• Headline

    Teladan

    Oleh : Ahmad Heryawan10 April 2017 07:00
    KEPEMIMPINAN bukanlah hanya kemampuan melakukan pengelolaan. Dia adalah juga pedoman dan keteladanan.

    Sekali waktu, Rasulullah Saw pulang ke rumah dalam keadaan lapar. Bertanyalah beliau kepada istrinya, Aisyah, apakah ada sepotong roti kering atau sebiji korma yang bisa dimakan.

    Ketika sang istri menjawab tidak ada, Rasulullah Muhammad Saw tak menunjukkan kegundahan. Beliau mengambil batu dan mengganjalkannya ke perutnya untuk menahan rasa lapar.

    Rasulullah bukanlah orang yang sangat berkekurangan harta. Tapi, dengan keikhlasan yang luar biasa, beliau lebih sering memberikan harta, juga makanan beliau, untuk orang yang lebih membutuhkannya.

    Jauh setelah era Rasulullah Saw, terlahir dan tertakdir seorang Mohammad Natsir. Sebagai pejabat di persada Indonesia yang baru merdeka, sulit masuk ke akal kita era sekarang, bagaimana dia tinggal laksana nomaden. Berpindah dari satu paviliun ke paviliun lainnya. Hidup menumpang, patut kita duga bukan menyewa. Hanya punya dua helai kemeja dengan jas yang bertambal sulam.

    Seangkatan dengan itu, tersebut pula Bung Hatta. Selain cerita tentang mimpinya membeli sepatu Bally yang tak kesampaian karena tabungannya tak cukup, dia juga melarang penggunaan mobil dinasnya untuk menjemput ibunya, Saleha, ke Sumedang, Jawa Barat. “Mobil itu bukan kepunyaanku. Mobil itu milik negara,” katanya kepada Hasjim Ning, keponakannya yang kaya seraya meminta pengusaha otomotif itu untuk menjemput ibunya menggunakan mobil Hasjim yang keponakannya itu.

    H Agus Salim, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, hingga polisi Hoegeng Iman Santoso, adalah potret pemimpin-pemimpin yang sangat bersahaja. Sebagian bukan karena tak punya, melainkan karena ingin memberikan teladan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Sebagai raja Yogyakarta, sulit rasanya melihat Sultan Hamengkubuwono mengenakan kaos kaki yang sobek sehingga terpaksa diikat pakai karet gelang saat menonton sebuah pertandingan sepak bola.

    Keteladanan adalah bagian penting dari sebuah kepemimpinan yang belakangan ini makin sulit kita dapatkan. Tidak jarang publik dipertontonkan pemimpin-pemimpin yang bermasalah dalam hal keteladanan ini.

    Alih-alih mendapatkan teladan, yang muncul adalah contoh-contoh yang kurang elok. Tak sedikit pemimpin dalam level apapun berurusan dengan penegak hukum karena menghadapi persoalan dengan tindakan hukumnya. Barangkali, ada yang terpeleset, artinya tanpa sadar tersangkut masalah hukum. Tapi, ada juga yang dengan kesengajaan melakukan pelanggaran-pelanggaran itu.

    Tentulah tidak ada nilai-nilai keteladanan itu yang didapat warga dari pemimpin bermasalah seperti itu. Padahal, dalam budaya daerah apapun di Tanah Air ini, keteladanan itu menjadi syarat penting bagi seorang pemimpin. Mereka disebut didulukan selangkah, ditinggikan seranting. Filosofinya adalah bisa menjadi cermin dan pedoman kebaikan bagi yang dipimpin.

    Kenapa terjadi perubahan seperti itu? Bisa jadi karena adanya perubahan paradigma kepemimpinan. Kepemimpinan, bagi sebagian orang, saat ini dimaknai sebagai kekuasaan. Karena itu, kepemimpinan kebanyakan harus direbut, bukan lagi diserahkan secara ikhlas oleh masyarakat yang dipimpin.

    Tidak jadi masalah jika perebutan kepemimpinan itu semata-mata dimaksudkan untuk kemasylahatan masyarakat. Tapi, bisa memunculkan masalah jika perebutan kepemimpinan itu semata-mata demi kekuasaan. Ada yang bilang kekuasaan itu manis, ibarat candu. Beda dengan kepemimpinan, dia kadang-kadang justru memunculkan sesuatu yang pahit di permukaan, tapi terasa sangat indah di dalamnya.

    Itulah sebabnya, dalam pemikiran saya, pemimpin itu adalah seorang yang sudah melewati kemampuan mengatur dan mengelola diri sendiri. Sebab, bagaimana mungkin menata kehidupan orang banyak jika mengelola diri sendiri "dengan segala macam tantangannya"belum bisa. Maka yang muncul kemudian adalah pertunjukan kekuasaan yang bisa saja hanya digunakan untuk sekelompok masyarakat, bukan pada sebagian besar masyarakat.

    Kemampuan menata dan mengatur diri sendiri bisa dalam bentuk fisik, otak, dan hati. Artinya, seseorang sebagai pemimpin itu sepatutnya memiliki kesehatan jasmani karena dibutuhkan untuk menyelenggarakan segala aktivitas kepemimpinannya, memiliki wawasan yang luas untuk menopang perkembangan dan kemajuan masyarakat yang dia pimpin, dan menata hati untuk mengasah kepekaan nurani.

    Jangan sekali-sekali berpikir bahwa jadi pemimpin itu enak dan nyaman sehingga perlu kesiapan fisik yang kuat. Sebagai pemimpin, seseorang harus menyiapkan dirinya kapanpun, dimanapun, untuk melayani masyarakat yang dia pimpin. Jam tugasnya tidak diatur dan tidak teratur. Itu sebabnya, kondisi fisik harus prima.

    Wawasan yang luas disertai dengan pikiran yang jernih akan membantu pemimpin menyiapkan kebijakan yang visioner. Dari sanalah seorang pemimpin menentukan ke arah mana masyarakat yang dia pimpin hendak dibawa.

    Yang tak kalah pentingnya adalah soal hati, soal kepekaan nurani, seperti yang digambarkan pada awal tulisan ini. Kepemimpinan adalah untuk menyatukan seluruh potensi masyarakat, bukan memilah dan membelahnya. Hanya dengan nurani yang peka terhadap segala persoalan masyarakat, semua itu bisa diatasi.

    Ya, mari kita berteladan kepada Raslulullah Saw dan Aisyah ra. Mari kita mencontoh kepada Natsir, Hatta, Agus Salim, Sultan HB IX, Jenderal Hoegeng, dan sebagainya. (*)