• Headline

    Kebinekaan

    Oleh : Ahmad Heryawan19 Desember 2016 07:00
    TIDAK susah sebenarnya menyatukan keberagaman dalam persatuan nasional. Jika tidak percaya, menoleh dan belajarlah ke lapangan hijau.

    Di manakah Anda berada pada Sabtu, 17 Desember lalu, sekitar pukul 19.00-21.00 WIB? Dimanapun itu, bisa jadi, saat itu mata Anda tak lepas dari layar televisi. Kalaupun tidak, boleh jadi pula, sebagian pikiran akan membayangkan apa yang terjadi di layar tersebut.

    Saat itu, seluruh mata, hati, dan pikiran hampir seluruh masyarakat Indonesia, rasanya tercurah ke peristiwa di Stadion Rajamanggala, Bangkok itu. Pada periode itu, selama 90 menit, putra-putra terbaik bangsa berjuang meraih gelar juara pada final Piala AFF.

    Tim itu betul-betul menggambarkan kebinekaan, Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana yang dicetuskan bapak-bapak bangsa, juga oleh anak-anak bangsa saat sekarang. Mereka berasal dari berbagai klub. Mereka putra beragam suku, beragam ras, beragam agama, dan berbagai

    golongan di Tanah Air. Bahkan, ada pula pemain yang lahir di luar Nusantara ini. Tapi, semuanya berjuang untuk satu nama dan entitas: Indonesia.

    Mereka adalah 100% Indonesia ketika mulai dipanggil ke tim nasional. Mereka tak memperhitungkan asal-usulnya saat bersiap menghadapi turnamen. Mereka betul-betul menyatu dalam keberagaman ketika berjuang di lapangan hijau.

    Jadi, betulkah kebinekaan kita sungguh terancam seperti yang tergambar dalam berbagai kabar berita akhir-akhir ini? Saya kurang begitu percaya. Saya percaya tidak seorang pun di Tanah Persada ini tak merasakan keindonesiaan. Kalau ada, maka saya yakin, mereka punya agenda-agenda terselubung yang sesungguhnya tidak membawa kebaikan untuk keindonesiaan.

    Bahwa kadar keindonesiaan pada orang-perorang memiliki perbedaan, itu masuk akal. Untuk mengembalikannya ke kadar yang tinggi pun, di atas kertas, bukan pekerjaan yang berat bagi pemerintah. Berpijaklah pada cita-cita berdirinya republik ini. Salah satunya adalah bagaimana menciptakan seluruh warga betul-betul merasakan keindonesiaannya. Hukum yang berkeadilan, permusyawaratan yang sungguh-sungguh, menghilangkan dikotomi dan sekat-sekat, dan mengupayakan kesejahteraan bagi semua warga.

    Teorinya sangat mendasar. Sudah kita pelajari bahkan ketika baru setahun-dua menjalani dunia pendidikan di tingkat dasar sekalipun.

    Untuk memupuknya, maka yang perlu dihadirkan adalah hal-hal yang membanggakan anak negeri ini. Salah satunya adalah menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan di tingkat persaingan internasional. Hanya dengan begitu, perasaan kebangsaan kita akan tergugah kembali kepada tingkat yang tinggi.

    Olahraga termasuk salah satu pemicu kebangkitan rasa kebangsaan yang tinggi. Dalam konteks lokal, perasaan kejawabaratan sedemikian tingginya ketika mampu meraih gelar juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX lalu, apalagi dilengkapi dengan kejayaan sepak bola.

    Dalam konteks nasional, hanya perjuangan dan prestasi-prestasi di bidang olahraga yang mampu membuat kita meneteskan air mata bangga di luar hal-hal yang berkaitan dengan emosional personal. Olahraga yang membuat Merah Putih kerap berkibar, Indonesia Raya kerap terdengar, di level internasional. Bukankah Merah Putih dan Indonesia Raya adalah perlambang kebinekaan kita?

    Ya, siapa yang tak meneteskan air mata haru dan bangga, ketika misalnya, Susi Susanti dan Alan Budikusuma dua kali mengibarkan Merah Putih dan memperdengarkan Indonesia Raya di Olimpiade Barcelona? Melihat Susi berlinang air mata setelah mengalahkan lawannya di final?

    Nurani kebangsaan siapa yang takkan tersentuh karena itu?

    Sejak pra-kemerdekaan, saya kira pemimpin-pemimpin kita sudah mengetahui betul betapa olahraga berperan penting dalam memupuk rasa kebangsaan. Kalau tidak, bagaimana mungkin organisasi seperti PSSI, usianya ternyata sudah lebih tua dari republik ini. Bagaimana Pekan Olahraga Nasional (PON) sudah digelar hanya tiga tahun setelah kita merdeka. Bagaimana Bung Karno mengeluarkan uang negara tak sedikit membangun Stadion Gelora Bung Karno dan menggelar Ganefo ketika kita terkucilkan dari pergaulan internasional.

    Pun Sabtu malam lalu itu, rasa kebangsaan kita kembali tergugah karena 11 pemain yang berada di lapangan, juga beberapa lain yang jadi cadangan, berjuang habis-habisan demi Merah Putih dan Indonesia Raya. Selain karena memang sudah rindu gelar juara, saya kira itulah bentuk kebangsaan yang setulus-tulusnya terlihat pada bangsa kita ini. Padahal, Piala AFF itu turnamen kecil.

    Dia turnamen tanpa kelanjutan. Tak ada cerita juara Piala AFF mewakili ASEAN ke Piala Asia, apalagi Piala Dunia, misalnya. Tapi, naluri kebangsaan kita betul-betul bangkit sepanjang sekitar 90 menit itu. Orang-orang melupakan sejenak aktivitas dan keruwetan selama 90 menit itu. Naluri kebangsaannya tergugah di rumah, kafe-kafe, ruangan-ruangan tertentu, bahkan di lapangan terbuka sekalipun, saat mata menatap layar televisi dan menyaksikan pemain berpeluh keringat agar Merah Putih dan Indonesia Raya berkibar.

    Maka, saya pun berpandangan, jika kita ingin memupuk rasa nasionalisme, kebangsaan, kebinekaan, salah satu cara terbaik. Seperti negara-negara lain membangun kebangsaannya di arena Olimpiade dan Piala Dunia, seperti kita â€"Jawa Baratâ€"yang memupuk kebangsaan terhadap daerah kita dengan kesuksesan di PON belum lama ini. (*)

    Tulisan Ahmad Heryawan (Kang AHER) Lainnya