• Pengembangan Pariwisata Jabar Butuh Keterlibatan Akademisi

    Oleh : Dadi Haryadi16 Maret 2016 18:50
    ilustrasi
    INILAH, Bandung - Pertumbuhan sektor pariwisata di Jawa Barat belum optimal. Ini karena keterlibatan akdemisi yang masih minim.

    Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung Anang Sutono mengatakan, banyak kebijakan pemerintah tidak didahului dengan penelitian dari akademisi. Akibatnya, kebijakan yang dikeluarkan ternyata malah kurang mendukung upaya pengembangan misalnya di sektor pariwisata.

    "Terkadang dari sisi konsep sudah oke tapi problemnya di kebijakan. Contohnya, kawasan Citatah (Kabupaten Bandung Barat) yang sudah rusak karena (pemda) memberikan kemudahan perizinan dengan mengatasnamakan PAD," ujar Anang kepada wartawan seusai pembukaan Workshop ATF 2016 di STP Bandung, Rabu (16/3/2016).

    Selain itu, dia juga mengkritisi kalangan akdemisi yang melahirkan banyak penelitian namun ternyata tidak terpakai untuk menyelesaikan masalah di sektor pariwisata. Ini karena penelitian yang sudah dibuat hanya diseminarkan di kalangan terbatas, bukannya ke publik.

    "Jika pariwisatanya maju maka itu tandanya reseach yang dibuat mampu memberikan kontribusi nyata," katanya.

    Melihat kondisi tersebut, pihaknya berharap pemerintah banyak melibatkan kalangan akademisi agar kebijakan yang dibuat berjalan optimal sehingga benar-benar mendorong sektor pariwisata.

    Menurutnya, Jabar punya banyak destinasi wisata yang menjanjikan. Di antaranya Geopark Ciletuh yang ditargetkan mendapat pengakuan dari UNESCO menjadi Global Geopark.

    "Kami sudah kirim tim ke sana (Ciletuh), identifikasi kekuatannya karena ini tergolong minat khusus, wisata gua dan adventure," ucapnya.

    Selain Geopark Ciletuh, pihaknya juga ikut memberikan masukan dalam pengembangan pariwisata di Kota Cirebon. Meski daerah tersebut banyak dikunjungi turis asing yang datang, namun masih mengandalkan kemampuan tour guide.

    Salah satu yang dilakukan adalah perbaikan dalam penyajian kuliner lokal. Di antaranya Empal Gentong agar tampil dengan standar internasional.

    "Presentasi kulinernya harus mendapat sentuhan internasional agar menarik, sehingga turis asing mau mencoba," bebernya.

    Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengaku, Jabar mesti banyak belajar dari Bali yang ingin industri budaya dan pariwisatanya berjalan optimal.

    "Banyak hal yang bisa kami pelajari dari pariwisata Bali. Selain pengelolaan industri, kami lihat infrastruktur wisatanya memadai karena diuntungkan geografis obyek wisata yang berdekatan," katanya.

    Menurutnya, pantai di Bali yang saling berdekatans memudahkan pembangunan pembangunan infrastruktur jalan. Selain itu akses transportasi udara juga berjalan lancar dalam atau pun luar negeri karena sudah punya bandara internasional. Adapun Jabar baru punya bandara internasional paling cepat akhir 2017 atau awal 2018.

    Kondisi tersebut membuat pantai di Jabar bagian selatan kurang terjamah wisatawan asing. Padahal, kontur jalan di dekat pantai Jabar Selatan sangat menantang dan menarik untuk dilalui wisatawan.

    "430 km jalan di Jabar Selatan sudah kami bangun dengan kemantapan jalan sangat baik," katanya. [hus]

    TAG :


    Berita TERKAIT