan dampak bagi industri mesin dan kendaraan, alat listrik dan TPT. Kendati untuk TPT juga terbantu ekspor, jelas Acu tetap saja karena harga barang TPT menjadi lebih murah dalam dolar AS.

    "Saat ini industri yang diuntungkan ada pada bidang konstruksi, makan minum dan jasa. Karena pada dasarnya kandungan impornya. Namun dalam kondisi ini mereka memanfaatkan momentum, dan biasanya ikut latah menaikan harga juga," tukas Acu.


    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT