• Headline

    Gedung Kebudayaan Jabar Berbentuk Tumpeng

    Oleh : dea15 Mei 2017 21:48
    INILAH, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat akhirnya menentukan desain pembangunan Gedung Pusat Kebudayaan Jawa Barat yang sebelumnya sempat disayembarakan.

    Dari lima desain Pusat Seni dan Budaya Jawa Barat - West Java Art and Cultural Centre (WJACC) dipilih desain yang bertema Persembahan Bumi. Desain dengan bentuk kerucut tersebut mengalahkan empat desain lainnya, yaitu desain Menari di panggung alam, Riungan Awi, Saung parahyangan, dan Saung Taluh.

    Dengan munculnya satu pemenang sayembara desain tersebut, sebentar lagi warga Jawa Barat akan memiliki gedung kebudayaan dan kesenian yang berbentuk unik, yaitu menyerupai bentuk tumpeng.

    Rencananya bangunan tersebut akan dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Jalan Pahlawan Nomor 70, Kota Bandung. Gedung kesenian dan kebudayaan ini sekaligus akan menjadi lansekap baru di Jawa Barat.

    Nantinya, kompleks bangunan ini akan memiliki sebuah bangunan berbentuk kerucut berukuran besar dan tiga bangunan lainnya yang berbentuk kerucut berukuran lebih kecil, laiknya bentuk tumpeng.

    Ketiga kecucut kecil disatukan oleh bangunan persegi beratap miring, sehingga orang bisa berjalan di atas atap miring tetapi tidak curam tersebut.

    Bangunan kerucut besar pun akan diliputi oleh bangunan persegi. Semua rangkai bangunnya mengadopsi gaya moderen kontemporer dan terkesan sangat terbuka dengan menggunakan kaca-kaca berukuran besar.

    Uniknya, tanaman padi, kerikil, dan rumput, akan disusun melintang di atap-atap bangunan yang dapat dijelajahi pengunjung tersebut. Eco building atau bangunan ramah lingkungan menjadi konsep bangunan yang didesain konsultan arsitektur Labworks dari Jakarta.

    Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menuturkan, pembangunan bangunan pertujukan terbesar di Jabar ini akan segera dibuatkan Design Engineering Detail (DED) untuk selanjutnya dibangun tahun ini. Gedung ini akan dibuat dengan anggaran Rp 650 miliar.

    "Desain ini dinilai sebagai yang terbaik di antara lima desain lain. Secara teknis dan konstruksi dibahas juga oleh pakarnya. Bentuknya belum pernah ada," kata Demiz sapaan akrab Wagub saat ditemui seusai kegiatan puncak sayembara desain arsitektur gedung kesenian dan kebudayaan Jawa Barat di Gedung Sate, Senin (15/5/2017).

    Dia menjelaskan, proses pembangunan gedung berskala Internasional ini pun akan menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam penataan akustiknya. Pasalnya, katanya, belum pernah ada gedung pertunjukan dengan desain seperti demikian.

    Selain itu, pihaknya pun akan segera merencanakan lelang pembangunan hotel dan juga mall yang akan dibangun di area tersebut. Pusat komersial ini nantinya akan menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperuntukan bagi kegiatan kebudayaan disana.

    "Dan yang terpenting harus kita lakukan juga semacam beauty contest untuk komersial areanya, itu mall yang seperti apa, kalo hotel, hotel yang seperti apa, yang menjadi kesaruan dengan arsitektur tersebut, ini akan menjadi PAD untuk membiayai kegiatan ini, jangan sampai membebani APBD secara langsung,
    Bisa di komersilkan, tpi saya lihat kegiatan budaya ini harus disubsidi, nah subsidi itu didapat dari BOT ini," ungkapnya.

    Sementara itu, Primaldi Perdana (30) yang merupakan arsitek dari Labworks menjelaskan, bangunan ini mengambil filosofi dan representasi dari keadaan Jawa Barat sebagai daerah agraris, yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani. Karenanya, padi akan menghijaukan atap bangunan ini.

    "Dalam perayaan atau syukuran, bangsa Sunda sering membuat tumpeng. Makanan berbahan baku beras. Bentuk perayaan dan kondisi agraris Jawa Barat tersebut kami transformasikan menjadi bangunan berbentuk kontemporer ini," kata Primal yang merupakan alumnus ITB angkatan 2005 tersebut.

    Dengan desain bangunan berjudul Persembahan Bumi tersebut, diharapkan mampu dihidupkan dengan berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan Jawa barat.

    Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan sayembara yang diikuti oleh 110 Perserta dari berbagai daerah. Sayembara yang dilakukan sejak 20 Maret 2017 hingga 15 Mei 2017 menghasilkan lima nama.

    Akhirnya pada 15 Mei dilakukan seleksi akhir yang dilakukan oleh pihaknya yang bekerjasama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) menghasilkan juara sayembara yang akan menukangi pembangunan pusat kebudayaan terbesar di Jabar ini. [jek]